DENPASAR, Theeast.co.id – Ketua Satgas Penanggulangan Covid19 Bali Dewa Made Indra meminta kepada seluruh masyarakat Bali agar tidak menolak para pekerja migran asal Bali. Ia juga meminta agar warga Bali tidak menciptakan kondisi yang tidak kondusif dengan menolak lokasi karantina yang kebetulan ada di wilayah desanya. Sebab tempat karantina itu adalah milik Pemprov atau milik pusat yang kebetulan ada di wilayah desanya. Pemprov Bali menyiapkan empat lokasi karantina bagi ribuan pekerja migran asal Bali di antaranya di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Bali, Balai Kesehatan Masyarakat (Bapelkes) Provinsi Bali, Balai Latihan Pegawai Pertanian (BLPP) dan Politeknik Angkatan Darat (Poltrada) Bali.
Salah satu lokasi karantina yakni Poltrada Bali berada di Banjar Samsam, Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan. Warga pun melayangkan keberatan desa mereka dijadikan lokasi karantina terkait penyebaran Virus Corona atau COVID-19. Bahkan warga memasang spanduk yang intinya menolak wilayah mereka dijadikan lokasi karantina terkait Virus Corona. ‘Terkait spanduk penolakan untuk menerima pekerja migran Bali di suatu daerah oleh oknum di masyarakat, saya jelaskan kepada masyarakat Bali bahwa para pekerja kapal pesiar ini adalah anak-anak kita semuanya,” kata Dewa Indra di Denpasar, Sabtu (4/4).
Dalam berbagai kesempatan, Dewa Indra menjelaskan agar seluruh masyarakat Bali tidak mendiskreditkan para pekerja migran Bali sebagai orang yang membawa virus korona ke Bali. Mereka mencari pekerjaan di luar negeri karena Bali tak tersedia lapangan pekerjaan yang cukup bagi mereka. Jika saja Pemprov Bali maupun kabupaten/kota se-Bali bisa menyediakan lapangan kerja dengan penghasilan yang cukup, Dewa Made Indra yakin mereka tak akan merantau jauh-jauh ke luar negeri.
“Mereka orang-orang yang ulet, pekerja tangguh. Mereka disebut oleh pemerintah sebagai pahlawan devisa. Mereka juga adalah penopang ekonomi keluarga. Mereka adalah orang yang juga mengambil inisiatif untuk menyelamatkan ekonomi masyarakat Bali dengan bekerja di luar. Selamani mereka dibanggakan oleh keluarganya, oleh para orangtua, bahkan oleh orang kampungnya, karena mereka bisa mendapatkan pekerjaan di luar negeri. Tetapi hari ini, ketika COVID-19 mewabah, ada sebagian warga masyarakat kita yang kurang menerima dengan baik anak-anak ini,” tambahnya.
Seharusnya, katanya melanjutkan, ketika peristiwa ini terjadi, kita dengan penuh kesadaran nurani menyambut mereka dengan uluran tangan terbuka. Bukan sebaliknya, malah menolak kehadiran mereka. Katanya, mereka pulang karena situasi yang tidak memungkinkan untuk bekerja. Di mata Dewa Made Indra mereka merupakan anak-anak kita yang kehilangan pekerjaannya.
“Kalau mereka kehilangan pekerjaannya, maka bisa dipastikan daya topang mereka kepada keluarga juga hilang. Mereka bukan penyakit, mereka juga bukan pembawa penyakit. Seharusnya masyarakat kita memahami . Sesungguhnya saya sangat menyesalkan sikap oknum-oknum yang melakukan penolakan kepada anak-anak kita sendirit. Tapi saya tidak menyalahkan. Saya mengambil posisi bahwa oknum-oknum tersebut belum mendapatkan pemahaman yang baik, pemahaman yang utuh tentang COVID-19,” tambahnya.
Pemeriksaan kesehatan terhadap mereka sudah sesuai standar atau protokol yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Di sisi lain, sebelum kembali ke Bali mereka juga telah menjalani pemeriksaan kesehatan dengan membawa sertifikat sehat. Setibanya di Bandara Ngurah Rai, pemeriksaan kesehatan kepada mereka juga kembali dilakukan. Salah satunya dengan pengujian rapid test.
“Saya tegaskan sesungguhnya tidak perlu pekerja migran ini ditakuti karena hasil tes yang kami lakukan selama ini baik yang dilaksanakan di Bandara Ngurah Rai maupun di tempat karantina hampir semuanya negatif, hanya 12 orang yang positif. Saya menyampaikan sekali lagi, mereka adalah anak-anak kita.
Mereka adalah penyelamat kita. Mereka bukan pembawa penyakit dan juga bukan penyakit. Mereka semuanya, para ABK kapal ini, semuanya sudah membawa health certificate yang menyatakan mereka telah dites kesehatannya dan dinyatakan negatif. Karena itu ingin meyakinkan bahwa mereka betul-betul sehat bahwa kita harus menjaga betul Bali, maka kami lakukan tes, meskipun dari segi regulasi itu sebenarnya tidak diatur. Tempat karantina itu juga tidak memungkinkan menjadi tempat penyebaran penyakit, karena COVID-19 tidak menular melalui udara,” demikian Dewa Made Indra mengakhiri.(axelle dae).


