Koster: Yang Lain boleh Buka Namun Diskotik dan Hiburan Malam Dilarang

Koster: Yang Lain boleh Buka Namun Diskotik dan Hiburan Malam Dilarang/theeast.co.id

Koster: Yang Lain boleh Buka Namun Diskotik dan Hiburan Malam Dilarang/theeast.co.id

Foto : Hiburan malam dan Diskotik dilarang. Gubernur Bali I Wayan Koster di Denpasar, (9/7/2020).

DENPASAR, The East Indonesia – Gubernur Bali I Wayan Koster menegaskan, sekalipun kegiatan pariwisata dan keagamaan di Bali sudah boleh dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat, namun untuk kegiatan seperti diskotik, kafe, spa, dan jenis hiburan malam lainnya masih dilarang sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Kegiatan lain yang masih dilarang sabung ayam atau tajen. “Semua kegiatan lain seperti pariwisata, kegiatan keagamaan, sudah bisa dilakukan. Yang lain boleh dibuka. Namun diskotik, tempat hiburan malam, spa dan sejenisnya masih dilarang,” ujarnya di Denpasar, Kamis (9/7/2020).

Menurut Koster, tempat hiburan malam dan sejenisnya sedikit kesulitan menerapkan protokol kesehatan. Di diskotik misalnya, adalah tempat untuk minum-minum. Di kafe juga orang minum dan nyanyi-nyanyi. Dalam kondisi ini orang akan kesulitan menerapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, mencuci tangan dan seterusnya. Hal yang sama juga terjadi di tempat sabung ayam atau tajen. Itulah sebabnya, semua tempat yang berhubungan dengan hiburan malam masih ditutup atau tidak direkomendasikan untuk dibuka. Karena masih sangat berpotensi menjadi tempat penularan yang baru. “Tempat yang dibuka pun bukan berarti bebas bisa dilaksanakan tapi dengan menerapkan protokol kesehatan tatanan kehidupan era baru sesuai dengan surat edaran Gubernur,” ujarnya.

Sekalipun sudah buka akses pariwisata dan melarang dibukanya berbagai akses tempat hiburan malam namun Koster menegaskan tidak akan menerapkan jam malam atau pengetatan keamanan. Semuanya berjalan normal. Namun tetap diharapkan agar masyarakat menerapkan protokol kesehatan, melindungi dirinya sendiri, keluarga terdekat dan masyarakat sekitarnya. Selain itu, untuk para karyawan di sektor pariwisata nanti, diharapkan manajemen bisa melakukan test secara berkala terhadap seluruh karyawannya. “Semua usaha pariwisata itu harus melakukan rapid test kepada karyawannya. Test dilakukan secara berkala. Artinya kalau karyawannya walau sudah ditest namun ada gejala sakit maka dia harus dites lagi,” ujarnya.(Axelle Dae).

Facebook Comments