Kemendikbud Wadahi Seniman dan Pelaku Industri Kreatif Berbagi Praktik Baik di Masa Pandemi COVID-19

Kemendikbud Wadahi Seniman dan Pelaku Industri Kreatif Berbagi Praktik Baik di Masa Pandemi COVID-19/theeast.co.id

Kemendikbud Wadahi Seniman dan Pelaku Industri Kreatif Berbagi Praktik Baik di Masa Pandemi COVID-19/theeast.co.id

FORUM. Peserta Forum Komunikasi (Forkom) Pendidikan dan Kebudayaan “Dampak Sosial Ekonomi Pandemi COVID-19 terhadap Seniman dan Pelaku Industri Kreatif”yang dilaksanakan semi secara daring di Jakarta, Kamis (15/10/2020). Foto : Tim Humas.

JAKARTA, The East Indonesia – Sebagai upaya memberikan ruang bagi seniman dan pelaku industri kreatif berbagi praktik baik di masa pandemi COVID-19, Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan Forum Komunikasi (Forkom) Pendidikan dan Kebudayaan yang mengusung tema “Dampak Sosial Ekonomi Pandemi COVID-19 terhadap Seniman dan Pelaku Industri Kreatif”.

Forkom Pendidikan dan Kebudayaan digagas dalam rangka melakukan analisis pemetaan kondisi sosial ekonomi terhadap seniman dan pelaku industri kreatif di tengah pandemi COVID-19. Selain itu juga untuk memahami pola adaptasi seniman dan pelaku industri kreatif dalam mengatasi pandemi.

Di antara sekian banyak dampak negatif yang dirasakan para pelaku seni dan industri kreatif di masa pandemi COVID-19, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) dan Perbukuan, Kemendikbud, Totok Suprayitno mengatakan bahwa pandemi telah memicu kreativitas dan inovasi masyarakat. Hal tersebut ia sampaikan saat membuka Forkom Pendidikan dan Kebudayaan yang dilaksanakan semi dalam jaringan (daring), di Jakarta, Kamis (15/10).

“Pandemi membuat banyak peluang kreativitas dari pelaku seni bermunculan. Kita ingin praktik baik tersebut bisa menginspirasi pelaku seni lainnya,” ucapnya.

Setelah pandemi berakhir, Ia yakin, banyak hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran. Totok berharap forkom ini menjadi ajang berbagi praktik baik dan solusi atas permasalahan yang dihadapi pelaku seni dan ekonomi kreatif. “Supaya pemerintah bisa mengetahui intervensi apa yang harus segera dilakukan,” jelas Totok.

Totok melanjutkan, berdasarkan temuan Balitbang terdapat tiga strategi yang dilakukan seniman dan pelaku ekonomi kreatif untuk bertahan di tengah pandemi. Pertama, membuka peluang kegiatan secara digital. Kedua, meningkatkan kolaborasi untuk menggali potensi kreativitas lokal melalui kegiatan di lingkupnya yang lebih kecil. Ketiga, mengenali potensi dan peluang baru untuk mengubah strategi komunikasi dan lini produk sesuai dengan kondisi dan kebutuhan selama masa pandemi.

Ditambahkan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Penelitian dan Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Kemendikbud, Irsyad Zamjani, di masa pandemi semakin banyak khalayak yang menikmati seni secara virtual. Saat ini, penikmat seni tak lagi berjarak ruang dan waktu.

“Melalui virtual, budaya di mana pun bisa dirasakan dan dinikmati oleh kawan-kawan kita di seluruh nusantara. Ini kesempatan untuk merajut budaya nusantara di mana sebelum pandemi berkesenian umum dilakukan hanya di tingkat lokal saja,” terangnya.

Acara ini menghadirkan narasumber dan peserta dari para pemangku kepentingan terkait yang meliputi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Balitbang dan Perbukuan Kemendikbud, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Koalisi Seni Indonesia serta para peneliti lainnya.(red/Ttim).

Facebook Comments