Kantor Demokrat Bali Ditempeli Selebaran Provokatif

120
Kantor Demokrat Bali Ditempeli Selebaran Provokatif/theeast.co.id
Kantor Demokrat Bali Ditempeli Selebaran Provokatif/theeast.co.id

DENPASAR, The East Indonesia – Sejumlah selebaran dan stiker berisikan kalimat provokatif disebar di seputaran kawasan pusat pemerintahan di Renon Denpasar. Menariknya, selebaran berisi provokatif tersebut ditempelkan di depan Kantor DDP Partai Demokrat Bali dan depan Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Selebaran tersebut bertuliskan “bergerak bersama gagalkan Omnibus Law, hancurkan, bakar, jatah’. Pada bagian atas selebaran yang ditempelkan tersebut ternyata bertuliskan ‘Bali tidak diam’ yang menjadi hastag beberapa aliansi masyarakat Bali yang melakukan aksi unjuk rasa damai menolak Omnibus Law.

Ketua DPD Partai Demokrat Bali Made Mudarta saat dikonfirmasi di Denpasar, Rabu (21/10) mengatakan, penempelan stiker di depan kantor partainya itu sangat provokatif. Stiker itu ditempeli persis di depan plang kantor. “Itu sangat provokatif. Ini ada upaya-upaya dari pihak yang ingin memperkeruh suasana, memancing kondusifitas di Bali. Kami tidak ingin terpancing akan hal-hal murahan itu,” ujarnya.

Baca juga :  Buka Webinar Bulan Bung Karno, Gubernur Koster Ajak Generasi Penerus Gelorakan Ide dan Gagasan Sang Proklamator

Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan stafnya untuk mencabut dan membersihkan stiker yang ditempelkan tersebut. Pantauan di lapangan, stiker di depan Kantor Demokrat Bali sudah dibersihkan oleh staf dari Demokrat Bali. Mudarta mengaku akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengetahui siapa yang menempel stiker provokatif tersebut. “Di kawasan Renon itu banyak CCTV. Kami akan berkoordinasi dengan pihak Polresta Denpasar untuk mengeceknya,” ujarnya.

Menurut Mudarta, isi kata-katanya sangat provokatif, sama seperti teroris. Demokrat Bali langsung mengamankan selebaran tersebut. Tujuannya, agar masyarakat tidak banyak membaca poster provokatif tersebut dan bisa menimbulkan kekacauan di Bali. “Kantor ini lokasinya strategis, tempat berkumpulnya masyarakat banyak. Kalau orang banyak baca, dan tidak paham, ini sangat berbahaya. Bisa menimbulkan kerusuhan publik di Bali,” ujarnya.

Baca juga :  Ny Putri Koster Ajak Komponen Masyarakat Bersinergi Membuat Pengelolaan Sampah

Menariknya lagi, stiker yang ditempelkan tersebut setelah diamati dari dekat ternyata sudah dilapisi dengan stiker asli. Stiker palsu ditempelkan stiker asli yang berasal dari BEM sejumlah kampus di Bali yang hendak melakukan aksi penolakan Omnibus Law. Untuk di kawasan Renon, stiker yang sama ditempelkan di 3 titik strategis yakni depan Kantor Demokrat Bali, depan Kantor Dinas Kebudayaan, depan Gedung Keuangan Bali.(Axelle Dae).

Facebook Comments