Memaknai Sebuah Profesi dari Para Pendidik Inspiratif

MENDIKBUD. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim. Foto : Tim.

JAKARTA, The East Indonesia – Sebagai salah satu rangkaian peringatan Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2020, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelengarakan Acara Hari Guru Nasional 2020 di TVRI, Rabu (25/11). Merujuk tema HGN tahun ini, “Bangkitkan Semangat, Wujudkan Merdeka Belajar,” acara tersebut menampilkan dua sosok guru inspiratif yaitu guru SLB Negeri Batang, Provinsi Jawa Tengah yang bernama Hikmat dan guru SD YPK Pasi Aimando, Biak, Papua, yang bernama Ayub.

Bertindak sebagai moderator, Direktur Jenderal (Dirjen) Guru dan Tenaga Pendidikan (GTK), Kemendikbud, Iwan Syahril, acara tersebut turut menghadirkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim. Berikut adalah hasil perbincangan Mendikbud dan Dirjen GTK bersama kedua guru inspiratif tersebut dalam memaknai dunia mengajar yang mereka cintai.

Ayub adalah seorang alumni program sarjana mengajar di daerah terdepan, terpencil, tertinggal (SM3T) pada tahun 2014. Tekadnya yang besar untuk membangun pendidikan di Papua didasari keprihatinannya melihat ketimpangan yang terjadi di sana. Mulai dari kekurangan jumlah tenaga pendidik serta sarana dan prasarana yang tidak memadai. “Itulah alasan saya bertahan di sana,” ucapnya menanggapi pertanyaan kenapa ia memilih untuk mengajar di daerah 3T.

Hal yang paling membekas adalah ketika Ayub ditanya oleh salah seorang siswa, dalam perjalanan mereka melayat orang meninggal di seberang pulau menggunakan perahu. “Pak, apakah semua orang akan mati. Jika ya, bagaimana jika nanti Bapak mati, siapa yang akan ajar kita orang,” tanya salah seorang siswanya.

Mendengar itu, Ayub mengaku sangat tersentuh karena ia melihat betapa besar peran seorang guru di mata anak-anak didiknya. “Sosok yang inspiratif bagi saya adalah anak-anak. Kami harap anak-anak di daerah 3T dapat memiliki sarana dan prasarana yang bagus seperti di daerah lainya sehingga dapat menunjang mimpi mereka meraih cita-cita,” ungkap Ayub yang mengatakan bahwa sekolahnya berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik itu.

Ayub mengaku bersyukur masa kecilnya dulu telah mendapatkan akses pendidikan yang baik. Oleh karena itu ia ingin anak-anak di daerah 3T merasakan hal yang sama, dapat merasakan esensi bahwa pendidikan untuk semua. “Saya bersyukur ada di daerah 3T. Saya adalah orang yang kurang memaknai ijazah, memilih keluar dari zona nyaman dan masuk ke perbatasan,” tuturnya.

Berkat kesediaannya untuk membantu sesama, Ayub menjadi sangat diandalkan terutama dalam mengoperasikan perangkat IT di daerahnya. Di tengah rutinitas mengajar, Ia membantu administrasi distrik terkait data kependudukan, kegiatan kerohanian, dan lainnya. “Saya tidak boleh pergi untuk melamar CPNS. Sampai kepala desa bilang, sekolah akan tutup kalau sampai saya pergi,” kata Ayub yang mengakui bahwa nilai toleransi antarindividu sangat kental di daerah pedalaman.

“Semoga jiwa-jiwa ikhlas mengabdi selalu tertanam dalam hati kita para guru untuk sisiwa-siswa agar anak-anak bisa tersenyum hari ini dan akan tersenyum kepada kita untuk Indonesia di hari esok. Maksimalkan usaha kita. Lihat hari ini bagaimana mata anak-anak kita. Di mata anak-anak itulah Indonesia di hari esok,” pesan Ayub.

Sosok inspiratif berikutnya adalah Hikmat, seorang guru SLB yang juga penyandang disabilitas. Hikmat mengaku dari keterbatasan yang ia miliki, justru menjadi contoh bagi anak-anak didiknya untuk bersemangat mengejar mimpi meski di tengah keterbatasan.

“Menjadi sebuah kebanggaan dan nilai plus bisa menjadi role model dalam pembelajaran. Di saat itu saya bangkit memanfaatkan keadaan saya. Saya tidak boleh mengeluh karena jika saya mengeluh, mereka akan putus asa,” ucapnya yang tertarik menjadi guru ketika ia mengajarkan musik kepada anak-anak difabel.

Hikmat mengisahkan, dari aktivitasnya mengajar anak-anak difabel, Ia memahami nilai ketulusan dan kepedulian. Tak jarang, anak-anak didiknya dengan sukarela menghapus papan tulis, merapikan alat belajar hingga membantu mendorongkan skateboard yang digunakan Hikmat untuk mempermudah mobilitasnya.

Ketika pembelajaran dilakukan tatap muka di sekolah, kelas Hikmat didisain menyesuaikan dengan kondisi keterbatasannya. Siswa-siswa belajar secara lesehan, papan tulis dan alat pendukung belajar disiapkan berukuran rendah. “Allah memberikan saya ke sini untuk memberikan kesempatan menjadi role model bagi mereka. Oleh karena itu, saya manfaatkan kesempatan yang ada untuk jadi manfaat buat orang lain,” tutur Hikmat.

Hikmat berharap, perhatian pemerintah akan semakin besar untuk anak-anak difabel. Menurutnya, klasifikasi kurikulum harus lebih disempurnakan sesuai dengan kondisi anak didik, seperti tuna daksa, tuna rungu, tuna grahita, dan lain-lain. “Di lapangan anak-anak kita variatif. Satu anak, satu program. Selain itu, perlu juga bagi peserta didik normal diberikan pemahaman dalam kurikulum tentang bagaimana cara memperlakukan anak-anak disabilitas dengan baik,” terangnya.

Mengomentari kisah-kisah inspiratif dari kedua guru tersebut, Mendikbud menyampaikan rasa bangga. “Guru-guru di Indonesia bisa belajar banyak dari para guru SLB karena mereka lebih menguasai prinsip pedagogi dengan baik,” ucap Mendikbud.

Dari kisah inspiratif inilah kata Mendikbud, dapat disimpulkan bahwa guru penggerak akan semakin terpacu motivasinya ketika dihadapkan pada tantangan yang besar. “Semakin sulit tantangan semakin terpacu. Mereka tertantang oleh situasi yang lebih sulit bukan berputus asa tapi semangat,” tekannya.

Di akhir perbincangan, Iwan Syahril berpesan. “Terus semangat, saling memotivasi, tidak boleh menyerah, berani bermimpi, untuk anak-anak kita dari Sabang sampai Merauke,” tutup Iwan.(red/tim).

Facebook Comments