Diduga Terlibat Politik Uang Pada Pilkada Malaka 2020, Timses SBS-WT Dituntut 3 Tahun Penjara di Pengadilan Atambua

4

ATAMBUA, The East Indonesia – Diduga terlibat dalam politik uang (money politics), salah seorang warga Kabupaten Malaka, Yohanes Bria Seran alias Bei Ulu, kuat diduga salah satu tim sukses (timses) paket Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Malaka, Stef Bria Seran dan Wendelinus Taolin (SBS-WT) dituntut 3 tahun penjara dan denda sebesar Rp 250 juta Rupiah.

Tuntutan ini diberikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Jhon Merdiosman Purba, SH, dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Atambua, Kabupaten Belu, Senin (05/01/2021).

Sidang ini dipimpin oleh Hakim Ketua, Gustav Bless Kupa, SH, dengan dua Hakim Anggota, Sisera S. N. Nenohayfeto, SH, dan Olyviarin Rosalinda Taopan, SH.

Dalam sidang tersebut Jaksa Penuntut Umum (JPU), Jhon Merdiosman Purba, SH, membacakan beberapa materi tuntutan.

1. Menyatakan Terdakwa YOHANES BRIA KLAU alias BEI ULU terbukti bersalah melakukan tindak pidana pemilihan kepala daeraha sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasa! 187 a Ayat (1) Jo Pasal 73 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati Dan Walikota Menjadi Undang-Undang

2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa YOHANES BRIA KLAU alias BEI ULU dengan pidana penjara selama 36 (tiga puluh enam) Bulan penjara, dipotong masa penahanan dengan perintah agar terdakwa tetap dalam tahanan dan pidana denda sebesar Rp. 250.000.000,(dua ratus lima puluh juta rupiah) subsidair 1 bulan kurungan dan memerintahkan Terdakwa tetap ditahan:

3. Menyatakan barang bukti berupa :
1. 15 (lima belas) lembar uang kertas pecahan seratus ribu rupiah: Dirampas untuk negara.
2. 1 (satu) lembar print out screenshot foto penyerahan uang: Dilampirkan dalam Berkas Perkara:
3. 1 (satu) unit Handphone merk VIVO warba hitam. Dikembalikan kepada pemilknya Vinus Bere alias Maken

4. Menghukum terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp. 2.000,(dua ribu rupiah).

Berdasarkan informasi yang diperoleh awak media ini (06/01/2021) akan dilanjutkan dengan agenda sidang nota pembelaan atas tuntusan Jaksa.

Sebelumnya diberitakan pada Pilkada Malaka tahun 2020 mempertemukan pasangan calon dr. Stefanus Bria Seran dan Wendelinus Taolin (SBS-WT) dengan pasangan calon Dr. Simon Nahak dan Kim Taolin (SN-KT).

Dalam perhelatan tersebut berdasarkan Pleno KPU ditingkat Kabupaten Malaka, SN-KT berhasil unggul atas SBS-WT selaku Petahana.

Namun sayangnya dalam pesta demokrasi kedua di Kabupaten Malaka ini, tim sukses (timses) SBS-WT diduga melakukan kecurangan politik uang (money politics) yang dilakukan Yohanes Bria Seran alias Bei Ulu, kuat diduga salah satu tim sukses SBS-WT. Kasus money politics ini pun secara resmi, telah disidangkan perdana yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Atambua, Kabupaten Belu, hari ini, Senin pagi (04/01/2021).

Sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan tersebut menghadirkan 5 orang saksi. Dalam surat Kejaksaan Negeri (Kejari) Belu Nomor : B-1921/N.3.13/Euh.2/12/2020 tanggal 28 Desember 2020 yang ditandatangani Jaksa Penuntut Umum (JPU), Jhon Merdiosman Purba, SH, dan ditujukkan kepada Kapolres Malaka dengan perihal bantuan pemanggilan saksi.

Sidang perdana kasus money politics Pilkada Malaka di PN Atambua dengan terdakwa Yohanes Bria Seran alias Bei Ulu berlangsung tegang. Hal ini dipicu oleh ulah Eduardus Nahak, SH, selaku Kuasa Hukum Terdakwa yang selalu memotong pembicaraan Majelis Hakim. Akibatnya, yang bersangkutan nyaris diusir Hakim dari ruang sidang.

Sidang yang berlangsung selama satu jam itu dipimpin oleh Hakim Ketua, Gustav Bless Kupa, SH, dengan dua Hakim Anggota, Sisera S. N. Nenohayfeto, SH, dan Olyviarin Rosalinda Taopan, SH. Setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU), Jhon Merdiosman Purba, SH, membacakan dakwaan, sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi dan terdakwa.

Kepada Hakim, Saksi 1, Petrus Nahak Manek, selaku Koordinator Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu) Pilkada Malaka 2020, menjelaskan, pihaknya sudah melakukan klarifikasi kepada terdakwa dan terdakwa membantah melakukan money politics. Namun penjelasan terdakwa bertolak belakang dengan fakta-fakta pemeriksaan, yakni:

Pertama, terdakwa mengaku perbuatannya bukan money politics, tetapi dia berjudi dengan taruhan uang tunai Rp 1,5 juta versus seekor sapi. Namun berdasarkan penyidikan Tim Gakkumdu, pelapor atas nama Herman Klau tidak memiliki sapi seperti yang dimaksudkan terdakwa.

Kedua, terdakwa mengaku uang Rp 1,5 juta dikirim oleh anaknya dari Malaysia melalui rekening istrinya. Tetapi setelah rekening koran diperiksa, ternyata tidak ada kiriman uang yang masuk. 4 saksi lainnya pun memberi keterangan yang bertolak belakang dengan terdakwa. Para saksi mengatakan pemberiaan uang dari terdakwa ke Herman Klau itu bertujuan untuk memilih Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Malaka Nomor Urut 2 atas nama Stef Bria Seran dan Wendelinus Taolin (SBS-WT). Bahkan menurut 4 saksi, setelah memberikan uang kepada Herman Klau, terdakwa mengingatkan Herman Klau agar uang tersebut boleh dipakai setelah tanggal 9 Desember 2020 atau setelah Pilkada serentak.

Ketika Hakim bertanya pun terdakwa tetap bersikukuh bahwa Rp 1,5 juta itu adalah uang miliknya. Namun ketika ditanya darimana penghasilannya, terdakwa tak bisa menjawab. Terdakwa juga mengaku tidak menyesali perbuatannya ketika ditanya Hakim. Tetapi ketika JPU membeberkan bukti foto pemberian uang kepada Herman Klau, terdakwa mengakui kalau itu adalah dirinya.

Sejumlah pengunjung sidang mengatakan, terdakwa terlalu berbelit-belit memberikan keterangan. Hakim Topan sempat berupaya agar terdakwa jujur dalam memberikan keterangan.

“Kami hakim punya nurani, jika terdakwa tidak mengaku perbuatan, maka terdakwa diancam dengan Pasal perjudian yang dimana hukumannya lebih berat. Bapa tidak mengakui atau tidak menyesali perbuatan bapa, yah kami tidak bisa paksa, kami akan melihat dari fakta persidangan. Jika bapa terdakwa mengakui perbuatan, hal itu akan meringankan hukuman. Jika tak mengaku, kita perintahkan polisi dan jaksa untuk menangkap bapa untuk proses kasus perjudian,” kata Hakim Topan.

Namun terdakwa tak bergeming hingga sidang ditutup. Setelah sidang, terdakwa langsung ditahan Jaksa. (Ronny)

Facebook Comments