Wednesday, April 15, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Gunakan Mesin Combine Harvester, Bupati dan Wabup Belu Panen Padi di Leuntolu

ATAMBUA, The East Indonesia – Bupati Belu, dr. Agustinus Taolin, SpPD-KGEH., FINASIM dan Wakil Bupati Belu, Drs. Aloysius Haleserens, MM secara bergantian melakukan panen padi secara simbolis di lahan kelompok tani “sinar beibae”, di Dusun Kota Sukaer, Desa Leuntolu, Kecamatan Raimanuk dengan menggunakan alat mesin pertanian (Alsintan) combine harvester (pemanen kombinasi) milik Pemerintah Kabupaten Belu, Senin sore (24/05/2021).

Pantauan media ini, meski hanya beberapa menit, kedua pemimpin Pemerintah Kabupaten Belu yang dikenal dengan tagline SEHATI ini secara bergantian menggunakan alat tersebut secara langsung.

Setelah dipandu oleh operator mesin Combine Harvester, Bupati dan Wakil Bupati Belu ini tampak santai berada di balik kemudi dan cukup lincah mengoperasikannya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, dua Anggota DPRD Kabupaten Belu Aprianus Hale dan Edmundus Tita, Kadis Pertanian Belu Gerardus Mbulu, Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Belu Christoforus M. Loe Mau, Camat Raimanuk Tarsisius Edi, PPL, Kelompok tani, tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh pemuda.

Usai melakukan panen simbolis, Bupati Belu dr. Agustinus Taolin, SpPD-KGEH., FINASIM menyampaikan bahwa hari ini merupakan kunjungan pertamanya bersama Wakil Bupati ke Desa Leuntolu sejak terlantik 26 April 2021 yang lalu dimana hal tersebut diharapkan sebagai awal yang baik dalam membangun sinergi antara pemerintah tingkat desa dan kabupaten.

Bupati Belu ini mengajak masyarakat untuk saling bekerja sama dengan mengedepankan prinsip satu tekad, satu pikiran dan satu hati membangun Belu.

“Keluhan – keluhan yang sifatnya teknis harus segera dibereskan. Kita duduk dan bicarakan bersama dinas teknis untuk mencari solusinya,” ungkap Agus Taolin.

Dirinya menuturkan bahwa sebagai pemimpin, wajib untuk turut merasakan tingkat kesulitan yang dihadapi dan dialami langsung oleh masyarakat petani.

“Pemimpin tidak hanya melihat, melainkan ikut mengalami apa yang menjadi kesulitan masyarakat. Karena itu, hari ini saya dan pak Wakil bergantian mengemudi alat panen padi. Jatuh, kita jatuh sama-sama, bangun juga kita bangun sama-sama,” ujar dokter Agus Taolin.

Dijelaskan bahwa untuk bidang pertanian merupakan salah satu program prioritas dari Kepemimpinan mereka karenanya pihak Pemda Belu akan segera mengomunikasikan secara intens dengan DPR RI dan para Menteri terkait untuk pemenuhan kebutuhan alat pertanian seperti traktor, rontok, mesin panen, mesin air dan sebagainya.

Terkait dengan mesin pemanen modern, Combine Harvester tersebut, Bupati Belu menerangkan mesin tersebut telah ada di Kabupaten Belu sejak dua tahun lalu namun jarang digunakan karena sistem persawahan bedeng/pematang berbentuk kecil sehingga menyulitkan mesin masuk untuk beroperasi.

“Tadi kita lihat alat potong yang bagus sekali, alat ini sudah sekitar 2 tahun di Dinas Pertanian dan jarang digunakan karena bedeng atau pematangnya kecil sehingga menyulitkan alatnya masuk,” ungkap Bupati Belu.

Lanjutnya, kedepan dinas teknis harus memperhatikan pola tanam yang dilakukan petani agar pada saat panen bisa menggunakan Combine Harvester. Jika pola tanam tidak beraturan maka mesin Combine Harvester juga tidak bisa digunakan.

Bupati menegaskan hal itu sejalan dengan program prioritas pemerintah saat ini yakni memberikan kemudahan bagi petani saat panen dengan penerapan teknologi.

Bupati Belu ini juga mengungkapkan rasa senang dan bangga dengan hasil kerja petani mengolah sawah di masa pandemi covid-19. Setelah usia panen, petani juga bisa menerapkan alat teknologi.

“Saya bersama Wakil Bupati merasa senang. Kita akan kerjakan sehingga desa ini menjadi desa unggulan dengan meningkatkan produktivitasnya. Bendungan Obor ini kedepan harus difungsikan sehingga masyarakat mendapatkan manfaat,” tandas Bupati Belu.

Bupati Belu juga menyampaikan, program di sektor pertanian harus sinkron antara pemerintah desa dan kabupaten supaya program tidak tumpang tindih. Misalnya, program kegiatan yang ditangani pemerintah desa tidak lagi ditangani kabupaten.

Diakhir arahan, Bupati mengharapkan agar musim tanam tahun depan, luas lahan yang diolah bisa bertambah serta hasil panennya juga meningkat.

Sementara itu, Wakil Bupati Belu Drs. Aloysius Haleserens, MM meminta Dinas Pertanian Kabupaten Belu untuk segera mendata kelompok tani yang tersebar di seluruh wilayah Belu sekaligus membuat proposal kebutuhan semua jenis alat pertanian ke Pemerintah Pusat guna meningkatkan produktivitas.

Kepada petani, Wabup Alo Haleserens berpesan untuk menjaga alat-alat pertanian (alsintan) yang sudah diberikan oleh pemerintah.

“Kalau kita sudah mendapatkan bantuan peralatan dari pemerintah, kita wajib menjaga, termasuk bantuan sumur bor karena berguna untuk kita. Kalau rusak, kita perbaiki. Kita harus punya rasa memiliki,” pintanya.

Wakil Bupati Belu ini juga meminta peran aktif menteri tani Desa Leuntolu untuk membantu para petani dalam membaca sinyal alam. Ketika musim tanam tiba, petani wajib mempersiapkan pengolahan lahan lebih awal agar tidak terlambat.

“Sekian ratus lahan pertanian gagal tanam dan gagal panen karena persiapan lahannya terlambat. Menteri tani harus menghitung luas lahan, berapa traktor yang dibutuhkan, waktu kerjanya berapa lama, semuanya harus dihitung. Perawatannya juga sama, harus dihitung dengan konsentrasi pemupukan tepat sehingga tidak merusak kesuburan lahan,” tegas Alo Haleserens.

Untuk menjaga kontinyunitas pertanian, para petani mesti memiliki kelender kerja mulai dari olah lahan, waktu pemupukan dan panen. Sirkulasi waktu ini harus diingat agar tidak mengalami keterlambatan.

Selain itu, Anggota DPRD fraksi NasDem, Aprianus Hale menjelaskan, mesin panen padi modern yang digunakan untuk memanen padi di Leuntolu tersebut, garis koordinasinya lewat Kepala Dinas Pertanian.
Mesin itu, diketahui sudah ada sejak dua tahun lalu, tetapi tidak pernah dipakai.

Dengan adanya kunjungan Bupati dan Wakil Bupati hari ini, kita bisa menjadikan Desa Leuntolu sebagai pusat pertanian unggulan dan bisa menjadi contoh pertanian bagi desa-desa lain.

Karena itu, dirinya meminta untuk membangun komunikasi yang intens baik dengan kepala desa, pamong tani, menteri tani untuk siapkan proposal dengan tujuan meningkatkan produktivitas pertanian di Desa Leuntolu.

“Untuk kebutuhan bantuan alat pertanian, saya minta setiap kelompok tani segera buatkan proposal sebanyak-banyaknya sehingga ke depan, tidak ada lagi yang mengeluh soal ketiadaan alat. Kalau masalah embung dengan bantuan bapak Bupati dan bapak Wakil Bupati, kita akan berupaya datangkan tenaga teknis melihat langsung kondisinya yang rusak untuk segera diperbaiki,” ucap politikus muda asal partai Nasdem.

Kepala Desa Leuntolu, Patrisius Luan pun dihadapan Bupati dan Wakil Bupati Belu melaporkan bahwa total lahan persawahan di wilayah Leuntolu seluas 315 hektar.

Musim tanam I tahun 2021, seluas 205 (dua ratus lima) hektar. Produktivitas padi rata-rata mencapai 5 – 6 ton per hektar.

Gagal tanam 110 hektar, gagal panen 11 hektar. Jumlah kelompok tani ada 57 dengan lahan penanaman hortikultura seluas 25 hektar.

“Kendala para petani di sini soal tidak berfungsinya bendungan Obor. Kami sudah sampaikan di Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II, tapi jawabannya bahwa kewenangan ada di kabupaten. Kami kembali sampaikan di kabupaten, katanya kewenangan ada di provinsi”, kesal Patris Luan.

Untuk diketahui, Combine Harvester adalah mesin yang memanen tanaman serealia. Mesin ini, seperti namanya merupakan kombinasi dari tiga operasi yang berbeda, yaitu menuai, merontokkan, dan menampi, dijadikan satu rangkaian operasi. Dengan mesin combine harvester semua kegiatan ini dapat dikerjakan sekaligus dalam satu rangkaian pemanenan padi. (Ronny)

Popular Articles