Tuesday, February 3, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Yayasan Plan Indonesia Gelar Monitoring Kesetaraan Gender Dalam STBM di Belu

ATAMBUA, The East Indonesia – Yayasan Plan Internasional Indonesia melalui Yayasan Pijar Timur Indonesia menggelar kegiatan Monitoring Kesetaraan Gender dalam STBM (MKGS) kepada fasilitator MKGS sekaligus melakukan diseminasi hasil pelaksanaan MKGS tahap II kabupaten Belu, Senin (20/09/2021).

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Hotel Matahari Atambua ini merupakan kerjasama kemitraan Pemerintah Kabupaten Belu, Yayasan Plan International Indonesia dan Yayasan Pijar Timur Indonesia.

Kegiatan ini dihadiri oleh tim MKGS dari Dinas Kesehatan Kabupaten Belu, Dinas PMD Belu, Kecamatan dan Puskesmas yang ada di Kabupaten Belu.

Direktur Yayasan Pijar Timur Indonesia, Vincent Kiabeda dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan tersebut mengatakan bahwa Monitoring Kesetaraan Gender dalam STBM (MKGS) merupakan suatu instrument yang dikembangkan untuk menggali dan memonitor peran dan relasi gender terhadap anak laki-laki dan anak perempuan serta laki-laki dewasa dan perempuan dewasa dalam melaksanakan kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di rumah tangga maupun di masyarakat.

Monitoring kesetaraan gender dalam STBM juga merupakan serangkaian kegiatan penilaiaan partisipasi Desa/Kelurahan dalam mengukur peran dan relasi gender dalam pelaksanaan STBM di masyarakat.

Direktur Yayasan Pijar Timur Indonesia ini pun menjelaskan tujuan dari Monitoring Kesetaraan Gender dalam STBM yaitu untuk meningkatkan kesadaran tentang peran gender dan relasi gender dalam Rumah tangga serta di masyarakat di kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

“Tujuan selanjutnya yaitu untuk mempromosikan aspirasi dari kesetaraan gender dengan memberikan kesempatan kepada perempuan dan laki-laki untuk mendiskusikan relasi gender dan menentukan perubahan-perubahan yang akan dilakukan,” pungkas Vincent Kiabeda.

Perwakilan Yayasan Plan Internasional Indonesia ini juga menerangkan bahwa ditengah pandemi covid-19, waktu pelaksanaan, metode, dan peserta kegiatan MKGS juga berubah. Hal ini dilakukan karena harus menyesuaikan dengan protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan sesuai juga dengan hasil analisa resiko dan mitigasi kegiatan.

Dijelaskan monitoring kesetaraan gender dalam STBM dilakukan setahun sekali. Instrument ini juga mengidentifikasi aspirasi bersama laki-laki dan perempuan untuk kesetaraan gender yang lebih besar dalam kegiatan STBM dan dalam pengambilan keputusan di rumah tangga dan masyarakat.

“MKGS digunakan sebagai suatu instrument yang dapat berkontribusi terhadap keseluruhan intervensi untuk melihat dan memonitor perubahan relasi gender dalam pelaksanaan ProjectWINNER,” tandas Vincent.

Disebutkan bahwa MKGS dirancang untuk menghasilkan data yang mengacu pada 4 indikator utama berdasarkan prinsip- prinsip MKGS diantaranya tingkat pembagian beban kerja STBM dalam rumah tangga; tingkat partisipasi dalam kegiatan STBM di masyarakat; tingkat pengambilan keputusan STBM dalam rumah tangga; dan tingkat kepemimpinan dalam kegiatan STBM di lingkungan.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat mendorong tim MKGS dari Dinas Kesehatan Kabupaten Belu, Dinas PMD Belu, Kecamatan maupun Puskesmas yang ada di Kabupaten Belu untuk mulai mengkampanyekan dan melaksanakan tentang kesetaraan gender.

“Kedepannya kita harapkan ada pembagian peran di setiap rumah tangga. Karena bila terjadi kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan maka akan mempercepat langkah pembangunan yang ada di dalam keluarga maupun wilayahnya,” tutur Direktur Yayasan Pijar Timur Indonesia, Vincent Kiabeda.

Untuk diketahui, hasil pelaksanaan MKGS ke-2 di Kabupaten Belu dibagi dalam 4 indikator diantaranya;

1. Indikator tingkat pembagian beban kerja STBM dalam rumah tangga
Pada indikator ini berdasarkan wilayah pilot yang ada di Kabupaten Belu mendapatkan beban kerja STBM dalam Rumah lebih banyak pada kelompok laki-laki paruh baya dan laki-laki lanjut usia.

2. Indikator tingkat partisipasi STBM di lingkungan
Pada indikator ini berdasarkan wilayah pilot yang ada di Kabupaten Belu menerangkan bahwa partisipasi kegiatan STBM di masyarakat berdasarkan jenis kelamin di kabupaten Belu menunjukkan bahwa laki-laki memiliki waktu yang lebih banyak untuk mengikuti kegiatan STBM di masyarakat dari pada perempuan.

3. Indikator tingkat pengambilan keputusan STBM bersama dalam rumah tangga
Pada indikator ini berdasarkan wilayah pilot yang ada di Kabupaten Belu dari 6 sub kelompok (laki-laki muda, paruh baya, lanjut usia dan perempuan muda, paruh baya, lanjut usia) pada kegiatan MKGS di Kabupaten Belu, perempuan paruh baya sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan terkait dengan kegiatan STBM yang membutuhkan sumber daya lebih di dalam Rumah tangga. Kelompok anjut usia (Laki-laki dan Perempuan) adalah kelompok yang tidak berpengaruh dalam pengambilan keputusan STBM di dalam Rumah tangga.

4. Indikator tingkat kepemimpinan dalam kegiatan STBM di lingkungan
Pada indikator ini berdasarkan wilayah pilot yang ada di Kabupaten Belu berdasarkan 6 sub kelompok MKGS, kepemimpinan dalam kegiatan STBM di Lingkungan bervariasi dimana laki-laki lanjut usia yang mengalokasikan waktu setiap bulan lebih banyak untuk memimpin kegiatan STBM di masyarakat, ketimbang dengan sub kelompok lainnya. Sementara kelompok Usia perempuan muda, di kabupaten Belu tidak memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin dalam kegiatan STBM di masyarakat.

Penulis|Ronny|Editor|Christovao

Popular Articles