Sejak Agustus 2021, Kades Makir di Belu Telah Resmi Bercerai Dengan Istrinya

65
FOTO : Surat Putsan Pengadilan Atambua.(tim)

ATAMBUA, The East Indonesia – Kepala Desa (Kades) Makir, di Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu atas nama Bonifasius Hale Mau telah resmi bercerai dengan istrinya, Maria Emersiana Lae.

Hal ini tertuang dalam putusan Pengadilan Negeri Pengadilan Negeri Atambua Kelas IB bernomor 19/Pdt.G/2021/PN Atb yang ditetapkan sejak tanggal 25 Agustus 2021.

Dalam putusan perkara tersebut menjelaskan bahwa selaku PENGGUGAT adalah Bonifasius Hale Mau bertempat tinggal di Dusun Poti, RT 001/RW 001, Desa Makir, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu Provinsi NTT dan Maria Emersiana Lae bertempat tinggal di Dusun Poti, RT 001/RW 001, Desa Makir, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu Provinsi NTT sebagai TERGUGAT.

Penggugat mengajukan surat gugatan perceraian sejak tanggal 4 Juni 2021 yang diterima dan didaftarkan ke kepaniteraan Pengadilan Negeri Atambua pada tanggal 8 Juni 2021.

Perkawinan secara sah antara Bonifasius Hale Mau dan Maria Emerensiana Lae terjadi pada tanggal 25 Oktober tahun 2010 di Gereja Katholik Kapela Sta. Maria Fatima Tahon yang beralamat di desa Makir, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu dan telah terdaftar dalam Akta Catatan Sipil pada tanggal 27 Desember 2010 sebagaimana tertuang dalam Kutipan Akta Perkawinan No. 5304CPK2712201001257 yang dicatat di Kantor Pencatatan Sipil Kabupaten Belu.

Dalam gugatannya, Kepala Desa Makir, Boni Hale (pengugat) mengajukan beberapa gugatan diantaranya dari hasil perkawinan tersebut keduanya belum juga dikaruniai anak kemudian berinisiatif mengangkat anak yang tidak lain adalah keponakan kandung dari Maria Emersiana Lae (tergugat) yang kemudian diambil kembali oleh keluarga tergugat beberapa tahun terakhir ini tanpa sepengetahuan pengugat.

Baca juga :  Jumat Berkah, Koramil 03/Senen Bagikan Bantuan Beras

Digambarkan juga bahwa sejak awal mula keduanya menikah tidak direstui oleh ibu kandung penggugat karena sikap tergugat.

Rumah tangga keduanya pun mulai goyah pada tahun 2015. Saat itu sering terjadinya perselisihan dan pertengkaran yang mana Tergugat sendiri tidak menghargai Penggugat sebagai seorang suami yang tidak mampu memberikan nafkah yang pantas kepada Tergugat karena pada saat itu Penggugat belum mempunyai pekerjaan tetap sedangkan Tergugat adalah seorang Pegawai Negeri Sipil jadi segala kebutuhan keluarga dan kebutuhan rumah-tangga ditanggung oleh Tergugat;

Demi mempertahankan rumah tangga keduanya, Boni Hale pun berusaha sabar atas perilaku dan sifat Emerensiana Lae yang sering marah-marah.

Pada tahun 2019 yang lalu setelah Boni Hale diangkat menjadi Kepala Desa Makir,
sifat dan perilaku Emersiana Lae tidak pernah berubah bahkan semakin parah
karena keduanya sering bertengkar di Kantor Desa yang mana disaksikan oleh aparat desa.

Sejak menjadi Kepala Desa Makir juga, tergugat gampang marah, sering mencari-cari masalah terhadap penggugat bahkan mengujar kebencian terhadap keluarga besar Penggugat dengan menggunakan kalimat-kalimat kasar bahkan tergugat sendiri tidak pernah menghargai ibu kandung Penggugat.

Untuk mempertahankan bahtera rumah tangga mereka, Boni Hale telah berusaha sabar dengan terus berkomunikasi, membuang ego masing-masing hingga membuat prioritas hidup keluarga.

Akan tetapi, Maria Emersiana Lae tidak bisa berubah sikap dan prilakunya. Pertengkaran pun tak terhindari disebabkan Tergugat sering marah-marah tanpa sebab dan alasan bahkan menuduh Penggugat berselingkuh dengan wanita idaman lain.

Baca juga :  Pasca Kebakaran Danramil 01/Pc. Soal Pimpin Anggota Bersihkan Puing-Puing Sisa Kebakaran

Pada tahun itu juga yaitu diakhir tahun 2019 Penggugat dan Tergugat berpisah tempat tinggal/ berpisah ranjang.

Atas keadaan rumah tangga yang demikian, Boni Hale merasa rumah tangga antara keduanya sudah tidak mungkin dapat dipersatukan kembali atau hidup bersama sebagai suami/ isteri.

Sejak permasalahan itu yang mana keduanya sudah hampir 2 tahun tinggal terpisah, maka tidak mungkin lagi dapat dipertahankan dan disatukan dalam kehidupan rumah tangga sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan jo. pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975.

Atas alasan-alasan tersebut maka Bonifasius Hale Mau selaku penggugat memohon memeriksa dan memutus perkara itu dengan amar sebagai-berikut;

1. Menerima dan mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

2. Menyatakan perkawinan antara Bonifasius Hale Mau dan Maria Emerensiana Lae pada tanggal 25 Oktober tahun 2010 di Gereja Katholik Kapela Sta. Maria Fatima Tahon yang beralamat di desa Makir – Kecamatan Lamaknen – Kabupaten Belu dan telah terdaftar dalam Akta Catatan Sipil pada tanggal 27 Desember 2010 sebagaimana tertuang dalam Kutipan Akta Perkawinan Nomor 5304CPK2712201001257 yang dicatat di Kantor Pencatatan Sipil Kabupaten Belu putus karena perceraian dengan segala akibat hukumnya;

3. Memerintahkan kepada Panitera Pengadilan Negeri Atambua untuk mengirimkan salinan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap kepada Kantor Catatan Sipil Kabupaten Belu untuk dicatat dalam daftar yang disediakan;

Baca juga :  Bali Terima Bantuan Medis dari Adira Finance

4. Membebankan kepada Tergugat untuk membayar biaya perkara;

Jadwal persidangan pun berlangsung. Penggugat, Bonifasius Hale Mau selalu datang menghadap di Persidangan. Sementara Tergugat, Maria Emerensiana Lae tidak datang menghadap ataupun menyuruh orang lain menghadap untuk mewakilinya meskipun berdasarkan risalah panggilan sidang tanggal 10 Juni 2021, tanggal 17 Juni 2021, dan tanggal 24 Juli 2021 telah dipanggil dengan patut. Tergugat tidak datang dengan disebabkan oleh sesuatu halangan yang sah.

Oleh karena Tergugat, Maria Emerensiana Lae telah dipanggil secara sah dan patut, akan tetapi Tergugat tetap tidak hadir maka pemeriksaan perkara ini dilanjutkan dengan tanpa hadirnya Tergugat dengan membacakan surat gugatan Penggugat.

Tertanggal 25 Agustus 2021 dalam persidangan terbuka telah menyatakan mengadili :

1. Menyatakan Tergugat yang telah dipanggil secara sah dan patut namun tidak hadir;

2. Menjatuhkan putusan terhadap perkara a-quo dengan verstek

3. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

4. Menyatakan perkawinan antara Penggugat dengan Tergugat putus karena perceraian

5. Memerintahkan kepada Panitera Pengadilan Negeri Atarmbua untuk mengirimkan salinan resmi putusan tanpa materai dari putusan yang telah berkekuatan hukum yang tetap kepada Kantor Catatan Sipil Kabupaten Belu agar perceraian ini dicatat pada bagian pinggir dari daftar catatan perkawinan tersebut

6. Menghukum Tergugat untuk mombayar biaya perkara ini sebesar Rp.895.000.

Penulis – Rony|Editor – Christovao

Facebook Comments