Atdikbud RI Canberra Luncurkan ‘Kawan Ngobrol’ untuk Pemelajar BIPA Australia

35
Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Canberra meluncurkan program ‘Kawan Ngobrol’. Peluncuran dilakukan di Pusat Kebudayaan Indonesia Canberra pada Selasa (23/1). Foto : Dok - Humas

CANBERRA, The East Indonesia — KBRI Canberra terus menggencarkan promosi Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di wilayah Australia. Untuk memfasilitasi pemelajar BIPA melakukan praktik percakapan Bahasa Indonesia, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Canberra meluncurkan program ‘Kawan Ngobrol’. Peluncuran dilakukan di Pusat Kebudayaan Indonesia Canberra pada Selasa (23/1).

Kawan Ngobrol merupakan program bulanan yang mempertemukan para pemelajar BIPA di Canberra dengan penutur asli Indonesia. Dalam pertemuan ini mereka dapat ngobrol santai dalam bahasa Indonesia, sehingga dapat membantu meningkatkan kemampuan percakapan para pemelajar BIPA. Program ini terbuka untuk seluruh pemelajar BIPA yang ingin mengembangkan kemampuan bahasa Indonesianya.

Menurut Atdikbud KBRI Canberra, Mukhamad Najib, program ini bertujuan untuk memberikan ruang dan kawan kepada masyarakat Canberra yang ingin belajar bahasa Indonesia. “Sebagaimana layaknya kawan, program Kawan Ngobrol ini memberikan kenyamanan kepada para pemelajar BIPA untuk bercakap-cakap tanpa harus merasa tertekan seperti jika mereka belajar di dalam kelas,” jelas Najib.

Baca juga :  Memasuki Pertemuan Inti, Pengamanan Laut dan Darat di Kawasan Nusa Dua Diperketat

Saat ini terdapat 16 sekolah dan 2 universitas di Canberra yang memberikan pelajaran bahasa Indonesia. Dua universitas tersebut adalah Australian National University dan University of New South Wales kampus Canberra. Selain itu ada lembaga nonsekolah dan kampus yang juga membuka kelas Bahasa Indonesia untuk orang dewasa, seperti Australia-Indonesia Association ACT. Sehingga, jika dilihat dari jumlah, pemelajar BIPA di Canberra cukup banyak.

Meski pemelajar bahasa Indonesia cukup banyak, namun bukan berarti tidak ada kendala dalam belajar bahasa Indonesia di Canberra. Salah satu tantangan yang ada adalah menemukan komunitas yang dapat membantu para pemelajar BIPA mempraktikkan apa yang telah dipelajari di sekolah maupun kampus. Program Kawan Ngobrol dimaksudkan untuk menciptakan komunitas bahasa Indonesia di Canberra, sehingga dapat membantu pemelajar berlatih keterampilan percakapan.

Baca juga :  Resmikan Indonesia Centre, KBRI Seoul Dorong Percepat Pemahaman Budaya Indonesia di Korsel

Selain dapat diikuti oleh pelajar dan mahasiswa, program ini juga dapat diikuti oleh warga Australia yang pernah bertugas atau tinggal di Indonesia dan ingin merawat bahasa Indonesia yang pernah dimilikinya. Seperti dikatakan oleh Steve yang pernah tugas selama dua tahun di Indonesia, ketika kembali ke Australia dirinya tidak menemukan lagi kawan untuk mempraktikkan Bahasa Indonesia, sehingga sudah mulai banyak kosa kata yang terlupa. Steve menyambut gembira adanya program Kawan Ngobrol ini, dan berjanji akan sering datang jika diberi tahu jadwal rutinnya.

Sementara Phil Domaschenz yang pernah bertugas di Jakarta selama satu tahun merasa rindu dengan bahasa dan budaya Indonesia. Phil berharap keberadaan ‘Kawan Ngobrol’ ini dapat mengobati rasa rindunya dengan Indonesia. Bagi Phil, adanya ‘Kawan Ngobrol’ ini baik sekali. Hal ini bukan hanya soal belajar bahasa saja, tapi Phil juga bisa bertemu dengan orang Indonesia dan tentunya makan makanan Indonesia yang sangat enak.

Baca juga :  Dilantik, Pemimpin Catalonia Serukan Kemerdekaan dari Spanyol

Acara perdana ‘Kawan Ngobrol’ mengangkat tema makanan Indonesia. Setiap orang menceritakan makanan Indonesia yang paling disukai. Ternyata para peserta cukup mengenal makanan Indonesia. Salah seorang peserta bernama Damian bahkan dapat menjelaskan perbedaan ragam nasi goreng yang ada di Indonesia, dari mulai nasi goreng seafood, nasi goreng kambing, sampai nasi goreng kampung. Damian juga bisa menjelaskan tipikal rasa makanan yang berbeda antar daerah di Indonesia. “Kalau makanan Sumatra, seperti Aceh umumnya pedas. Sementara makanan Jawa, khususnya Yogyakarta, umumnya manis. Saya lebih suka yang sedikit pedas,” tutur Damian.**Chris

Facebook Comments

About Post Author