Sunday, February 15, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Baru Belasan Hari Pergi Merantau, Amitu Diduga Dibunuh Sesama Orang Belu Di NTB

ATAMBUA, The East Indonesia – Jaimitu Fatima (23) diduga menjadi korban pembunuhan di Dusun Prawira, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) di sebuah kebun milik warga, pada Minggu 26 Mei 2024.

Almarhum yang akrab disapa Amitu adalah anak ke 5 dari 8 bersaudara dari pasangan Joaong Lay dan Brigida Gomes.

Amitu lahir dari keluarga yang sederhana. Dia menamatkan Sekolah Menengah Atas di SMAN I Atambua.

Amitu bersama keluarganya tinggal di Ursulin, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi NTT.

Berdasarkan pengakuan salah satu perwakilan keluarga atas nama Emanuel Ulu menjelaskan bagaimana perjalanan singkat almarhum Jaimitu Fatima yang berakhir dengan menjadi korban pembunuhan.

Pada tanggal 13 Mei 2024 Amitu Fatima berangkat dari rumahnya di Ursulin ke Lombok, NTB melalui jalan darat ke Kupang.

Sampai di Kupang keberangkatan sempat tertunda sebab Kapal penumpang baru akan berlayar pada tanggal 18 Mei dan tiba di Mataram pada 21 Mei 2024.

Amitu berangkat ke Lombok – NTB dengan membawa uang yang pas – pasan saja.

Kepergiannya adalah bekerja untuk merubah nasib sebab kondisi ekonomi keluarga yang cukup terbatas yang mana awalnya Amitu Fatima berkomunikasi dengan teman – temannya yang ada di Lombok bahwa ada pekerjaan baginya.

Namun naasnya, teman – teman yang berkomunikasi dengan Amitu-lah yang kemudian menjadi pelaku pembunuhan.

Dikatakan pihak keluarga bahwa sesampainya di Mataram, Amitu tetap aktif berkomunikasi dengan keluarga di Atambua melalui Handphone.

“Dia Telpon dan WA kepada keluarga dan adik – adik bahwa sudah tiba dengan selamat dan sudah mulai bekerja,” tutur Emanuel Ulu.

Dan terjadilah sesuatu yang tidak pernah keluarga bayangkan yaitu pada hari Minggu tanggal 26 Mei 2024 pihak mendengar berita bahwa anak mereka meninggal dengan cara menggantung diri.

“Kami seperti tidak percaya, bagaimana mungkin hal ini terjadi sebab dia berangkat dari sini dalam keadaan sehat walafiat. Setahu keluarga Amitu Fatimah tak ada masalah apapun di keluarga atau lainnya yang membuat dirinya stres hingga harus mengakhiri hidup dengan cara tragis seperti itu.,” pintanya.

Ditambahkan,”Kami betul – betul tidak bisa menerima kenyataan itu sehingga sejak hari minggu kami tetap menghubungi anak – anak kita yang ada di Mataram.”

Sampai berita terakhir yang diketahui keluarga bahwa Amitu bukan mati bunuh diri melainkan dibunuh.

Yang membuat keluarga lebih sakit hati lagi adalah tersangka yang membunuh bukanlah orang lain.

“Tersangka yang membunuh ini bukan orang lain tetapi teman – temannya sendiri, ini yang membuat kami sakit hati luar biasa seperti tidak menerima kenyataan ini,” ujar Emanuel Ulu.

Saat itu pihak keluarga hanya mengharapkan jenasah dikembalikan ke Atambua. Hal ini karena keluarga tidak mampu membiayai kepulangan jenasah Amitu Fatima.

Disaat – saat terakhir sebelum kematiannya, Amitu aktif mengirim pesan Whatsapp dengan keluarga yang menceritakan bagaimana kondisinya dan dia dalam situasi yang terjepit.

Pesan Whatsapp tersebut menjadi sangat viral di media sosial dan menjadi penunjuk sebab kematian Amitu Fatima.

Dalam pesan itu Amitu mengatakan bahwa dia diberikan zat semacam narkoba dan diperlakukan tidak manusiawi.

Keluarga berharap polisi mengungkap kasus ini dan memberikan keadilan bagi keluarga korban.

“Kami dari keluarga mengharapkan kasus pembunuhan Amitu Fatima diusut ssmpai tuntas. Kami sangat berterimakasih kepada Polres Lombok Utara yang telah menangani kasus ini,” ungkap Ulu Emanuel.

Pihak kepolisian sempat meminta ijin keluarga untuk dilakukan autopsi dan keluarga mengijinkan.

Pihak keluarga almahum juga menyampaikan terimakasih kepada keluarga besar Atambua di Lombok, Pastor Paroki setempat serta pengurus lingkungan dimana Amitu tinggal selama disana.

Dilansir, Radar Lombok.co.id, kurang dari 48 jam Polres Lombok Utara berhasil mengungkap kasus pembunuhan yang terjadi di Dusun Perawira, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara yang awalnya diduga korban gantung diri di sebuah kebun milik warga.

Korban berinisial Jaimitu Fatima (23) seorang mahasiswa asal Atambua, NTT itu diduga dibunuh oleh tiga pelaku, salah satu pelaku adalah pimpinan Koperasi Jaya Perkasa.

Tiga pelaku yang diamankan polisi adalah pimpinan koperasi berinisial PCM (23), pengawas lapangan koperasi berinisial AYT (32) dan PFM (19).

Kapolres Lombok Utara, AKBP Didik Putra Kuncoro mengungkapkan bahwa korban diduga dibunuh oleh tiga rekan salah satunya pimpinan perusahaan tempat korban bekerja.

“Korban JF sama-sama bekerja di koperasi bersama tiga pelaku. Korban baru 1 minggu kerja di koperasi tersebut,” ungkapnya, Rabu (29/5/2024)

Dijelaskan Kapolres, korban baru satu minggu bekerja dan ingin pulang ke tempat asalnya namun korban masih memiliki utang di koperasi Rp500 ribu.

Karena korban belum bisa membayar utang tersebut, pelaku PCM selaku pimpinan koperasi emosi dan kesal sehingga cekcok, dan terjadi pemukulan kepada korban.

Korban pun lari dan kemudian dikejar oleh pelaku dengan menggunakan sepeda motor.

Oleh ketiga pelaku, korban dibawa ke tanah kosong dan dianiaya hingga tidak sadarkan diri.

“Para pelaku menganiaya korban dengan cara memukul menggunakan sebatang kayu pada bagian punggung dan kepala. Korban hilang kesadaran dan diduga langsung meninggal dunia,” Bener Kapolres.

Panik dengan kondisi korban yang telah meninggal, ketiga pelaku kemudian merekayasa kejadian tersebut seolah-olah korban gantung diri. Korban diikat menggunakan baju di sebuah kayu.

Para pelaku juga menyiram air ke celana korban seolah-olah benar korban menggantung diri.

Ketiga pelaku saat ini diamankan di rutan Polres Lombok Utara untuk proses penyidikan selanjutnya.

Berdasarkan data yang dihimpun ternyata para pelaku sama-sama berasal dari Kabupaten Belu, Provinsi NTT.

Untuk diketahui juga bahwa sore ini, Kamis 30 Mei akan dilakukan penguburan jenasah Amitu Fatima. Jenasah terlebih dahulu akan dibawa ke Gereja Kuneru di Kota Atambua, Kabupaten Belu untuk dilakukan misa requiem dan selanjutnya dibawa ke pemakaman.(Rony)

Popular Articles