ATAMBUA, The East Indonesia – Menjalani masa pidana di ruangan sempit dan berteralis besi bukanlah suatu penghalang bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Atambua untuk berkarya berkreasi menciptakan produk kerajinan tangan bernilai seni tinggi, salah satunya adalah membuat bingkai foto dari kertas dan tas dari kain perca.
Kepala Sub Seksi Kegiatan Kerja Lapas Atambua, Andra Sukabir menjelaskan karya tersebut dihasilkan oleh WBP yang berada di dalam tembok Lapas.
“Adalah WBP berinisial MJ bersama WBP lainnya, yang membuat kerajinan tangan unik tersebut. Lewat tangan dingin mereka, mereka berhasil membuat banyak kerajinan tangan yang cukup diminati oleh para pengunjung,” terang Andra Sakabir, Senin 3 Maret 2025.
Dijelaskan pula bahwa hasil kerajinan tersebut dipajang di ruangan kunjungan dimana para pengunjung dapat melihat-lihat, bahkan bila tertarik dapat membelinya dengan harga yang tidak merogoh kocek terlalu dalam.
Kepala Sub Seksi Kegiatan Kerja Lapas Atambua mengatakan bahwa Pembinaan keterampilan ini diharapkan dapat meningkatkan potensi kreatif WBP Lapas Atambua dalam menciptakan produk bernilai seni tinggi yang dimana kampu mendukung salah satu poin dari 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi & Pemasyarakatan, yakni pada poin 3 yaitu peningkatan pendayagunaan WBP menghasilkan produk UMKM.
Sementara itu, WBP berinisial MJ mengakui sebelumnya dirinya tidak memiliki kemampuan untuk menghasilkan kerajinan seperti bingkai foto, kota persembahan, kotak tisu yang terbuat dari kertas. Selain itu, pembuatan tas kami buat dari kain perca.
“Melalui pembinaan keterampilan ini kami WBP mampu menghasilkan berbagai produk dari limbah kertas kantor. Dalam 4 hari kami mampu menggulung kertas dengan lem weber menghasilkan 5000 stik kertas. Kemudian dari stik kertas dan lem kami mulai merangkai membentuk pola bingkai foto, kotak tisu, dan lain-lain sesuai permintaan pembeli. Banyak kerajinan yang laku terjual memberi motivasi bagi kami untuk terus berkarya,” terang MJ.
WBP lainnya berinisial RM mengakui dirinya difasilitasi dengan mesin jahit yang ada di Lapas, sehingga dirinya mampu tetap berkarya.
“Hobi saya dalam menjahit mendapat dukungan penuh dari Bapa dan Mama Petugas di Lapas Atambua sehingga dapat menghasilkan produk tas yang banyak diminati pengunjung. Dalam seminggu ada 4 tas yang laku dibeli oleh pengunjung,” terang RM. (Ronny)


