Sunday, May 24, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Jaga Tradisi Leluhur, Barazanji Menggema di Kampung Bugis Serangan dan Telur Maulid Menyemai Kebersamaan

DENPASAR, The East Indonesia — Lebih dari seratus jamaah memadati Masjid AsSyuhada, Kampung Bugis. Lantunan salawat dan Barzanji menghangatkan suasana
ketika anak-anak, orang tua, dan para tetua duduk bersisian; Maulid Nabi terasa
bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momen pengingat kepada teladan
Rasul (Minggu, 7/9).

Sejak bait pertama dilantunkan, perayaan ini memanggil ingatan kolektif yang
diwariskan turun-temurun di Kampung Bugis: Barzanji, tausiyah, dan pembuatan
telur hias untuk kemudian dibagikan kepada warga. Sederhana, meriah, dan
menyentuh—cara komunitas ini merayakan cinta kepada Nabi Muhammad SAW
dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Perayaan Maulid Nabi di Kampung Bugis Serangan telah menjadi tradisi yang
diupayakan terus terlaksana di Kampung Bugis Serangan, “Kami jaga, kami rawat,
apa yang menjadi tradisi warisan orang tua. Tentunya tidak menyimpang dari
koridor syariat agama,” jelas H. Mahmuluddin.

Rangkaian acara diawali dengan Barzanji dipimpin oleh H. Mahmuluddin dan
Muhammad Usman. Barazanji menjadi tradisi melantunkan teks maulid Mawlid alBarzanji—kisah hidup Nabi Muhammad SAW yang dirangkai pujian dan doa. Dibaca dengan khusyuk, berjamaah dan sering dilagukan, terutama saat Maulid Nabi.

Dalam pemaknaannya, H. Mahmuluddin dan Muhammad Usman sebagai yang
dituakan di Kampung Bugis Serangan menekankan bahwa Maulid adalah saat
memperbarui komitmen untuk mengamalkan kisah-kisah teladan Nabi—jujur
dalam bermuamalah, lembut dalam keluarga, adil dalam keputusan, dan rendah
hati dalam pelayanan.

Dalam sesi dakwah, tersirat pesan mengingatkan umat pada jejak hidup Rasul yang
harus diterjemahkan menjadi pedoman praktis: dari cara bertutur, mencari rezeki,
hingga bagaimana menolong tetangga.

Perayaan Maulid Nabi, identik dengan Telur Maulid menjadi simbol yang mudah
dipahami anak-anak hingga orang dewasa—kehidupan yang dijaga, rezeki yang
dibagi, harapan yang tumbuh. Tahun ini, pembagian semakin tertata, termasuk
donasi 150 butir telur hias dari PT Bali Turtle Island Development (BTID) yang turut
mendukung agar setiap keluarga merasakan kebersamaan yang tanpa perbedaan.
Lebih dari seribu telur maulid dibagikan dari masjid menuju rumah warga.Pesan
yang mengalir tetap sama: meneladani Nabi dimulai dari hal kecil yang konsisten,
seperti menyapa lebih ramah, menepati janji, dan hadir untuk sesama.

Penutup perayaan menghadirkan pemandangan hangat: anak-anak dan ibu-ibu
tersenyum bahagia membawa pulang ribuan telur hiasambil bertukar doa. Gema
Maulid di Kampung Bugis, Desa Serangankembali menegaskan bahwa cintanya kepada Rasul menemukan bentuk terbaiknya ketika berubah menjadi tindakan—
akhlak yang terasa, pelayanan yang nyata, dan persatuan yang semakin erat.

“Secara filosofi, perayaan ini untuk mempererat hubungan satu sama lain. Dalam
konteks Islam, kita semua bersaudara,” tegas H. Mahmuluddin menutup
perbincangan saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.**

Popular Articles