SINGARAJA, The East Indonesia – Dharma Santi Nyepi 1948 Saka digelar di Gedung Serbaguna Desa Adat Gerokgak, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Sabtu (9/5). Kegiatan ini dihadiri krama adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta perwakilan dari berbagai desa adat se-Kecamatan Gerokgak.
Dharma Santi menjadi rangkaian penutup Hari Raya Nyepi sekaligus wadah mempererat hubungan harmonis antara masyarakat dengan para pemimpin daerah.
Ketua DPRD Buleleng, Ketut Ngurah Arya, menegaskan, dharma Santi bukan sekadar seremoni pasca-Nyepi. Kegiatan ini sarat makna untuk membangun komunikasi dan kebersamaan di tengah masyarakat.
“Dharma Santi hari ini berkaitan dengan pelaksanaan Nyepi kemarin. Konsepnya bagaimana membangun komunikasi yang baik antara masyarakat dan pemimpin, saling mendukung, dan memberikan yang terbaik untuk masyarakat,” ujar Ngurah Arya.
Untuk memperkuat penyampaian pesan moral, panitia menghadirkan pertunjukan wayang Ceng Blonk. Nilai-nilai kehidupan dan spiritual yang disampaikan lewat wayang diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengabdian kepada masyarakat.
“Kami mengundang dalang agar nilai-nilai kehidupan yang kita jalani dan pahami bisa diimplementasikan secara nyata,” katanya.
Politisi PDI Perjuangan asal Gerokgak itu menambahkan, Dharma Santi menjadi ruang refleksi bersama. Baik masyarakat maupun pemimpin diajak terus menghadirkan kedamaian serta memperkuat nilai spiritual dalam kehidupan sosial.
“Filosofi Dharma Santi adalah bagaimana pemimpin mampu memunculkan kedamaian di masyarakat dan membangun ruang-ruang spiritual di tengah kehidupan,” tandas Ngurah Arya.(Wis)
Jadi Ruang Refleksi Pasca-Nyepi, Dharma Santi Gerokgak Hadirkan Pesan Damai Lewat Wayang


