ATAMBUA, The East Indonesia – Ribuan pasang mata menjadi saksi keindahan kolosal saat 3.356 penari dari berbagai wilayah bersatu di hamparan hijau Padang Savana Fulan Fehan, Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, pada Sabtu, 27 Juni 2026.
Pertunjukan budaya skala besar ini berhasil memukau dunia lewat gerak harmonis yang dibawakan oleh para penari gabungan dari Kabupaten Belu, Timor Tengah Utara (TTU), mahasiswa Universitas Pertahanan (UNHAN) RI, hingga delegasi dari negara tetangga, Timor Leste.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI, Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D., membuka langsung pergelaran akbar ini secara simbolis dengan memukul alat musik tradisional Tihar.
Pemukulan Tihar tersebut disambut gemuruh tepuk tangan dari ribuan penonton yang memadati kawasan wisata alam ikonik tersebut.
Momentum diplomasi budaya ini juga dihadiri oleh sederet pejabat penting lintas Negara dan Daerah, di antaranya adalah Wakil Mendagri RI, Wali Kota Darwin (Australia), Menteri Muda Kebudayaan Timor Leste, Ketua Umum TP PKK Pusat Ny. Tri Tito Karnavian, serta Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena.
Hadir pula Rektor ISI Surakarta, Wakil Rektor IPDN, Wakil Bupati Kupang, serta perwakilan dari pemerintah Kabupaten TTU dan Malaka.
Sinergi ini menegaskan bahwa Fulan Fehan tidak hanya menjadi panggung seni, tetapi juga simbol persaudaraan kokoh di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste.
Mendagri Tito Karnavian mengungkapkan kekagumannya yang tak terbendung. Berbeda dengan panggung-panggung buatan di kota-kota besar, ia menilai Lembah Fulan Fehan sebagai anugerah ilahi yang sempurna.
“Saya sudah sering menyaksikan acara kolosal di berbagai wilayah, tapi itu semua buatan manusia. Hari ini, saya berdiri di panggung yang bukan dibuat manusia, melainkan diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Padang rumput yang indah, berbukit-bukit, dengan Gunung Lakaan yang menjulang tinggi di kejauhan. Ini adalah hadiah Tuhan untuk masyarakat Belu, NTT, dan Indonesia,” ujar Mendagri dengan nada haru.
Bagi Mendagri, keindahan alam yang dipadukan dengan kekayaan budaya lokal menjadikan Belu sebagai ikon kebanggaan nasional.
Ia yakin, tenun dan seni pertunjukan Belu memiliki kualitas yang mampu membuat desainer dunia iri karena warisan ratusan tahun yang terus disempurnakan dari generasi ke generasi.
Pertunjukan Likurai kali ini mengusung tema “Dance for Friendship” memiliki makna persatuan yang mendalam.
Ribuan penari yang berasal dari empat suku berbeda di sekitar Kabupaten Belu bergerak harmonis dalam satu irama, simbolisasi dari persaudaraan yang melampaui batas etnis.
Lebih istimewa lagi, kehadiran penari dari Timor Leste menegaskan pesan diplomasi budaya bahwa di perbatasan, tidak ada sekat permusuhan, hanya ada ruang untuk memperbanyak sahabat.
“Dari empat suku bergabung menjadi satu dalam tarian persahabatan. Dan saudara-saudari kita dari Timor Leste juga hadir memperkaya persahabatan ini. Kita bersahabat dengan Timor Leste, bahkan dengan Australia melalui kehadiran Wali Kota Darwin,” tegas Mendagri.
Mendagri Tito Karnavian menekankan bahwa meskipun bahasa dan latar belakang budaya berbeda, semua tetap bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sambil menjaga hubungan baik dengan negara tetangga.
Kehadiran tokoh internasional seperti Wali Kota Darwin dan Menteri Muda Kebudayaan Timor Leste menunjukkan bahwa Festival Fulan Fehan telah bertransformasi menjadi ajang diplomasi budaya tingkat regional.
Mendagri berharap event ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga pelajaran berharga tentang toleransi, pelestarian lingkungan, dan kekuatan soft power budaya.
“Mudah-mudahan acara ini memberikan kenangan indah dan pelajaran bagi kita semua. Saya berdoa agar tahun depan festival ini lebih meriah lagi, dan saya bisa kembali ke Fulan Fehan yang magis ini,” pungkasnya. (Ronny)


