PADANG, The East Indonesia – Bagi Pepi Mulyasari, mendaftarkan putranya ke SLBN 1 Padang bukan hanya memenuhi tahapan administrasi. Di balik proses itu tersimpan harapan agar anaknya yang merupakan penyandang Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya. Kekhawatiran terhadap stigma sempat membuatnya ragu, namun pelayanan yang terbuka dan pendampingan dari sekolah mengubah keyakinannya.
“Kami merasa sangat diperhatikan. Semua dijelaskan dengan rinci dan tidak terburu-buru. Harapan saya sederhana, anak saya bisa belajar dengan nyaman dan mendapatkan pelayanan yang sesuai hingga anak saya bisa menggali kemampuannya dan berkembang sesuai minat dan bakatnya. Keistimewaan yang dititipkan akan saya rawat hingga ia meraih masa depannya,” ujar Pepi.
Pengalaman Pepi menjadi salah satu potret pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Ramah di Sumatra Barat. Tidak hanya pengalaman yang dirasakan Pepi, orang tua lainnya di SLBN 1 Padang, SMAN 12 Padang, dan SMKN 6 Padang, juga merasakan layanan prima saat mendaftarkan anak-anak mereka.
Provinsi Sumatra Barat telah menjalankan proses penerimaan murid baru yang mengedepankan pelayanan yang transparan, akuntabel, dan inklusif agar setiap calon murid memperoleh kesempatan yang setara.
Sebagaimana SPMB yang berlangsung di SMKN 6 Padang, panitia memastikan seluruh informasi pendaftaran dapat diakses masyarakat secara terbuka sekaligus memberikan pendampingan bagi calon murid yang masih memerlukan arahan dalam memilih konsentrasi keahlian.
“Secara prosedur administrasi, pelaksanaan SPMB di SMKN 6 Padang berjalan lancar. Pihak sekolah berupaya untuk memberikan pelayanan yang dapat membantu orang tua dan calon murid. Akan tetapi, yang menjadi PR kami adalah mengarahkan calon murid karena banyak calon murid yang bimbang untuk memilih salah satu dari dua konsentrasi keahlian yang mereka tulis di formulir pendaftaran,” ujar Guru SMKN 6 Padang sekaligus panitia SPMB, Annisa Fitria.
Pelayanan yang terbuka juga dirasakan calon murid SMAN 12 Padang, Zahran Ai Syerky. Menurutnya, informasi yang jelas membuat proses pendaftaran berjalan lebih tenang. “Informasinya lengkap dan mudah dipahami. Kalau ada yang kurang jelas, guru langsung membantu menjelaskan. Jadi, kami lebih tenang mengikuti proses pendaftaran. Kendalanya ya hanya antre panjang karena banyak calon murid yang daftar, selebihnya aman dan lancar,” tuturnya.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap SPMB dibangun melalui pelayanan yang baik, komunikasi yang terbuka, serta pelaksanaan seleksi yang sesuai ketentuan. “SPMB merupakan pintu masuk layanan pendidikan. Oleh karena itu, seluruh satuan pendidikan harus memastikan proses penerimaan berjalan secara terbuka, jelas, dan inklusif. Pelaksanaan SPMB Ramah bukan hanya proses penerimaan calon murid baru, tetapi juga gerbang pertama pengalaman positif bagi murid, orang tua, untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu,” tegas Tatang.
Praktik baik yang ditunjukkan sekolah-sekolah di Kota Padang memperlihatkan bahwa SPMB bukan hanya proses seleksi semata. Ketika informasi disampaikan secara terbuka, pelayanan diberikan tanpa diskriminasi, dan setiap keluarga didampingi sesuai kebutuhannya maka SPMB menjadi awal tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan pendidikan yang adil, akuntabel, dan bermutu.***


