Saturday, July 11, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Melalui SMSI, Warga Bali Menitipkan Harapan Jelang Terbentuknya Pusat Keuangan Dunia

DENPASAR, The East Indonesia – Jelang pembahasan Rancangan Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) pada 21 Juli mendatang, warga Bali menitipkan sejumlah harapan ke Pemerintah Pusat dan DPR RI. Harapan itu mencuat dalam acara Focus Group Discussion (FGD) PFII yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) di Kantor DPD RI Provinsi Bali, Jumat 10 Juli 2026.

FGD PFII bertema “Menangkapitalisasi Likuiditas Global untuk Akselerasi Infrastruktur dan Pembangunan Nasional Berkelanjutan” yang digelar SMSI Bali ini menghadirkan narasumber Dewan Pakar PHRI Bali, Trisno Nugroho dan Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Luar Negeri SMSI Pusat, Dr. Agus Syabarrudin, dan diskusi dipandu Wakil Ketua Umum SMSI Pusat Yono Hartono.

Menanggapi pemaparan materi oleh narasumber, sejumlah pananggap mengungkapkan persoalan krusial di Bali jelang pembentukan Bali sebagai Pusat Finansial Internasional Indonesia. Para penanggap berharap, jelang Bali sebagai pusat keuangan internasional, kesiapan sumber daya manusia (SDM) untuk bisa bersaing dalam kesempatan kerja.

“RUU PFII akan dibahas oleh Pemerintah Pusat dan DPR Ri tanggal 21 Juli nanti, tapi perlu diingat bahwa kesiapan SDM masyarakat Bali perlu dipikirkan. Agar generasi atau angkatan kerja Bali mampur bersaing. Oleh karena itu, jelang pembahasan RUU itu kami titipkan harapan agar diperhatikan,” ungkap Adi Wirawan, salah seorang penanggap.

Sementara penanggap lainnya berharap agar dengan terbentuknya Bali sebagai pusat keuangan internasional dapat memudahkan investor lokal. Tak hanya itu, persoalan kemacetan Bali juga diharapkan mendapat perhatian pemerintah pusat.

Selain persoalan kesiapan SDM dan kemacetan serta iklim investasi, para penanggap lainnnya juga berharap agar manfaat PFII bagi warga Bali di sekitar kawasan penyangga ekonomi sekitar lokasi yang akan dijadikan lokasi PFII.

Moderator FGD, Yono Hartono menyimpulkan sejumlah point hasil diskusi. Yono mengaku, persoalan dan harapan yang mencuat dalam FDG ini, akan dikomunikasikan SMSI Pusat ke Lembaga DPR RI sebelum pembahasan RUU PFII tanggal 21 Juli mendatang.

FGD PFII dibuka oleh Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, dan dihadiri jajaran pengurus SMSI Pusat, SMSI Provinsi Bali, serta insan pers dari berbagai daerah di Bali.

Dalam sambutannya, Sanjaya mengapresiasi kepercayaan SMSI Pusat yang memilih Bali sebagai lokasi pertama penyelenggaraan FGD Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Menurut Sanjaya, Indonesia memiliki sumber daya yang sangat besar sehingga layak menjadi pusat keuangan dunia.

“Kalau dibandingkan dengan negara lain, Indonesia ini negara yang sangat kaya. Tetapi mengapa Singapura yang menjadi pusat keuangan dunia? Ini yang menarik. Semestinya kita, khususnya masyarakat dan pemerintah Bali, menjadi garda terdepan untuk menjadikan Bali sebagai pusat keuangan dunia,” tandas Sanjaya.

Ketua Umum SMSI Pusat, Firdaus, menjelaskan Bali dipilih sebagai titik awal pembahasan PFII karena memiliki posisi strategis sebagai wajah Indonesia di mata dunia.

“Bali kami pilih sebagai tempat pertama untuk membahas Pusat Finansial Internasional Indonesia karena Bali merupakan etalase Indonesia. Ketika orang di dunia mengenal Indonesia, yang pertama kali mereka sebut adalah Bali,” ujarnya.

Firdaus mengatakan, selama ini pusat keuangan dunia identik dengan negara-negara seperti Swiss dan Singapura. Melalui gagasan PFII, Indonesia diharapkan mampu menghadirkan pusat finansial internasional yang dapat memperkuat perekonomian nasional.

“Selama ini Swiss dan Singapura selalu menjadi pusat uang dunia. Sekarang kita ingin Indonesia, khususnya Bali, memiliki kota yang menjadi pusat finansial internasional,” katanya.

Menurut Firdaus, keberadaan PFII nantinya tidak hanya akan memperkuat sektor keuangan, tetapi juga mempercepat pembangunan infrastruktur, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mendukung pelestarian budaya Bali.

“Kami berharap program ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Bali, baik dalam pembangunan infrastruktur maupun dalam mendukung pelestarian budaya Bali,” tambah Firdaus.

Sementara Ketua SMSI Provinsi Bali, Emanuel Dewata Oja, menegaskan bahwa pelaksanaan FGD merupakan program kerja SMSI Pusat dan SMSI Bali mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah penyelenggaraan perdana.

“Program ini sepenuhnya merupakan program kerja pengurus pusat. Saya sendiri tidak tahu mengapa Bali dipilih menjadi tempat pertama pelaksanaannya. Kami di Bali hanya bertindak sebagai penyelenggara atau tuan rumah,” ungkap pria yang akrab disapa Edo itu.

Melalui forum tersebut, SMSI berharap mampu menghimpun berbagai masukan dari akademisi, praktisi, pelaku industri, serta para pemangku kepentingan sebagai bahan penyusunan konsep Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) yang dapat mempercepat pembangunan nasional secara berkelanjutan.

FGD PFII yang digelar SMSI ini mendapat dukungan dari Bank BPD Bali bersama sejumlah perbankan lainnya. Hadir sebagai narasumber

Turut hadir dalam FGD tersebut Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali, Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Bali, Ketua SMSI kabupaten/kota se-Bali dan Perhimpunan Jurnalis Bali asal NTT. (*)

Popular Articles