ATAMBUA , The East Indonesia – Upaya pengembangan infrastruktur dasar di Kawasan Transmigrasi Tasifeto-Mandeu, Kabupaten Belu, telah memasuki tahap awal perencanaan.
Sebagai langkah konkret, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Balai Desa Trans Sanabibi, Selasa, 1 September 2026.
Kegiatan di bawah naungan Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia ini dipimpin langsung oleh Prof. I.D.A.A. Warmadewanthi, S.T., M.T., Ph.D., bersama seluruh anggota Tim Ekspedisi Patriot ITS.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Koperasi, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Belu, Petrus Alkantra Tribambang Manek, STP; Camat Tasifeto Timur, Maximus Loi Malik, S.IP; serta Penjabat (Pj) Kepala Desa Dafala, Rotario De Purificacao serta masyarakat setempat.
Forum ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan kajian lapangan guna mendukung perencanaan revitalisasi dan pengembangan jaringan air bersih, khususnya di Desa Dafala.
Program ini mengedepankan sinergi kuat lintas sektor. Kolaborasi ini melibatkan Kementerian Transmigrasi, Tim Ekspedisi Patriot ITS, Pemerintah Kabupaten Belu melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, pemerintah desa, tokoh masyarakat, hingga keterlibatan aktif warga Desa Dafala, terutama mereka yang bermukim di Dusun Buburlaka dan sekitarnya.
Sebelum FGD ini digelar, Tim Ekspedisi Patriot ITS dua hari sebelumnya telah terjun langsung melakukan peninjauan ke lapangan guna memeriksa sumber mata air yang terletak di kawasan Hutan Adat Sanabibi, wilayah Desa Dafala.
Survei awal yang juga dipimpin oleh Prof. Warmadewanthi tersebut menjadi bagian penting.
Melalui peninjauan itu, tim berhasil mengidentifikasi kondisi eksisting serta memetakan potensi sumber air yang selama ini telah menjadi penopang kebutuhan harian masyarakat setempat.
Usai kegiatan FGD, Ketua Tim Ekspedisi Patriot ITS, Prof. I.D.A.A. Warmadewanthi, S.T., M.T., Ph.D., menjelaskan bahwa pihaknya menampung berbagai masukan penting dari masyarakat, kepala desa, hingga camat setempat.
Dari hasil pemetaan awal, tim menemukan bahwa tantangan di lapangan tidak hanya berkaitan dengan masalah teknis, tetapi juga aspek sosial masyarakat.
“Tadi sudah disampaikan masukan-masukan dari masyarakat kemudian dari Pak Kades, Pak Camat. Kami akan berusaha untuk menelaah dulu karena ada beberapa hal yang mungkin perlu kami siapkan lagi. Untuk kondisi di lapangan karena ternyata ada permasalahan-permasalahan bukan hanya teknis saja tapi ada permasalahan-permasalahan sosial. Jadi nanti seperti sudah disampaikan bahwa beberapa pipa itu mungkin akan dibelokkan tidak melewati area-area yang tadi cukup berbahaya untuk dipotong oleh oknum warga,” ujar Prof. Warmadewanthi.
Selain jalur pipa, fokus utama perbaikan juga tertuju pada area hulu.
“Kami sendiri akan menyiapkan selama satu minggu ini perencanaan yang lebih matang kemudian akan disampaikan kepada Pak Kepala Desa kemudian ke Ketua Suku dan juga ke ibu Dusun untuk bisa disampaikan kepada para warga semua. Dan ternyata di hulu atau di sumber air itu kita perlu melakukan perbaikan karena pada saat musim hujan ternyata airnya keruh sehingga itu yang perlu kita perhatikan juga untuk perbaikan kedepannya,” tambahnya.
Melalui program revitalisasi ini, ITS berharap masyarakat setempat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga aktor utama dalam menjaga keberlanjutan infrastruktur air bersih yang akan dibangun.
Prof. Warmadewanthi sangat menekankan pentingnya rasa kepemilikan masyarakat terhadap fasilitas publik ini. Pihaknya mendorong warga untuk bergotong-royong selama proses perbaikan fisik dan aktif merawatnya secara mandiri dalam jangka panjang.
“Kami sangat berharap masyarakat seperti tadi kami sampaikan bisa membentuk lembaga yang untuk menjaga air ini. Karena air ini adalah sumber kehidupan dan air ini sangat dibutuhkan sebetulnya. Jadi dengan adanya kegiatan ini kami sangat warga ikut berpartisipasi mulai dari nanti ikut bergotong-royong untuk memperbaiki sumber-sumber kerusakan begitu juga bagaimana warga bisa mempertahankan agar infrastruktur ini bisa berfungsi dengan baik kedepan,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Belu, Petrus Alkantra Tribambang Manek, STP, menyampaikan terima kasih atas kehadiran Tim Patriot ITS yang difasilitasi oleh Kementerian Transmigrasi.
Manek menjelaskan bahwa ketersediaan sumber air di kawasan Transmigrasi Sanabibi sebenarnya mencukupi, namun kendala utama terletak pada sistem distribusi yang belum optimal.
Dengan adanya kajian teknis dan pendampingan dari ITS, pemerintah daerah optimistis persoalan distribusi air bersih di kawasan transmigrasi Dafala dapat segera terselesaikan dengan tepat.
Disisi lain, Penjabat (Pj) Kepala Desa Dafala, Rotario De Purificacao, pun menyatakan dukungan penuhnya terhadap program yang dibawa oleh Tim Patriot ITS.
Kehadiran program ini dinilai menjadi solusi vital bagi sekitar 50 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Buburlaka yang selama ini mengalami krisis air bersih.
“Kami sangat mendukung karena ini membantu masyarakat kami di Dusun Buburlaka yang kondisinya sangat kering. Untuk memenuhi kebutuhan harian, warga harus mengambil air dari sumber mata air yang jaraknya sekitar dua kilometer,” ungkap Rotario.
Rotario juga mengimbau seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga fasilitas yang nantinya akan dibangun oleh pemerintah agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Sebagai langkah konkret di tingkat desa, pihaknya akan menggerakkan perangkat desa, kepala dusun, hingga tingkat RT/RW untuk melakukan aksi nyata di lingkungan hulu.
“Nanti dari desa bersama masyarakat akan bergotong-royong menanam anakan pohon di sekitar sumber mata air. Ini untuk menjaga kelestarian lingkungan agar sumber air tersebut tidak kering di masa depan,” pungkasnya.
Apresiasi mendalam juga datang dari Willybrodus Ikun Saka, salah satu warga Dusun Buburlaka.
Dirinya menyampaikan rasa syukur atas pembangunan jaringan air bersih yang menyentuh langsung kebutuhan paling mendasar masyarakat.
“Kami sangat berterima kasih atas pelayanan yang mendekatkan pembangunan ini kepada masyarakat. Atas nama warga Sanabibi, kami siap berpartisipasi aktif dan mendukung penuh kegiatan ini hingga mencapai sasarannya,” pungkas Willy Saka. (Ronny)


