Sunday, October 4, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Mendikdasmen: Keteladanan Guru Menjadi Kunci Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Jakarta, The East Indonesia – Menghargai teman yang berbeda keyakinan, saling mendengarkan, dan bekerja sama menjadi bagian penting dari pengalaman belajar murid. Peran guru dalam menumbuhkan sikap tersebut menjadi perhatian dalam webinar internasional yang diselenggarakan Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Institut Leimena, Jumat (2/10), dalam rangka menyambut Hari Guru Sedunia dan Hari Guru Nasional.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa guru memiliki peran sebagai “Agent of Learning as well as Agent of Civilization”, yakni agen pembelajaran sekaligus agen pembangunan peradaban. Melalui keteladanan, guru membantu murid membangun karakter dan belajar saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari. “Substansi pendidikan itu membangun peradaban, membangun karakter,” ujar Abdul Mu’ti dalam sambutannya.

Menurut Mendikdasmen, sekolah perlu menjadi ruang perjumpaan bagi murid dengan beragam latar belakang. Di dalamnya, murid memperoleh kesempatan untuk mengenal, menerima, dan bekerja sama dengan mereka yang berbeda. Ia menyebut pentingnya toleransi yang otentik, yaitu tetap teguh pada keyakinan masing-masing sekaligus mampu menghargai dan memberi ruang kepada orang lain. “Perbedaan itu tidak boleh menjadi pemisah, tapi menjadi kekayaan untuk kita bekerja sama satu sama lain,” tuturnya.

Menteri Mu’ti juga menekankan bahwa lingkungan yang aman dan nyaman mencakup dimensi fisik, sosial, spiritual, dan digital. Penguatannya membutuhkan dukungan keluarga, masyarakat, serta media karena pengalaman anak di luar sekolah turut memengaruhi perilaku dan pembentukan karakternya.

Pesan tersebut sejalan dengan penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026. Kebijakan ini menempatkan pencegahan dan keterlibatan seluruh ekosistem pendidikan sebagai bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung murid.

Kepala Puspeka, Rusprita Putri Utami, menegaskan bahwa murid bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga perlu dilibatkan sebagai bagian aktif dalam membangun budaya sekolah aman dan nyaman. Melalui Gerakan Rukun Sama Teman, murid didorong menjadi Sahabat Hebat yang saling mendukung dengan prinsip Look, Listen, dan Link. Peka melihat teman yang membutuhkan dukungan, mendengarkan, dan menghubungkannya dengan bantuan yang tepat. “Budaya sekolah aman dan nyaman tidak lahir hanya dari regulasi. Budaya itu hidup dari relasi dan tindakan kita setiap hari. Dengarkan murid, cegah risiko sedini mungkin, dan respons dengan tepat,” ujar Rusprita.

Peran guru dalam membangun hubungan antarmanusia juga disampaikan Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, ia menekankan pentingnya pendidikan yang membantu murid menjalin relasi dengan sesama, termasuk mereka yang berbeda agama, kepercayaan, dan budaya. “Kita bukan mendidik robot, tapi manusia,” ujar Matius.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan pendidikan memerlukan dukungan yang melampaui lingkungan sekolah. “Keberhasilan guru dalam mendidik tidak lepas dari dukungan dan kerja sama masyarakat dan pemerintah, baik pusat maupun daerah,” katanya.

Menurut Matius, dalam lima tahun terakhir, program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang dijalankan Institut Leimena bersama puluhan lembaga mitra berbagai agama telah menjangkau lebih dari 12.000 guru dan pendidik lainnya dari 38 provinsi. Institut Leimena bekerja sama dengan Kemendikdasmen dan pemerintah daerah untuk mendorong pendekatan tersebut dalam memperkuat BSAN.

Chief of Education UNESCO Jakarta, Santosh Khatri, mengingatkan bahwa lingkungan belajar yang mendukung murid memerlukan lingkungan profesional yang juga mendukung guru. Ia menilai budaya sekolah yang aman dan nyaman merupakan bagian dari pengalaman belajar itu sendiri, tempat murid mengembangkan empati dan kemampuan hidup bersama.

Khatri menjelaskan bahwa kecerdasan buatan dapat membantu perencanaan pembelajaran dan pengembangan profesional. Guru tetap memiliki peran manusiawi untuk memahami kondisi murid, mengenali kesulitan yang belum mereka ungkapkan, serta membantu mereka belajar mendengarkan dan menghormati orang lain.

Belajar Hidup Bersama melalui Perjumpaan Lintas Agama Pengalaman penerapan di sekolah dibagikan Yonathan Djalimun, alumni LKLB sekaligus Wakil Direktur Sekolah Kristen Tritunggal. Dalam paparannya, ia menyoroti tantangan terbatasnya ruang interaksi dengan perbedaan di lingkungan pendidikan berbasis agama yang cenderung homogen.

Yonathan membagikan pengalaman kegiatan kokurikuler berbasis pengalaman dan kunjungan persahabatan lintas agama. Dokumentasi dalam paparannya memperlihatkan kunjungan murid SMA Tritunggal Semarang ke MA Al Manar Tengaran serta perjumpaan di Pondok Pesantren Amal Sholeh. Kunjungan tersebut menjadi langkah awal untuk menumbuhkan rasa saling percaya dan menghargai perbedaan. “Praktik lebih membekas ketimbang sekadar teori di kelas,” tulis Yonathan dalam paparannya.

Ia menggambarkan kegiatan yang berlangsung secara berkelanjutan dari tahun ke tahun, dengan jaringan kerja sama dan kesempatan berinteraksi yang semakin luas. Dalam refleksinya, ia menulis, “Siswa merasa aman, nyaman, dan percaya diri dalam kolaborasi lintas agama.”

Webinar bertema “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman” tersebut mempertemukan perspektif kebijakan, pengalaman pendidik, dan pandangan internasional mengenai pendidikan dalam keberagaman. Kegiatan ini didukung oleh Templeton Religion Trust dan berlangsung melalui Zoom dengan penerjemahan simultan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.*

Penulis & Dokumentasi|Tim Puspeka|Editor|Denty, Seno.

Popular Articles