Monday, October 19, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Dari Mitigasi hingga Pemulihan, Kemendikdasmen Bekali Guru untuk Tanggap Bencana

JAKARTA, The East Indonesia – Dalam rangka memperingati Hari Internasional Pengurangan Risiko Bencana, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong peningkatan kesadaran dan kompetensi guru dalam menghadapi risiko bencana. Upaya ini dilakukan melalui pembekalan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan guru untuk membangun kesiapsiagaan di lingkungan satuan pendidikan. Salah satunya melalui pelatihan tatap muka bagi guru dan tenaga kependidikan di empat provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan melibatkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemendikdasmen.

Pelatihan ini mencakup dua materi utama, yaitu Kesiapsiagaan Bencana bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) serta Layanan Dukungan Psikososial Pascabencana bagi PTK. Melalui kedua materi tersebut, guru dan tenaga kependidikan dibekali pemahaman mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana, mulai dari upaya mitigasi dan prosedur keselamatan hingga pendampingan psikososial bagi warga sekolah terdampak. Pengembangan materi pelatihan turut melibatkan mitra, seperti Save the Children dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dalam penyusunan modul pembelajaran.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani, menekankan bahwa kesadaran terhadap risiko bencana perlu menjadi bagian dari kompetensi guru. Kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana terjadi melalui penguatan pengetahuan, keterampilan, dan pembiasaan perilaku aman di lingkungan satuan pendidikan.

“Guru perlu memiliki kesadaran bahwa risiko bencana dapat terjadi kapan saja dan berdampak pada keselamatan murid serta keberlangsungan pembelajaran. Karena itu, guru perlu memahami langkah mitigasi dan kesiapsiagaan, mampu bertindak dengan tenang dan tepat dalam situasi darurat, serta memberikan pendampingan sesuai kebutuhan murid. Membangun guru yang sadar bencana merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan satuan pendidikan yang aman dan tangguh,” ujar Nunuk pada beberapa waktu lalu.

Direktur Guru Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal (PAUD dan PNF), Saiful Bari, dalam sambutan kegiatan sosialisasi bertema Guru Tangguh, Sekolah Tangguh: Bersama Membangun Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana,
menegaskan bahwa guru memiliki peran strategis dalam membangun kesiapsiagaan karena berinteraksi langsung dengan murid. Dalam situasi darurat, pengetahuan dan ketenangan guru dapat membantu murid memahami langkah yang harus dilakukan untuk menjaga keselamatan diri.

“Guru yang tangguh bukan hanya memahami prosedur keselamatan, tetapi juga mampu bersikap tenang, responsif, dan mengambil tindakan yang tepat ketika bencana terjadi. Kesiapsiagaan perlu dibangun sejak dini dengan melibatkan seluruh warga sekolah serta memperhatikan karakteristik dan kebutuhan setiap murid, termasuk murid yang membutuhkan pendampingan khusus,” ungkapnya.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kemendikdasmen melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan telah mengembangkan Modul Kesiapsiagaan Bencana dan Modul Layanan Dukungan Psikososial Pasca Bencana bagi PTK sebagai sumber pembelajaran bagi guru dan tenaga kependidikan. Modul ini diharapkan membantu pendidik memahami langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana, sekaligus menerapkan pengetahuan tersebut sesuai dengan kondisi dan kebutuhan satuan pendidikan.

Dari sisi mitigasi, Rina Utami dari Save the Children menekankan bahwa kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan mengenali potensi bencana. Sekolah juga perlu memastikan setiap warga sekolah memahami prosedur keselamatan dan mampu menerapkannya dalam situasi darurat.

“Kesiapsiagaan bencana tidak cukup hanya dengan mengetahui risiko yang mungkin terjadi, tetapi juga harus disertai pemahaman tentang langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk melindungi diri dan warga sekolah. Guru perlu memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, serta prosedur keselamatan dipahami oleh seluruh warga sekolah dan dilatih secara berkala. Kesiapsiagaan juga perlu memperhatikan kebutuhan setiap murid, termasuk mereka yang memerlukan pendampingan khusus, agar tidak ada yang tertinggal ketika situasi darurat terjadi,” ujar Rina.

Selain memastikan prosedur keselamatan berjalan dengan baik, sekolah perlu menyiapkan perlengkapan darurat, termasuk tas siaga bencana. Tas tersebut dapat berisi kebutuhan penting, seperti air minum, makanan tahan lama, obat-obatan pribadi, alat penerangan, sarana komunikasi, dan dokumen penting. Perlengkapan perlu diperiksa secara berkala agar selalu siap digunakan saat dibutuhkan. Kesiapsiagaan bencana juga mencakup pemulihan kondisi psikologis warga sekolah setelah bencana terjadi.

Yuria Ekalitani dari Himpunan Psikologi Indonesia menekankan pentingnya Layanan Dukungan Psikososial (LDP), tidak hanya bagi murid, tetapi juga bagi guru yang turut terdampak bencana.

“Guru bukan hanya sebagai penolong, tetapi juga sebagai individu yang membutuhkan pertolongan. Layanan Dukungan Psikososial perlu memastikan bahwa guru yang mendampingi murid juga mendapatkan kesempatan untuk didampingi. Guru yang terdampak bencana perlu memperoleh dukungan dan ruang untuk pulih agar dapat kembali menjalankan perannya dengan baik,” ungkap Yuria.

Nur Fajar Amalia, guru SMK Negeri 1 Meulaboh, Aceh, menyampaikan bahwa pelatihan kesiapsiagaan bencana membantu sekolah memahami bahwa pengetahuan mengenai risiko perlu disertai rencana tindakan yang jelas.

“Setelah mengikuti pelatihan, kami semakin memahami bahwa mengetahui risiko bencana saja belum cukup. Kami juga harus tahu apa yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi. Langkah pertama yang kami lakukan di sekolah adalah membentuk tim siaga bencana dengan melibatkan kepala sekolah, guru, komite sekolah, murid, dan wali murid,” tutur Nur Fajar.

Linggana Tesya, guru SMAN 1 Candung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menyampaikan bahwa potensi bencana di wilayahnya, termasuk gempa bumi dan erupsi gunung api, mendorong sekolah untuk meningkatkan edukasi kebencanaan serta membekali guru dengan pengetahuan yang memadai sebelum memberikan pendampingan kepada murid.

“Bagi kami, penting untuk membekali diri terlebih dahulu sebelum melakukan pendampingan kepada murid. Pemahaman mengenai risiko gempa bumi dan erupsi gunung api membantu guru mempersiapkan langkah yang tepat serta memberikan informasi yang dibutuhkan murid untuk menjaga keselamatan,” tutur Linggana.

Melalui pelatihan tatap muka dan pengembangan materi pembelajaran, Kemendikdasmen mendorong terbentuknya budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai, guru diharapkan mampu melindungi murid, mendampingi warga sekolah terdampak, serta menjaga keberlangsungan pembelajaran hingga proses pemulihan pascabencana.***

 

Popular Articles