DENPASAR, The East Indonesia — Hari Raya Saraswati tak hanya dirayakan sebagai penanda turunnya ilmu pengetahuan dalam kalender umat Hindu di SMK Pariwisata Dalung (Prada), Badung, Bali. Hari suci ini dirayakan sangat istimewa. Seluruh elemen sekolah tampak menyatu dengan denyut napas tradisi, kreativitas siswa, dan denyut ekonomi warga sekitar.
Perayaan Saraswati di awal tahun ajaran baru tampak berbeda dengan sekolah lainnya di Bali. Ratusan siswa baru kelas 10 tampak khusyuk mengikuti prosesi Pawintenan, sebuah ritual sakral pembersihan diri dan penyucian pikiran untuk memohon restu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, khususnya dalam manifestasi-Nya sebagai Dewi Saraswati, lambang agung ilmu pengetahuan.
Kepala SMK Prada, I Putu Gede Panca Wasidipa, S.E., menyampaikan merayakan Saraswati dengan melibatkan siswa baru secara langsung merupakan sebuah keharusan yang tidak boleh dilewatkan.
“Tidak semua pihak merayakan hari lahirnya ilmu pengetahuan itu seperti yang kita lakukan di SMK Prada,” ujar Panca Wasidipa di sela-sela kesibukan perayaan, Sabtu 31 Oktober 2026.
Melalui upacara pawintenan bagi siswa baru, sekolah ingin memastikan bahwa fondasi adat dan budaya berjalan beriringan dengan proses belajar. Ini merupakan cara paling jujur untuk mengekspresikan rasa cinta dan sujud syukur kepada Tuhan melalui seni, budaya, dan tradisi.
Menghidupkan Tradisi dari Tangan Semua Siswa
Panca menjelaskan, semangat gotong royong dan kemandirian begitu terasa di lingkungan sekolah. Seluruh rangkaian pementasan tari, penabuh dalam perayaan tersebut sepenuhnya diisi oleh talenta anak anak dari internal sekolah. Tidak ada penari sewaan dari luar. Semua murni anak-anak didik kelas 10 dan 11 yang ditempa lewat kegiatan ekstrakurikuler seni, budaya, tradisi setiap pekan dan pasraman budaya yang rutin digelar setiap hari suci purnama.
Para penari tampil ngayah, persembahan tulus dengan penuh penghayatan, membuktikan bahwa seni tradisi tidak hanya diajarkan di dalam kelas, melainkan dihidupkan melalui peluh dan latihan rutin selama ini.
Kendati demikian, pihak sekolah tetap merangkul kearifan lokal sekitar sekolah secara bijak. Untuk urusan sarana upakara, sekolah berkolaborasi erat dengan Desa Adat Padangluwih. Jro Mangku, tukang banten, hingga para serati dilibatkan langsung dari lingkungan sekitar.
“Kita mengajak lingkungan kita untuk berkontribusi, sehingga perputaran ekonomi juga ada sekaligus merawat kebersamaan,” imbuh Panca.
Menurut dia, konsep inilah yang dipegang teguh adat istiadat dan tradisi bukan tontonan, melainkan penopang utama pariwisata Bali yang berakar dari masyarakat.
*Penjor, Gebogan, Daksina Pejati hingga Dapur Kuliner Tradisional*
Ia mengatakan, rangkaian perayaan Saraswati di SMK Prada juga diisi dengan berbagai lomba kreatif yang digelar sejak Jumat (30/10), mulai dari seni membuat Penjor, merangkai Gebogan, membuah daksina pejati, memasak masakan khas Bali.
Bagi sekolah pariwisata, kegiatan ini memiliki dimensi ganda. Di satu sisi, para siswa menjaga kelestarian tradisi leluhur. Di sisi lain, mereka menyerap wawasan mendalam tentang kearifan lokal yang telah menjadi daya tarik utama wisatawan dunia. Bekal inilah yang diyakini sangat krusial untuk menunjang karier mereka di industri pariwisata masa depan Bali.
Perayaan ditutup dengan persembahyangan bersama. Di bawah naungan vibrasi kesucian hari suci Saraswati, langkah para siswa baru SMK Prada resmi dimulai, menyongsong masa depan pariwisata yang gemilang, berbekal kompetensi, ilmu pengetahuan yang cerdas secara intelektual, skill dan matang secara spiritual.***

