ATAMBUA, The East Indonesia – Beberapa saat lagi memasuki musim penghujan, warga di wilayah Perkotaan Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL mulai diselimuti rasa cemas.
Ketiadaan saluran drainase yang memadai membuat permukiman mereka kerap menjadi langganan banjir akibat limpasan air hujan yang deras.
Keluhan serius datang dari Hironimus Kono, warga RT 12/RW 04, Kelurahan Umanen, Kecamatan Atambua Barat.
Dirinya mengungkapkan bahwa setiap kali hujan turun, volume air yang besar mengalir bebas dari area perbukitan arah pemancar TVRI langsung menerjang rumah-rumah warga yang berada di area bawah.
“Dari dulu memang tidak pernah ada saluran di sini. Air dari atas arah pemancar TVRI turun langsung datang ke rumah kami yang berada di bagian bawah sini,” ujar Hironimus.
Untuk mengantisipasi air masuk ke dalam rumah, belasan kepala keluarga (KK) di wilayah tersebut terpaksa berswadaya mengumpulkan uang guna membuat pembatas air darurat.
“Biasanya kami baku tambah (iuran) Rp10.000 per KK untuk beli kayu. Kami tanam kayu itu untuk mengalihkan arus air. Tetapi kalau hujan terlalu deras, penahan darurat itu langsung rusak dan kami harus kumpul uang untuk buat baru lagi agar air tidak langsung masuk ke rumah kami,” tambahnya.
Kondisi ini kian diperparah dengan akses jalan masuk ke permukiman belasan rumah tersebut yang masih berupa tanah, sehingga berubah menjadi kubangan lumpur saat hujan.
Warga memperkirakan, mereka hanya membutuhkan pembangunan saluran drainase sepanjang kurang lebih 300 meter agar aliran air dari atas dapat terhubung langsung ke saluran utama yang berada di dekat jembatan.
Kondisi yang tidak kalah memprihatinkan juga dirasakan oleh puluhan warga di RT 13/RW 04, Kelurahan Tulamalae, Kecamatan Atambua Barat.
Puluhan rumah di wilayah ini selalu menjadi sasaran banjir tahunan hanya karena ketiadaan saluran drainase sepanjang sekitar 200 meter di bahu jalan Nasional.
Salah seorang warga terdampak, Leberina Marta Karuna, menuturkan bagaimana pasrahnya warga setempat setiap kali musim hujan tiba. Jalan utama di depan rumah mereka selalu berubah fungsi layaknya aliran sungai.
“Kalau hujan kami hanya pasrah saja. Paling kami cari akal sendiri supaya air jangan masuk ke dalam rumah. Ini jalan tiap tahun sudah kayak kali (sungai),” keluh Leberina.
Mengingat intensitas hujan yang mulai meningkat, Leberina berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata sebelum dampak banjir semakin meluas.
“Sedikit lagi sudah musim hujan. Kami minta pemerintah segera buat saluran supaya jalan ini jangan jadi kali lagi,” tegasnya.
Atas kondisi yang terus berulang setiap tahun ini, warga dari kedua kelurahan tersebut sangat mengharapkan perhatian dan intervensi langsung dari pemerintah pusat.
Mereka secara khusus meminta Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Bina Marga, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Nusa Tenggara Timur, serta Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional Wilayah II Provinsi NTT untuk segera turun tangan.
Warga mendesak agar segera dibangun fasilitas drainase di sepanjang Jalan Nasional Trans-Timor (Jalan Timor Raya, Kupang–Motaain), khususnya pada Segmen 4: Atambua – Atapupu – Motaain (Perbatasan RI – Timor Leste).
Pembangunan saluran pembuangan air di bahu jalan nasional ini dinilai menjadi satu-satunya solusi permanen untuk menyelamatkan permukiman warga dari ancaman banjir. (Ronny)


