MANADO, The East Indonesia – Penguatan kemampuan membaca adalah fondasi utama dalam memahami soal. al ini umumnya menjadi tantangan bagi murid. Sebagaimana yang terjadi di SD Negeri 06 Manado, Guru kelas V SD Negeri 11 Manado, Fonny Jacob, menjelaskan bahwa sekolah telah melakukan berbagai strategi penguatan, termasuk pengayaan materi literasi dan numerasi, serta pembahasan soal-soal dari Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) dan tryout.
“Persiapan dilakukan melalui pengayaan soal literasi dan numerasi, serta pembahasan soal-soal yang dianggap sulit. Kami juga menghadirkan narasumber untuk membantu murid memahami tipe soal yang lebih kompleks,” ungkapnya ketika menerima kunjungan dari Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat di Kota Manado.
Fonny menambahkan bahwa salah satu tantangan utama adalah adaptasi murid terhadap bentuk soal baru, seperti pilihan ganda kompleks yang menuntut pemahaman lebih mendalam. “Anak-anak masih mengalami kendala pada soal pilihan ganda kompleks, terutama yang membutuhkan lebih dari satu jawaban. Namun, hal ini kami respons melalui pengayaan dan pembahasan soal secara bertahap agar murid semakin terbiasa,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya penguatan kemampuan membaca sebagai fondasi utama dalam memahami soal bagi murid. “Kemampuan membaca, memahami, dan mencermati teks masih perlu ditingkatkan. Untuk itu, kami terus memperkuat literasi murid melalui latihan dan pendampingan yang lebih intensif, sehingga kini mereka dapat menjawab soal dengan lebih baik,” tambah Fonny.
Selanjutnya, ketika berkunjung ke SD Negeri 06 Manado, Meylani selaku kepala sekolah menyampaikan bahwa persiapan TKA di sekolahnya telah dilakukan secara sistematis sejak awal tahun dengan melibatkan seluruh unsur sekolah, mulai dari pembentukan panitia hingga penyusunan program di bawah bimbingan pengawas sekolah. Sekolah juga menggelar sosialisasi kepada orang tua murid kelas VI untuk menjelaskan tujuan dan manfaat TKA.
Untuk memperkuat kesiapan murid, sekolah menyelenggarakan tambahan belajar tiga kali dalam seminggu selama dua jam pelajaran. Upaya ini dilengkapi dengan tryout mandiri setiap bulan, serta tryout di tingkat kecamatan dan kota Manado. Murid juga didorong untuk berlatih melalui berbagai sumber, termasuk aplikasi tryout TKA secara daring. Sebanyak 81 murid mengikuti TKA di sekolah tersebut.
“Persiapan TKA di SD Negeri 06 Manado sudah kami lakukan sejak bulan Januari, dimulai dengan pembentukan panitia sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, wali kelas VI, serta guru-guru yang memiliki kompetensi di bidang Matematika dan Bahasa Indonesia. Panitia kemudian menyusun program persiapan secara terarah,” ujarnya.
Ia menambahkan, kesiapan murid juga terus dibangun melalui pendampingan yang berkelanjutan. “Awalnya murid merasa kurang percaya diri. Namun, melalui motivasi yang terus diberikan oleh guru dan program pembelajaran tambahan, murid kini menjadi lebih percaya diri dan siap mengikuti TKA,” tutup Meylani.
Kesuksesan TKA juga tak lepas dari peran orang tua. Guna mendukung kesiapan mental murid, Kepala SD Negeri 11 Manado, Femmy Theresia melakukan pendekatan dengan orang tua. Hal ini terbukti membuat murid lebih tenang dan percaya diri. Di sisi lain, penguatan kemampuan literasi juga terus dilakukan.
“Kami selalu memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa TKA ini harus dijalani dengan jujur, gembira, dan tidak perlu stres. Namun, kemampuan literasi masih perlu ditingkatkan. Kadang belum selesai membaca soal, mereka sudah menjawab. Ini yang terus kami perbaiki,” jelas Femmy. Sebanyak 72 murid di sekolahnya mengikuti TKA.
Selain pendekatan dengan orang tua, sekolah juga telah melakukan tryout berjenjang hingga penguatan pembelajaran tambahan. “Untuk persiapan, kami telah melewati beberapa tahapan mulai dari tryout pertama, kedua, hingga ketiga, bahkan sampai tingkat Kota Manado. Kami juga mengadakan kelas tambahan satu hingga tiga kali dalam seminggu selama dua jam sepulang sekolah untuk membantu murid mengingat kembali materi pembelajaran,” ujarnya.
Dalam kunjungannya ke sekolah-sekolah tersebut, Wamen Atip menyempatkan diri berbincang dengan para murid. Ia memberikan semangat secara langsung, mengajak murid untuk tetap tenang, percaya diri, dan tidak merasa tertekan saat mengerjakan soal. Interaksi tersebut berlangsung hangat dan disambut antusias oleh murid, menciptakan suasana yang lebih rileks menjelang pelaksanaan TKA.
Ia mengapresiasi persiapan matang yang telah dilakukan sekolah menghadapi TKA. “Alhamdulillah berjalan dengan baik, persiapan-persiapannya semua sudah dilakukan dengan baik dan tertib. Anak-anak juga tampaknya mereka sudah siap, mudah-mudahan hasilnya juga baik”.
Pada kesempatan ini, Wamen Atip juga mendorong sekolah memaksimalkan pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) guna meningkatkan minat literasi dan numerasi anak. “Saat ini peningkatan mutu dilakukan secara merata melalui digitalisasi. Semua sekolah sudah diberikan Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif digital. Kemudian juga dilakukan revitalisasi untuk perbaikan sarana fisik,” terangnya.
Oleh karena itu, seiring dengan peningkatan mutu pendidikan yang gencar dilakukan pemerintah, ia berharap keberadaan IFP menjadikan suasana pembelajaran lebih menyenangkan bagi murid yang bermuara pada meningkatnya capaian pembelajaran.(*)


