ATAMBUA, The East Indonesia – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Atambua terus berkomitmen dalam memberikan bekal keterampilan bagi Warga Binaan.
Kali ini, melalui kolaborasi kreatif bersama para peserta magang, Lapas Atambua menggelar pelatihan pembuatan pupuk organik berkualitas tinggi yang dikenal sebagai Biochart (Biochar), Selasa, 12 Mei 2026.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian warga binaan di sektor pertanian berkelanjutan.
Kegiatan yang berlangsung di lahan asimilasi ini dipantau dan didukung penuh oleh Kepala Lapas (Kalapas) Atambua, Antonio Da Costa.
Kehadiran pimpinan secara langsung di lapangan menjadi bukti bahwa pembinaan kemandirian merupakan prioritas utama dalam menciptakan warga binaan yang produktif dan berdaya guna.
Antonio Da Costa menyatakan bahwa pengolahan pupuk organik Biochar ini adalah langkah taktis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dari sektor pemasyarakatan.
“Kami bergerak cepat mengimplementasikan program akselerasi Bapak Menimipas. Melalui pemanfaatan limbah organik menjadi Biochar, kita tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memastikan ketersediaan sarana produksi pangan secara mandiri di dalam Lapas,” tegas Kalapas.
Lebih lanjut, Kepala Seksi Binadik & Giatja, Jimy Ndun, menambahkan bahwa pelatihan ini merupakan implementasi nyata dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya pada poin Swasembada Pangan.
“Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas pembinaan, melainkan langkah nyata dalam mewujudkan kemandirian bangsa. Hal ini sejalan dengan 15 Program Akselerasi Menimipas, di mana salah satu poin utamanya adalah pemberdayaan warga binaan untuk mendukung produksi pangan nasional. Dengan memanfaatkan limbah menjadi pupuk Biochart, Lapas Atambua memastikan bahwa lahan-lahan produktif yang dikelola oleh warga binaan memiliki daya dukung optimal untuk menghasilkan pangan berkualitas secara mandiri,” jelasnya.
Dalam sesi pelatihan, Jeni Yolenta, salah satu peserta magang menjelaskan secara ringkas teknis pembuatan Biochar kepada para warga binaan.
Menurutnya, keberhasilan Biochar terletak pada ketepatan proses fermentasi dan keseimbangan bahan.
“Proses ini dimulai dengan memadukan limbah hijau yang sudah dicacah, sekam, dan kotoran sapi sebagai bahan utama. Kuncinya adalah pada larutan fermentasi yang merupakan campuran air, molase, dan EM4. Larutan ini harus diaduk rata dan disiramkan ke bahan utama hingga mencapai tingkat kelembapan yang pas saat digenggam terasa basah namun tidak menetes,” jelasnya di hadapan warga binaan.
Ia menambahkan bahwa setelah pencampuran, bahan harus ditutup rapat menggunakan terpal atau seng untuk menciptakan kondisi kedap udara.
“Selama 2-3 minggu, tumpukan harus dibalik secara rutin setiap beberapa hari agar suhunya stabil. Jika warnanya sudah gelap dan tidak berbau tajam, itu tandanya Biochar siap digunakan untuk menyuburkan tanah,” tambahnya.
Sementara itu, Kim Seran, warga binaan, mengaku terkejut dengan kemudahan cara pembuatannya.
“Ternyata bahannya semua ada di sekitar kita. Tadi kami diajarkan cara mencampur larutan EM4 dan mengatur kelembapannya. Tidak sulit kalau langsung dipraktikkan begini. Kami jadi lebih semangat mengelola kebun di dalam Lapas karena pupuknya bisa bikin sendiri,” ungkapnya.
Biochart hasil karya warga binaan ini nantinya akan digunakan untuk menyuburkan lahan pertanian di area asimilasi Lapas Atambua.
Dengan adanya pelatihan ini, Lapas Atambua berhasil membuktikan bahwa keterbatasan jeruji besi bukanlah penghalang untuk tetap produktif dan mencintai lingkungan. Peserta magang dan warga binaan bersinergi menciptakan perubahan positif, satu kepal pupuk demi masa depan yang lebih hijau.(Rony)


