Tuesday, May 12, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Kampung Literasi Pekijing Kota Serang Bangun Budaya Literasi dari Halaman Rumah

SERANG, The East Indonesia — Sebagai bagian dari upaya menghidupkan partisipasi semesta dalam penguatan literasi masyarakat berbasis komunitas dan keluarga, masyarakat Kota Serang menginisiasi Kampung Literasi Pekijing di Kota Serang, Banten.

Kampung Literasi Pekijing menjadi salah satu contoh tumbuhnya budaya literasi yang dibangun secara gotong royong oleh masyarakat. Di kampung tersebut dibangun rumah-rumah kotak kecil berisi buku bacaan yang berdiri di halaman rumah warga yang dapat diakses siapa saja tanpa batasan ketentuan yang mengikat. Kehadiran sudut-sudut baca sederhana itu menjadikan buku lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dalam kunjungannya, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Hafidz Muksin menegaskan bahwa peningkatan dan penguatan literasi tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi bersama masyarakat, komunitas, dan keluarga. Karena itu, keberadaan taman bacaan masyarakat dinilai memiliki peran penting sebagai mitra pemerintah dalam membangun budaya membaca di lingkungan masyarakat.

“Kami melihat Kampung Literasi Pekijing menunjukkan bagaimana masyarakat dapat membangun ekosistem literasi yang hidup dan menyenangkan. Anak-anak, orang tua, dan komunitas hadir bersama dalam berbagai aktivitas yang mendorong budaya membaca dan kreativitas di lingkungannya,” ujarnya yang pada kesempatan itu juga didampingi oleh Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten, Devyanti Asmalasari.

Menurut Hafidz, praktik baik yang dilakukan Kampung Literasi Pekijing dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menghadirkan ruang literasi yang dekat, terbuka, dan ramah bagi masyarakat. Pemerintah memberikan perhatian dan dukungan terhadap komunitas literasi seperti ini karena keberadaannya menjadi bagian penting dalam penguatan literasi masyarakat.

“Kehadiran komunitas literasi berupa taman bacaan masyarakat dan perpustakaan desa di Pekijing dapat menjadi contoh sekaligus penggerak budaya baca di lingkungan sekitar,” katanya seraya menyampaikan komitmennya untuk terus melakukan pembinaan dan pendampingan agar pemanfaatan bahan bacaan semakin optimal serta mampu mendorong kreativitas masyarakat lintas generasi.

Di Kampung Literasi Pekijing, literasi tumbuh tidak hanya melalui kegiatan membaca buku, melainkan juga melalui interaksi sosial yang melibatkan seluruh kelompok usia. Anak-anak mengikuti kegiatan mendongeng, membaca bersama, bermain permainan tradisional, hingga berlatih seni dan musik. Sementara itu, para lansia turut dilibatkan dalam kegiatan melukis, mewarnai, dan membuat kerajinan tangan.

Salah satu pemandangan yang menarik di kampung tersebut adalah ketika anak-anak membacakan buku kepada para lansia yang mengalami kesulitan membaca. Aktivitas sederhana itu menghadirkan hubungan belajar yang hangat sekaligus memperkuat kebersamaan antargenerasi. Kegiatan bersama tersebut sekaligus sebagai bentuk implementasi dari tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, yakni bermasyarakat.

Pembina Kampung Literasi Pekijing, Edi Suryadi, menjelaskan bahwa penyediaan buku di rumah-rumah warga awalnya sempat diragukan apakah dapat berjalan dengan efektif dan diterima masyarakat. Namun, pendekatan yang sederhana justru membuat masyarakat merasa lebih dekat dengan buku.

“Ketika buku-buku ditempatkan di depan rumah dan mudah diakses serta judulnya menarik maka masyarakat mulai berani memegang dan membaca buku. Dari situ kami menyadari bahwa masyarakat sebenarnya membutuhkan bahan bacaan yang dekat dengan kehidupan mereka,” ujarnya.

Berangkat dari pengalaman tersebut, warga kemudian secara mandiri mengembangkan penyediaan bahan bacaan dengan membangun rumah-rumah buku di pinggir jalan kampung agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun pengunjung yang datang.

Selain menghadirkan ruang baca, masyarakat juga menyediakan berbagai permainan tradisional untuk mendorong anak-anak lebih kreatif dan aktif bersosialisasi dan tidak bergantung pada gawai. “Kami ingin anak-anak memiliki ruang untuk bermain bersama, membangun rasa percaya diri, dan mengembangkan kreativitasnya dengan bahagia,” tambah Edi.

Semangat literasi masyarakat juga dirasakan langsung oleh anak-anak di Kampung Literasi Pekijing. Anisa mengaku keberadaan kampung literasi membuat anak-anak semakin tertarik membaca sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga.

“Kegiatan di kampung literasi membuat kami lebih senang membaca dan lebih dekat satu sama lain. Semoga buku-buku di sini semakin banyak dan anak-anak semakin semangat belajar,” ujarnya.

Sementara itu, pendongeng anak Jujun melihat antusiasme tinggi anak-anak dalam setiap kegiatan mendongeng yang diselenggarakan di kampung tersebut. “Saya berharap anak-anak semakin gemar membaca dan nantinya dapat menjadi penerus yang menjaga kampung literasi ini,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Badan Bahasa juga menyerahkan bantuan buku hasil sayembara dan koleksi buku dari Kantor Bahasa Provinsi Banten untuk mendukung penguatan literasi masyarakat di Kampung Literasi Pekijing.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat, Kampung Literasi Pekijing menunjukkan bahwa literasi dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana di lingkungan terdekat. Dari halaman rumah warga, budaya membaca perlahan berkembang menjadi investasi sosial untuk membangun generasi yang cerdas, kreatif, berkarakter, dan gemar belajar sepanjang hayat.***

Popular Articles