Tuesday, May 19, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Jaga Lahan Persawahan dari Kekeringan, Lapas Atambua Optimalkan Pompa Air

ATAMBUA, The East Indonesia – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Atambua kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Meski wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) kerap diidentikkan dengan tantangan iklim yang kering, Lapas Atambua berhasil mematahkan stigma tersebut.

Melalui inovasi sistem irigasi yang mandiri, Lapas Atambua sukses menantang musim kemarau dan menjaga produktivitas lahan pertaniannya tetap hijau.

Bermodalkan satu unit mesin pompa air merek Sharps R75, Lapas Atambua mengambil langkah strategis untuk menarik air dari kali yang terletak di seberang kantor.

Langkah cerdas ini menjadi jawaban konkret atas kebutuhan air bagi sektor pertanian di dalam Lapas, khususnya untuk mengairi hamparan sawah seluas 1,8 hektar yang kini tengah memasuki masa-masa krusial sebelum panen.

Kepala Subseksi (Kasubsi) Kegiatan Kerja Lapas Atambua, Andra Sukabir, menjelaskan bahwa tanaman padi jenis Impari 42 yang ada saat ini telah berumur 3 bulan 8 hari.

Pada usia ini, padi membutuhkan pasokan air yang stabil dan perhatian yang jauh lebih intensif agar bulir padi mengisi dengan sempurna.

“Padi yang sudah berumur 3 bulan 8 hari ini harus mendapat perhatian lebih, khususnya pemenuhan kebutuhan air. Bersama Bapak Kalapas, kami telah mencari jalan keluar dan berhasil menjawab tantangan krisis air di Lapas Atambua ini. Kami optimis dan berharap agenda panen raya pada awal bulan Juni nanti dapat berjalan dengan maksimal dan menghasilkan produktivitas yang tinggi,” ujar Andra.

Sementara itu, Kepala Lapas (Kalapas) Atambua, Antonio Da Costa menegaskan bahwa ketersediaan air merupakan urat nadi dan penyokong utama dari keberhasilan program ketahanan pangan yang dicanangkan di dalam Lapas.

Menurutnya, inovasi irigasi ini bukan sekadar tentang bercocok tanam, melainkan bagian dari implementasi kebijakan makro pemerintah.

“Apa jadinya pertanian tanpa air yang cukup? Tentu akan gagal. Oleh karena itu, kami bergerak cepat. Kami berharap dapat terus mengembangkan potensi lahan yang ada ini dengan menanam berbagai produk pertanian produktif,” ungkap Kalapas.

Lebih lanjut, Kalapas menjelaskan bahwa seluruh aktivitas pertanian ini merupakan bagian integral dari proses pembinaan kemandirian bagi para Warga Binaan Program ini selaras dengan amanah Presiden yang termaktub dalam Asta Cita, yang kemudian diimplementasikan secara nyata melalui 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas).

Keberhasilan mengalirkan air ke sawah ini tidak hanya disambut baik oleh jajaran petugas, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga dan optimisme di kalangan warga binaan yang merawat langsung tanaman tersebut.

“Kami sangat bersyukur dengan adanya mesin pompa air ini. Sawah tidak lagi kering, dan kami bisa melihat padi tumbuh dengan subur setiap hari. Kegiatan ini membuat kami punya keahlian baru di bidang pertanian. Kami bangga bisa ikut berkontribusi menghasilkan pangan, dan ini jadi modal berharga untuk kami saat bebas nanti,” ungkap salah seorang warga binaan dengan penuh semangat.

Dengan sinergi yang kuat antara, petugas dan warga binaan, Lapas Atambua sukses membuktikan bahwa keterbatasan alam bukan menjadi penghalang untuk terus berbuat dan berdampak bagi masyarakat luas. (Ronny)

Popular Articles