
ATAMBUA, The East Indonesia – Pemerintah Daerah, tokoh agama, dan elemen pemuda Kabupaten Belu resmi memulai persiapan besar menjelang perhelatan akbar bertaraf internasional di beranda perbatasan RI-RDTL.
Hal ini ditandai dengan Panitia penyelenggara resmi menggelar Sosialisasi dan Launching Festival Persahabatan Internasional 2026 yang berlangsung di Gedung Wanita Betelalenok Atambua, Sabtu, 6 Juni 2026.
Launching Festival Persahabatan Internasional 2026 ini dibuka secara resmi oleh Nikolaus Umbu Kundji Birri, SH selaku Asisten Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Belu, yang hadir mewakili Bupati Belu.
Acara Sosialisasi dan Launching Festival Persahabatan Internasional 2026 ini mendapat dukungan penuh dari berbagai instansi lintas sektoral baik dari Pemerintah Daerah, jajaran DPRD Kabupaten Belu, Kepolisian Resor (POLRES) Belu, Komando Distrik Militer (KODIM) Belu, serta Stakeholder terkait di Kabupaten Belu.
Ajang di wilayah perbatasan RI-RDTL ini dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Juli 2026 mendatang.
Ketua Umum Panitia Pelaksana, Vinsensius B. Loe, menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran para tamu undangan dan pemangku kepentingan.
“Acara oikumene ini melibatkan jemaat lintas denominasi gereja untuk menampilkan talenta bernyanyi dan tarian. Dan target pemudik dan pengunjung bisa mencapai 40.000 orang selama empat hari kegiatan,” tuturnya.
Dirinya menegaskan bahwa suksesnya acara ini bertumpu pada kolaborasi lintas sektor.
“Kami panitia tidak bisa sendiri. Kita perlu kolaborasi dan ide-ide bagus untuk menyukseskan acara ini karena kita menampilkan wajah Indonesia di perbatasan negara,” ujar Vinsensius.
Dijelaskan bahwa persiapan telah berjalan sejak Januari 2026 melalui koordinasi intensif bersama Pemda Belu, Kapolres Belu, Keuskupan Atambua, serta sinode gereja seperti GMIT dan GB.
Ketua Bidang Kesekretariatan, Alland Ch Tangkere, SE, memaparkan bahwa festival ini mengusung tema umum “Kasih tanpa diskriminasi dan kesembuhan untuk semua orang”.
Rangkaian program ibadah dan sosial ini mencakup empat kegiatan utama:
Pertama, Friendship Dinner (1 Juli 2026): Acara ramah tamah antara panitia, sponsor, pembicara, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Belu pada hari pertama.
Kedua, Friendship Seminar (2–4 Juli 2026): Seminar khusus di Aula Betelalenok yang menghadirkan pembicara tunggal, Dr. Anthony Greco. Acara ini mengundang 250 tokoh agama dan tokoh muda setiap harinya secara eksklusif dan tidak terbuka secara umum.
Ketiga, Friendship Festival (2–5 Juli 2026): Panggung rohani terbuka di Lapangan Umum Atambua yang dipimpin oleh Dr. Anthony Greco.
Keempat, Bazar UMKM yang mana kerja sama dengan Kadin dan HIPMI Belu di Lapangan Umum Atambua untuk mendorong roda ekonomi kreatif lokal selama festival berlangsung.
Ketua Bidang Kesekretariatan, Alland Ch Tangkere juga menceritakan perjalanan sejarah nama festival ini.
Awalnya bernama “Jesus Festival”, nama tersebut bertransformasi menjadi “Festival Friendship” setelah pelayanan di Aceh, hingga akhirnya disepakati menjadi “Festival Persahabatan”.
Karenanya, panitia menilai bahwa konsep ini sangat cocok untuk membingkai persaudaraan di tengah kemajemukan masyarakat Belu di Perbatasan Negara RI-RDTL.
Ketua Bidang Kesekretariatan, Alland Ch Tangkere mewakili seluruh Panitia menjamin penuh bahwa festival ini murni merupakan pelayanan rohani dan tidak akan mengintervensi ranah teologis masyarakat.
“Kegiatan ini tidak akan pernah menyentuh atau menyinggung doktrin gereja mana pun, serta tidak akan menyinggung agama atau kepercayaan mana pun. Kami tidak akan mengajak umat dari agama lain masuk ke ajaran lain,” tegas Alland.
Mengingat festival ini juga akan dilanjutkan ke Timor Leste, panitia mengonfirmasi bahwa warga dari negara tetangga tersebut sangat antusias dan dipastikan akan turut hadir di Kota Atambua pada Juli mendatang.
“Kegiatan Festival Persahabatan ini murni dalam pelayanan bagi Kemuliaan Nama Tuhan Dalam upaya meningkatkan relasi persaudaraan yang harmonis Antara umat beragama di wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL melalui pendekatan pelayanan rohani. Sekali lagi mohon kepercayaan bapak, ibu para pemangku kepentingan percayakan bahwa kami dalam melaksanakan kegiatan ini tidak akan pernah menyinggung ataupun mengajak umat dari agama lain masuk ke ajaran lain,” ujar Alland Tangkere. (Ronny)