ATAMBUA, The East Indonesia – Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Piebulak Border Run 8,1K resmi digelar pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, di Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.
Sebanyak 334 pelari mengikuti gelaran olahraga yang mengambil lokasi di kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste tersebut. Para peserta resmi dilepas pada pukul 10.00 WITA, dengan titik start dan finis berada di depan Kantor Camat Lamaknen Selatan.
Dari keseluruhan peserta, sebanyak 327 pelari ditargetkan memperoleh medali finisher eksklusif, sedangkan peserta lainnya mengikuti kegiatan sebagai partisipan.
Momentum pelepasan peserta berlangsung tepat pukul 10.00 WITA. Bendera start atau flag off secara resmi diangkat bersama oleh jajaran Forkopimcam Lamaknen Selatan dan Komandan Satgas Pamtas RI–RDTL Sektor Timur Yonarmed 12 Kostrad, Letkol Arm Dr. Erlan Wijatmoko, S.H., M.Han.
Piebulak Border Run 8,1K merupakan hasil kolaborasi antara Forkopimcam Lamaknen Selatan yang dipimpin Camat Marius Dominggus Mau Bele, Satgas Pamtas RI–RDTL Yonarmed 12 Kostrad, Belu Runners, serta berbagai mitra dan pihak pendukung lainnya.
Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan sebagai agenda olahraga, tetapi sekaligus menjadi ruang promosi potensi wisata, budaya, alam, serta ekonomi lokal yang berada di kawasan perbatasan.
Pantauan media ini, para pelari mendapatkan pengalaman berbeda sepanjang lintasan 8,1 kilometer. Rute perlombaan dirancang melewati sejumlah kawasan yang menjadi bagian dari 5 Pesona Lamaknen Selatan.
Salah satu daya tarik utama adalah Jalan Sabuk Merah Perbatasan, jalur strategis di kawasan perbatasan yang menyuguhkan panorama pegunungan dan bentang alam Timor.
Selain menikmati pemandangan, peserta juga mendapatkan sejumlah titik yang menarik untuk dokumentasi dan foto. Kehadiran Kopi Henes Lakmaras turut menjadi bagian dari pengalaman peserta sekaligus memperkenalkan komoditas kopi lokal yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat setempat.
Lintasan juga membawa peserta mengenal Gereja Tua Nualain, yang memiliki nilai sejarah dan religi, serta Kampung Adat Nualain sebagai salah satu ruang pelestarian budaya lokal masyarakat Belu.
Lebih dari sekadar destinasi, interaksi dengan masyarakat sepanjang jalur menjadi bagian penting dari pengalaman Piebulak Border Run 8,1K. Kehangatan dan keramahan warga memberikan wajah lain dari kawasan perbatasan yang ingin diperkenalkan kepada para peserta.
Untuk mendukung kelancaran dan keselamatan seluruh peserta, panitia menyiagakan berbagai unsur pendukung di sepanjang lintasan.
Tim dokumentasi rute, petugas marshall, water station, titik check point, serta layanan kesehatan ditempatkan pada sejumlah lokasi yang dinilai membutuhkan pengawasan dan dukungan selama perlombaan berlangsung.
Kehadiran unsur tersebut menjadi bagian dari upaya panitia memberikan rasa aman sekaligus memastikan peserta dapat menyelesaikan lintasan dengan nyaman.
Dalam sambutannya, Camat Lamaknen Selatan Marius Dominggus Mau Bele menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Piebulak Border Run 8,1K sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkat-Nya kita dapat berkumpul dalam keadaan sehat untuk melaksanakan Piebulak Border Run 8,1K, sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia,” ujarnya.
Menurut Marius, kegiatan tersebut memiliki makna yang lebih luas daripada sebuah kompetisi olahraga. Piebulak Border Run 8,1K dirancang sebagai ruang pertemuan berbagai potensi daerah.
“Hadirin dan peserta yang saya banggakan, kegiatan hari ini bukan sekadar ajang lari. Piebulak Border Run 8,1K adalah gerakan bersama yang mempertemukan olahraga, pariwisata, budaya, alam, dan ekonomi lokal dalam satu momentum,” tegasnya.
Ia menjelaskan, lintasan sepanjang 8,1 kilometer sengaja dirancang untuk membawa peserta menikmati karakter geografis dan kehidupan masyarakat Lamaknen Selatan.
“Rute yang akan ditempuh para peserta melintasi kawasan dengan bentang pegunungan, Jalan Sabuk Merah Perbatasan, serta kehidupan masyarakat yang menjadi identitas Kecamatan Lamaknen Selatan,” tambahnya.
Tema “Run The Border, Feel The Beauty” menjadi pesan utama yang dibawa dalam penyelenggaraan Piebulak Border Run 8,1K.
Bagi Pemerintah Kecamatan Lamaknen Selatan, slogan tersebut bukan sekadar identitas kegiatan, tetapi bagian dari upaya membangun perspektif baru mengenai kawasan perbatasan.
“Karena itulah tema Run The Border, Feel The Beauty kami pilih bukan sekadar slogan, melainkan ajakan: berlari di perbatasan, merasakan keindahannya, dan turut memperkenalkan bahwa kawasan perbatasan adalah halaman depan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang aman, ramah, dan layak dikunjungi,” jelas Marius.
Pesan tersebut sekaligus menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam pengembangan kawasan perbatasan. Keindahan alam, budaya, keramahan warga, serta berbagai produk lokal menjadi kekuatan yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.
Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kecamatan Lamaknen Selatan juga memperkenalkan konsep Piebulak Border Tourism Corridor (PBTC) sebagai koridor pariwisata baru di kawasan tersebut.
“Melalui kegiatan ini pula kami memperkenalkan Piebulak Border Tourism Corridor (PBTC), yang mencakup sejumlah destinasi unggulan: Jalan Sabuk Merah Perbatasan, Bukit Holzap, dan sentra kopi,” papar Marius.
Konsep tersebut diharapkan dapat memperkuat keterhubungan berbagai potensi wisata dan ekonomi lokal sehingga kawasan perbatasan tidak hanya dikenal sebagai wilayah terluar negara, tetapi juga sebagai kawasan yang memiliki daya tarik wisata dan potensi ekonomi masyarakat.
Dengan demikian, Piebulak Border Run 8,1K menjadi salah satu momentum untuk memperkenalkan potensi tersebut secara langsung kepada masyarakat luar daerah yang datang mengikuti kegiatan.
Camat Lamaknen Selatan juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada Forkopimcam, Satgas Pamtas, para sponsor, relawan, panitia, seluruh pihak pendukung, serta antusiasme tinggi dari para peserta Piebulak Border Run 8,1K yang datang dari berbagai daerah dengan penuh suka cita,” pungkasnya.
Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi salah satu kekuatan utama penyelenggaraan kegiatan. Unsur pemerintahan, keamanan, komunitas olahraga, masyarakat, mitra swasta, hingga berbagai pihak pendukung berada dalam satu rangkaian kegiatan yang sama.
Piebulak Border Run 8,1K tidak berakhir ketika peserta melewati garis finis. Panitia telah menyiapkan sejumlah kegiatan lanjutan yang menggabungkan unsur edukasi, kebangsaan, olahraga, dan apresiasi kepada para mitra.
Rangkaian kegiatan tersebut meliputi Pendidikan Rupiah di Perbatasan oleh Bank Indonesia Perwakilan NTT, bentang Bendera Merah Putih raksasa sepanjang 81 meter, serta penyerahan piagam kepada sponsor dan mitra.
Bentang Merah Putih sepanjang 81 meter menjadi salah satu simbol yang memperkuat suasana peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kegiatan tersebut melibatkan Forkopimcam, Satgas Pamtas, peserta lomba, serta masyarakat.
Piebulak Border Run 8,1K turut dihadiri berbagai unsur pemerintahan, keamanan, lembaga negara, instansi vertikal, komunitas, serta masyarakat.
Di antaranya Ketua Pengadilan Negeri Atambua, Ketua KPPN Atambua, Staf Ahli Bupati Belu, Kepala RRI Atambua, Kepala PLBN Motaain, serta perwakilan dari Universitas Pertahanan (Unhan) Ben Mboi.
Hadir pula perwira yang mewakili Polsek Lamaknen, unsur Forkopimcam Lamaknen Selatan, para kepala instansi vertikal dan mitra terkait lainnya.
Dari unsur masyarakat, kegiatan tersebut dihadiri para kepala desa se-Kecamatan Lamaknen Selatan, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, komunitas olahraga, serta warga Lamaknen Selatan
Piebulak Border Run 8,1K pada akhirnya tidak hanya meninggalkan catatan tentang jumlah peserta dan jarak lintasan 8,1 kilometer.
Lebih jauh, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana olahraga dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan wajah kawasan perbatasan kepada masyarakat yang lebih luas.
Para peserta tidak hanya berlari, tetapi juga diajak melihat lanskap pegunungan, melewati Jalan Sabuk Merah, mengenal kopi lokal, menyaksikan jejak sejarah dan religi, menikmati kekayaan budaya, serta berinteraksi langsung dengan masyarakat.
- Di tengah momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, “Run The Border, Feel The Beauty” menjadi pesan bahwa perbatasan bukan sekadar garis batas negara. Perbatasan juga merupakan ruang kehidupan, kebudayaan, ekonomi, pariwisata, dan kebanggaan masyarakat yang berada di halaman depan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Ronny)

