ATAMBUA, The East Indonesia – Pemerintah Kabupaten Belu terus bergerak menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi korban gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hingga saat ini, proses penggalangan donasi terus berjalan melalui sinergi antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Polres Belu, dan seluruh lapisan masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Belu, drg. Maria Ansilla F. Eka Mutty, menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas musibah yang menimpa warga di Flores.
Apalagi, aktivitas gempa di wilayah tersebut dilaporkan belum sepenuhnya stabil.
“Pertama-tama saya atas nama pemerintah Kabupaten Belu yang pasti mengucapkan turut prihatin terhadap kejadian gempa di Flores yang seperti kita ketahui bahwa masih ada gempa-gempa susulan sampai saat ini, bahkan tadi pagi masih terjadi gempa yang cukup besar,” ujar Ansilla saat diwawancarai pada Senin, 24 Agustus 2026.
drg. Ansilla Mutty menjelaskan bahwa posko bersama telah berhasil mengirimkan bantuan logistik tahap pertama pada akhir pekan lalu.
Logistik tersebut kini sudah berada di Pulau Flores untuk disalurkan ke titik-titik pengungsian.
“Seperti kita ketahui bersama bahwa pada hari Jumat kemarin sudah terjadi pelepasan untuk donasi barang kloter pertama. Itu diangkut menggunakan dua kendaraan, dan untuk diketahui bahwa hari Sabtu barang-barang itu sudah didorong ke Ende,” kata Kaban BPBD Belu.
Prosedur pengiriman dilakukan secara terpusat melalui satu pintu di tingkat provinsi guna memastikan kelancaran distribusi.
Seluruh bantuan yang masuk, baik dari warga maupun internal kepolisian, disatukan atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Belu.
“Jadi prosedurnya adalah dari sini barang-barang ini, baik yang bantuan masyarakat maupun bantuan dari Polsek-Polsek, itu dijadikan satu sebagai bantuan dari Pemda Belu yang dikawal oleh Polres Belu diantar ke pusat posko di Kupang yang dikoordinir oleh BPBD Provinsi,” paparnya.
Pihak BPBD Provinsi NTT membuka posko utama di Kupang untuk menampung seluruh kepedulian masyarakat dan Pemda se-daratan Timor.
Meski demikian, Pemprov memberikan fleksibilitas jika ada kabupaten yang ingin mengirimkan logistiknya secara langsung ke lokasi bencana.
“Kloter pertama kita tiba pada hari Jumat, 21 Agustus 2026 sekitar jam 10 malam dan sudah langsung diterima oleh BPBD provinsi. Kemudian waktu itu diterima langsung dipindahkan ke mobil yang akan berangkat pada hari Sabtu besoknya ke Flores, sehingga hari Sabtu itu sudah berangkat. Saat ini sudah dipastikan bahwa bantuan-bantuan kita sudah tiba di Flores dalam hal ini di Ende,” tambah Ansilla.
Kalak BPBD Belu juga menyebutkan bahwa Pasca-pelepasan kloter pertama, posko bersama di Lapangan Polres Belu tetap sibuk mencatat dan memilah bantuan yang terus mengalir dari masyarakat serta etnis-etnis yang ada di Belu.
Berdasarkan koordinasi terbaru, posko bersama di lapangan terbuka akan segera dialihkan, dan pengiriman kloter kedua dijadwalkan besok pagi.
“Tadi kami koordinasikan kemungkinan besar hari ini posko bantuan barang kemungkinan akan ditutup, tetapi bantuan berupa uang masih tetap dibuka sampai pada akhir bulan. Rencananya kalau tidak ada halangan hari Rabu pagi, 26 Agustus 2026, akan dilepas lagi kloter yang kedua dari Kabupaten Belu. Tadi saya sudah menghubungi Pak Bupati, Beliau mengatakan bahwa akan dilepas kloter kedua dari Kabupaten Belu,” ungkapnya.
Terkait donasi berupa uang tunai, posko akan tetap melayani masyarakat hingga tanggal 31 Agustus 2026. Dana yang terkumpul nantinya akan dikonsolidasikan dengan anggaran kemanusiaan dari sektor lain.
“Seluruh keuangannya nanti pengelolanya akan kami koordinasikan dengan pemerintah daerah. Apakah akan disatukan dengan sumbangan dari Pemda atau bagaimana, nanti seperti Pak Bupati waktu bicara di saat pelepasan kloter pertama bahwa ada sumbangan dari ASN, ada sumbangan dari kas daerah, dan juga ada sumbangan dari donasi. Nanti seluruhnya akan disatukan penyalurannya, itu sudah kami serahkan kepada kebijakan dari pemerintah daerah,” jelas Ansilla.
Secara umum, posko bersama antara Pemda dan Polres Belu membatasi pengiriman massal hingga dua kloter saja.
Kendati demikian, kantor BPBD Belu akan tetap membuka pintu bagi warga yang ingin membawa bantuan logistik secara mandiri tanpa seremonial pelepasan resmi.
Namun, Ansilla memberikan catatan penting terkait jenis barang yang saat ini sangat mendesak diperlukan di lokasi pengungsian Flores. Pihaknya mengimbau warga untuk sementara waktu tidak menyumbang pakaian bekas karena stok di lokasi bencana sudah melimpah.
“Masyarakat mohon untuk kita sama-sama perhatikan bahwa untuk sementara ini belum menerima lagi pakaian layak pakai, pakaian bekas, atau apapun. Yang lebih diutamakan itu adalah air mineral, kemudian boleh beras, kebutuhan bayi, terus ada kebutuhan mungkin boleh pembalut, boleh selimut, boleh terpal, intinya semua boleh makanan siap saji jadi mie instan, abon, obat-obatan, pokoknya di luar dari pakaian layak pakai,” tegasnya.
BPBD Belu menyampaikan permohonan maaf atas kebijakan pembatasan jenis logistik tersebut dan berjanji akan menginformasikan kembali jika ada perkembangan instruksi terbaru dari posko utama di provinsi.
“Meskipun posko utama di sini tutup, kami di kantor tetap membuka. Jadi silakan yang mau menyumbang bisa antar ke kantor kami. Kemudian nanti setelah itu pengirimannya ke Kupang akan kami aturkan berikutnya,” pungkas Ansilla. (Ronny)

