ATAMBUA, The East Indonesia – Akses air bersih yang layak masih menjadi tantangan nyata bagi masyarakat di wilayah tapal batas negara.
Bergerak atas dasar kemanusiaan dan pengabdian, Tim Ekspedisi Patriot dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berkolaborasi dengan Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia resmi memulai langkah awal.
Mereka menembus lebatnya Hutan Adat Sanabibi di Desa Dafala, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, wilayah perbatasan RI-RDTL (Timor Leste).
Perjalanan ini dilakukan untuk melakukan survei langsung dan merancang sistem jaringan air bersih yang andal, demi meningkatkan kualitas hidup warga transmigrasi setempat.
Bagi Kawasan Transmigrasi Tasifeto Mandeu, pengembangan infrastruktur dasar seperti air bersih memiliki arti penting dalam mendukung peningkatan kualitas kehidupan masyarakat sekaligus memperkuat pengembangan kawasan.
Kegiatan ini dipimpin secara langsung oleh Prof. I.D.A.A Warmadewanthi, S.T., M.T., Ph.D., seorang pakar teknik sipil dan sumber daya air dari ITS yang dikenal luas atas pengabdian dan penelitian terkait pengelolaan sumber air di wilayah terpencil.
Tim tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur baru akan tetapi juga melakukan revitalisasi, perbaikan, dan optimalisasi pada sumber mata air yang selama ini diandalkan masyarakat namun belum terkelola secara maksimal.
Sinergi kuat antara akademisi, pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten Belu melalui Dinas Nakertrans, serta tokoh adat setempat menjadi fondasi utama.
Pada, Sabtu, 29 Agustus 2026, tim ekspedisi Patriot dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya resmi memulai tahap awal perencanaan pembangunan jaringan air bersih yang akan menyasar desa Dafala.
Dalam peninjauan tersebut, tim melakukan pengamatan terhadap kondisi sumber mata air dan infrastruktur pendukung yang telah tersedia.
Aspek yang menjadi perhatian meliputi kondisi sumber mata air, bangunan penangkap, bak penampungan, jaringan perpipaan, jalur distribusi, kondisi lingkungan sekitar sumber, serta karakteristik medan.
Sumber mata air yang ditinjau merupakan sumber yang telah dimanfaatkan masyarakat.
Oleh karena itu, rencana yang dikembangkan tidak semata-mata berorientasi pada pembangunan infrastruktur baru, tetapi diarahkan pada revitalisasi, perbaikan, dan optimalisasi sistem yang telah ada.
Pendekatan tersebut dilakukan untuk memastikan perencanaan yang disusun dapat menyesuaikan dengan kondisi lapangan sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat secara efektif dan berkelanjutan.
Selain melakukan survei teknis, Tim Ekspedisi Patriot ITS juga melakukan dialog bersama masyarakat Desa Dafala untuk memperoleh informasi mengenai kondisi pemanfaatan air dan berbagai kebutuhan yang dihadapi masyarakat.
Kegiatan ini menandai komitmen nyata generasi muda Indonesia dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat transmigrasi.
Dalam kunjungan tersebut, Prof. Warmadewanthi bersama tim melakukan observasi mendalam terhadap potensi mata air yang ada, menilai kualitas air, serta meninjau kondisi lingkungan sekitar agar dapat dirancang sistem distribusi yang efisien dan berkelanjutan.
“Ketersediaan sumber mata air alami ini sangat penting sebagai fondasi utama proyek kami. Dengan penelitian dan perencanaan matang, kita bisa menyediakan akses air bersih yang layak bagi warga,” ujarnya penuh semangat.
Selain itu, kegiatan ini juga diwarnai dengan dialog interaktif bersama masyarakat setempat.
Tokoh masyarakat sekaligus tokoh adat, Pak Willy, turut hadir dan menyampaikan apresiasi besar terhadap inisiatif ini.
Ia menyatakan bahwa program ini sangat dinantikan karena selama ini mereka menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih yang memadai, terutama saat musim kemarau tiba.
“Air adalah kebutuhan pokok kami. Kami sangat berterima kasih atas perhatian dari tim ITSkementerian transmigrasi RI dan pemerintah daerah yang telah merespons kebutuhan kami secara serius,” ungkap Pak Willy dengan penuh haru.
Dampingan dari Dinas Nakertrans Kabupaten Belu melalui Bapak Risto Mau juga menegaskan dukungannya terhadap keberlanjutan proyek ini.
Ia menjelaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama keberhasilan pembangunan jaringan air bersih, sehingga program ini tidak hanya menjadi solusi jangka pendek tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi komunitas.
“Pengalaman pribadi saya saat mengikuti proses peninjauan hari ini memperlihatkan betapa besar antusiasme masyarakat terhadap proyek ini. Mereka berharap agar pembangunan jaringan air bersih dapat segera direalisasikan agar kehidupan mereka bisa lebih baik dan sehat,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat setempat, impian memiliki akses air bersih yang layak bukan lagi sekadar angan-angan melainkan sebuah realitas yang semakin dekat.
Dengan momentum positif ini, tim ekspedisi Patriot dari ITS optimis bahwa langkah awal hari ini akan membuka jalan menuju keberhasilan proyek besar ini.
Tim Ekspedisi Patriot ITS di bawah Kementerian Transmigrasi terus bergerak dari lapangan, menghadirkan pendekatan berbasis keilmuan untuk mendukung pembangunan dan pengembangan Kawasan Transmigrasi Tasifeto Mandeu. (Ronny)


