UBUD, The East Indonesia – Setelah sukses digelar di Museum Arma Ubud pada tanggal 25 – 26 September 2025, Nusantara Internasional Folklre Festival (NIFF) kembali digelar dan digelar di Museum Puri Lukisan Ubud dan digelar selama dua hari sejak Sabtu malam (26/9/2026).
NIFF tahun 2026 ini menghadirkan pertunjukan seni tari yang kaya pesan filosofi kehidupan, bukan hanya dari Nusantara tetapi juga dari negara di dunia. Dalam acara pembukaan, penari beberapa negara ikut tampil secara memukau. Mereka berasal dari Jepang, Selandia Baru, Thailand, Polandia dan beberapa peserta lainnya.
Festival Director & Co-Founder NIFF Sita Tyasutami saat dikonfirmasi membenarkan banyaknya partisipasi dari negara asing dalam NIFF tahun 2026 di Ubud Bali. Mengusung tema “Global Rhythms, Shared Stories”, festival ini mempertemukan kelompok seni dan seniman dari berbagai daerah di Indonesia dengan peserta internasional dari Jepang, Selandia Baru, Polandia dan Thailand.
“Berlangsung di Museum Puri Lukisan, Ubud, NIFF 2026 menghadirkan pertunjukan, workshop, serta ruang pertemuan antarbudaya. Program festival mencakup berbagai bentuk seni tradisi, mulai dari tari Bali, Jawa, Sunda, Minangkabau, Dayak dan tradisi Nusantara lainnya hingga Nihon Buyo dari Jepang, musik orkestra Polandia, seni tari Thailand, serta Kapa Haka dari Selandia Baru,” ujarnya.
Ia menegaskan, NIFF merupakan kelanjutan dari perjalanan Jakarta International Folklore Festival (JIFF) yang pertama kali diselenggarakan pada 2019 di Taman Lapangan Banteng, Jakarta. Setelah terhenti akibat pandemi COVID-19, festival kembali hadir secara independen melalui penyelenggaraan NIFF 2025 di Ubud. Tahun ini merupakan edisi kedua NIFF. “NIFF pertama kali dimulai di tahun 2019 dengan nama Jakarta International Folk Festival saat itu di Lapangan Banteng.

Awalnya mau terus berlanjut, tetapi dengan perubahan kepemimpinan dan kemudian pandemi COVID, akhirnya semua terhenti. Pada 2024 kami berpikir, yuk kita bikin lagi, tidak usah menunggu siapa pun, kita bikin sendiri,” ujar Sita Tyasutami.
Menurut Sita, Bali dipilih sebagai lokasi festival karena memiliki daya tarik yang kuat bagi peserta maupun penonton dari berbagai daerah dan negara. Pada awalnya, NIFF dirancang untuk berpindah dari satu kota ke kota lain setiap tahun. Namun, penyelenggara melihat bahwa festival masih membutuhkan waktu untuk membangun identitas dan jejaringnya.
“Awalnya kami memang merencanakan agar setiap tahun festival berpindah kota. Namun
setelah melihat tahun lalu dan tahun ini, mungkin kami masih perlu minimal satu tahun lagi di Bali, yaitu 2027. NIFF masih baru, jadi kami perlu settle dulu secara nama dan brand agar gaungnya semakin besar sebelum kemudian pindah-pindah kota,” kata Sita.
Sekalipun sempat vakum karena berbagai kendala dan pandemi Covid yang melanda dunia, namun minat terhadap NIFF terus meningkat. Tahun 2026, jumlah peserta pentas melonjak menjadi 250 orang baik dalam negeri maupun mancanegara.
“Tahun ini peserta pentas seni tari meningkat menjadi 250 orang dari tahun sebelumnya. Minat dari mancanegara juga sangat tinggi namun kami harus mengkurasi secara profesional dan proporsional agar tidak lari dari akar budayanya yang sebenarnya,” ujarnya.
Bagi NIFF, folklore tidak dipahami sebagai sesuatu yang berhenti pada bentuk tradisi masa lalu. Festival melihat folklore sebagai bagian dari kebudayaan yang terus berkembang bersama masyarakatnya.
“Folklore itu tidak berhenti pada tradisi yang begini atau begitu. Folklore adalah bagian dari kebudayaan yang terus berkembang sesuai dengan perkembangan manusianya. Jadi kami tidak kaku dengan pakem. Komunitas keraton juga bagian dari folklore, komunitas rakyat juga bagian dari folklore,” ujar Jasmine Okubo, Curator NIFF 2026.
Jasmine menjelaskan, keberagaman menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan program NIFF 2026. Festival tidak hanya mempertemukan tradisi dari berbagai negara, tetapi juga membuka ruang bagi kelompok seni dari berbagai daerah dan lintas generasi.
“Kami ingin menghadirkan keberagaman, baik dari berbagai negara maupun dari Indonesia sendiri. Kami juga berusaha memberikan ruang kepada teman-teman dari daerah lain dan anak-anak muda yang ingin terlibat di panggung internasional,” ujarnya.
Maria Darmaningsih, Artistic Director & Co-Founder NIFF mengatakan, gagasan NIFF juga berangkat dari kegelisahan melihat banyak kelompok seni Indonesia yang harus mengeluarkan biaya besar untuk mengikuti festival di luar negeri, sementara Indonesia sendiri memiliki banyak komunitas seni yang membutuhkan ruang tampil.
“Coba yuk kita mengangkat kesenangan mereka itu dengan membuat festival. Saya sendiri
memang menari sejak umur enam tahun, jadi seni pertunjukan itu memang sudah mendarah daging. Energinya memang bergulir saja,” kata Maria.
Konsep tersebut diwujudkan melalui keterlibatan kelompok seni dari berbagai daerah. NIFF tidak hanya menghadirkan kelompok dari Bali, tetapi juga komunitas dan seniman dari Jakarta, Yogyakarta, Indramayu, Dharmasraya, Palangka Raya dan Dompu. Dari luar Indonesia, peserta tahun ini berasal dari Jepang, Selandia Baru, Polandia dan Thailand.
Ia menjelaskan bahwa proses pemilihan peserta dilakukan melalui submission dan pembahasan kuratorial. Tidak semua kelompok yang mendaftar otomatisditerima.Tim kurator mempertimbangkan kesiapan dan kualitas artistik setiap peserta.
“Tahun lalu ada satu grup yang sangat ingin ikut, tetapi menurut kami secara artistik sebenarnya belum bisa. Akhirnya tim tersebut dibimbing selama sekitar satu bulan sampai akhirnya mereka siap untuk tampil,” jelasnya.
Untuk peserta internasional, prosesnya juga mempertimbangkan aspek administratif dan tidak logistik, termasuk visa, perjalanan dan biaya kehadiran. Ia menyebut sejumlah calon peserta internasional akhirnya tidak dapat hadir karena kendala biaya perjalanan. Di sisi lain, keberadaan peserta internasional tetap menjadi bagian penting dari identitas NIFF
sebagai festival folklore internasional. “Karena kami menggunakan kata internasional, kami juga harus bertanggung jawab dengan peserta luar. Kami memang ingin sebanyak-banyaknya peserta internasional hadir,” ujarnya.
Pertemuan antara kelompok seni Indonesia dan internasional menjadi salah satu fokus NIFF 2026. Festival tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga workshop yang memungkinkan peserta belajar langsung dari tradisi yang berbeda. Program workshop mencakup Solah Masolah bersama Nyoman Sudewi, Kecak Dance Collaboration bersama Prof. I Wayan Dibia, Jaimasan Dance bersama Didik Nini Thowok, Fauwn Leb (Fingernail Dance) bersama Sirisook Dance Theatre dari Thailand, serta Maori Dance & Kapa Haka bersama Wairea Performing Arts dari Selandia Baru.
Pada pertunjukan 26 September, NIFF menampilkan antara lain Legong Trance dari Panca Artha Bali, Nyawiji karya Maria Darmaningsih, Polish Regional Music Medley dari Nadarzyn
Orchestra Polandia, Echigojishi dari Kimiko Wakayagi Jepang, serta Kapa Haka dari Wairea, Sementara pada 27 September, program menghadirkan Reog Ponorogo dari PAKASA Bali, Spirit of the Thai Kingdom dari Sirisook Dance Theatre, A Prayer dari Kimiko Wakayagi, Atua Wahine – Ancient Māori Goddesses dari Wairea Performing Arts, Polonaise in A Major & Dynamic Music Showcase dari Nadarzyn Orchestra, Kecak Collaboration bersama I Wayan
Dibia, hingga Closing Show oleh KunoKini.
Maria melanjutkan, pertemuan tersebut menunjukkan bahwa seni dapat menjadi ruang untuk melihat persamaan manusia di tengah perbedaan budaya.
“Ketika kita menari, kita tidak menghidupkan perbedaan, tetapi justru melihat bahwa kita semua manusia sama,” ujar Maria. Maria juga mencontohkan kehadiran Nadarzyn Orchestra dari Polandia sebagai salah satu bentuk kesenian yang memperluas pemahaman tentang folklore. “Itu menarik sekali. Kita juga belajar dari kesenian yang lain,” katanya.
Pemilihan Ubud sebagai lokasi NIFF juga membuka ruang pertemuan antara komunitas seni lokal dengan peserta dari berbagai daerah dan negara.
Maria mengatakan penyelenggara berusaha membangun hubungan dengan komunitas setempat dan tidak datang sebagai pihak luar yang berdiri sendiri. “Kami sebagai orang dari luar Bali harus menyadari bahwa kami adalah tamu. Jadi harus baik,
harus seimbang. Semuanya harus selaras,” ujar Maria.
Semangat tersebut juga terlihat dari keterlibatan komunitas dan kelompok seni Bali dalam program NIFF 2026, termasuk Panca Artha, Bumi Bajra, Kerta Art, Sasi Wimba, PAKASA Bali dan Soul of Melanesian. Melalui pertemuan antara kelompok lokal, nasional dan internasional, NIFF 2026 membawa kembali gagasan utama festival: tradisi tidak hanya dipelihara sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus dipraktikkan, dipertukarkan dan dikembangkan.
“Semoga ke depannya NIFF bisa terus berlanjut dengan baik, semakin banyak peserta
internasional maupun dari seluruh Indonesia. Kami ingin ada yang datang dari Sabang sampai Merauke, dengan komunitas yang berbeda-beda,” ujarmya.(*)

