ATAMBUA, The East Indonesia – Ribuan masyarakat dari rumpun Suku Uma Alindasi berkumpul dengan khidmat di Fatubesi, Mandeu, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Mereka menggelar upacara puncak Tradisi Ta Karau dan Ritual Pendinginan Rumah, pada Jumat, 10 Oktober 2026.
Acara sakral ini menandai rampungnya seluruh tahapan renovasi Rumah Adat “Uma Alindasi” yang telah berjalan beberapa waktu terakhir.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Ketua Suku, perwakilan Meo (kesatria adat), perwakilan dari 9 suku di Fatubesi, pihak-pihak terkait, serta 105 Kepala Keluarga (KK) yang bernaung di bawah rumpun suku tersebut.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap adat istiadat, seluruh suku yang tersebar di wilayah Belu di luar suku asli Kecamatan Raimanuk yang bertindak sebagai tuan rumah diundang hadir pada acara puncak tersebut.
Masing-masing delegasi suku datang membawa Tanasak Kadaen, yang telah diisi dengan beras atau pinang dan sirih sebagai simbol ketulusan, ikatan kekerabatan, dan penyatuan hati.
Diketahui, secara garis besar di Kabupaten Belu, tradisi Ta Karau merupakan prosesi puncak pasca-pembangunan atau renovasi rumah adat yang ditandai dengan pemotongan hewan kurban berupa kerbau di altar depan Uma Lulik.
Ritual ini menjadi simbol ungkapan rasa syukur, kemenangan, serta penguatan fondasi spiritual agar rumah adat tersebut senantiasa mendatangkan berkat, kedamaian, dan berfungsi sebagai ritual ‘pendinginan’ (penyucian) bangunan baru bagi seluruh anggota suku.
Ketua Suku Uma Alindasi, Andreas Baas, menjelaskan bahwa renovasi ini melalui proses panjang yang teratur dari tahap awal hingga akhir dilakukan secara bergotong royong dan melalui tahapan adat yang ketat.
“Tahap awal dimulai dari pembongkaran rumah adat lama, kemudian dilanjutkan dengan prosesi pendirian pondasi tiang utama hingga pemasangan atap,” ujar Andreas saat diwawancarai awak media di lokasi kegiatan.
Andreas menambahkan bahwa untuk acara puncak ini melalui juga rangkaian ritual inti yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut, sejak Rabu, 7 Oktober 2026.
Setiap harinya memiliki makna spiritual tersendiri yang wajib diikuti oleh seluruh anggota suku yang sudah berumah tangga.
“Hari pertama pada hari Rabu kami menyebutnya istilah Sudik. Hari kedua kemarin (Kamis) namanya Sai Railuan. Ada empat tahapan prosesi yang kami lakukan di luar rumah adat menggunakan empat ekor babi, meliputi ritual Foho Rai, Hadap, ritual di pintu masuk, dan diakhiri dengan pemotongan babi untuk Kekuluk (tiang utama) yang disaksikan oleh lebih dari 20 Han Matan (pemuka/saksi adat),” urai Andreas.
Setelah seluruh prosesi awal tersebut selasai, ritual kemudian memasuki acara puncak, yaitu Ta Karau.
Tradisi ini ditandai dengan pemotongan hewan kurban berupa kerbau di altar suci yang berada persis di depan Uma Lulik Alindasi.
Ritual ini sekaligus menjadi sarana penguatan fondasi spiritual rumah adat agar senantiasa mendatangkan berkat, rezeki, dan kesehatan bagi anak cucu.
Selain itu, dilaksanakan juga Ritual Pendinginan Rumah yang bertujuan menyucikan kembali bangunan baru agar membawa kedamaian dan menjauhkan seluruh anggota suku dari segala bencana maupun mara bahaya.
Sebagai bagian dari tradisi turun-temurun, Suku Uma Alindasi memegang peran penting dalam struktur adat setempat.
Dalam pembagian wilayah adat, Suku Alindasi di wilayah Mandeu, Kecamatan Raimanuk ini dikenal dengan istilah Roman, sementara wilayah Bekotaruik memegang peran sebagai Kukun.
Meskipun acara ini berpusat di Uma Alindasi, pelaksanaannya melibatkan persatuan yang kuat antar-suku di wilayah Fatubesi.
Diketahui ada 9 suku di Fatubesi yang bahu-membahu menyukseskan seluruh jalannya ritual adat sejak hari pertama.
Usai upacara Ta Karau, prosesi dilanjutkan dengan ritual Zona Fahi atau Leno Urat (melihat urat).
Sebanyak 105 KK mulai membawa masuk hewan kurban berupa babi atau ayam milik keluarga masing-masing.
Melalui Leno Urat dari hewan kurban tersebut, para tetua adat akan membaca petunjuk dan tanda-tanda alam dari para leluhur untuk melihat hal-hal baik yang akan terjadi di masa depan.
Selain itu ada juga ritual Tara lulik dan sebagai penutup diadakan Ibadah berkat Rumah Suku Uma Alindasi. (Ronny)


