Tuesday, March 17, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Warga Bululada Buleleng Rela Antri Untuk Dapatkan Air Bersih

Buleleng,Theeast.co.id,  –  Sejumlah warga Bululada dan Selat Kabupaten Buleleng terlihat mengantri di sebuah sumber mata air, yang disebut kayehan duren. Sumber mata air yang berada di wilayah Tukad Baas, Banjar Dinas/Desa Selat, merupakan satu-satunya sumber air yang masih menyediakan air bersih di musim kemarau. Mereka mengantri untuk mendapatkan air bersih yang nantinya mereka gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti yang terlihat pada Senin (22/10) sore.‬

‪Warga Banjar Dinas Bululada dan Selat, Desa Selat, Kecamatan Sukasada, Buleleng, kembali harus mengulang perjuangannya untuk mendapatkan air bersih di musim kemarau. PAM Desa yang selama ini mengaliri rumah warga sudah sejak bulan Juli lalu tak dialiri setetes air pun. Ratusan warga di dua banjar dinas itu pun membisakan diri untuk mendapatkan air bersih.‬

‪Krisis air di Desa Selat itu dirasakan warga semakin menjadi sejak dua tahun terakhir. Tahun sebelumnya meski musim kemarau, ada saja air yang mengalir ke rumah, meski harus bergadang untuk menampungnya. Tiga bulan berselang kemarau dan krisis air di Desa Selat hingga saat ini belum mendapat penanganan pemerintah. Warga pun mengaku belum mendapatkan pelayanan dan suplai air bersih dari BPBD maupun dari PDAM Buleleng.‬

‪Salah satu warga Wayan Santika mengaku ia dan warga lainnya di Bululada sejak bulan Juli lalu tidak mendapat air bersih. Sehingga ia harus ke Kayehan Duren untuk mendapatkan air bersih. Ia mengatakan masalah krisis air di desanya memang menjadi masalah rutin setiap musim kemarau. Selain mencari dan mengantri air di kayehan duren, sebagian warga juga disebut membeli air dengan harga yang sangat mahal. Satu bak air volume 1100 liter dibeli dengan harga Rp 100 ribu. Ada juga beberapa masyarakat yang memiliki sumur bor pribadi dan kelompok. Jika ada warga diluar itu mau membeli dan aliri air dikenakan biasa Rp 50 ribu satu jam. “Aketelan sing ade buk, kanti jepit bak kamar mandine bes keliwat tuhne, (setetespun tidak ada air mengalir, sampai bak mandi pecah akibat terlalu kering,red),” ujarnya.‬

‪Hal serupa juga dikatakan Komang Wartiasa yang juga mengantre air di kayehan duren. Ia yang sudah hafal dengan krisis air di desanya, mengaku sering kali mandi dan mencuci pakaian di luar desa. “Kalau untuk minum saya cari disini, tapi kalau untuk masak, mandi dan cuci pakaian biasanya saya mandi di kelebutan Tukadmungga,” katanya.‬

‪Sementara itu Camat Sukasada, Made Dwi Adnyana dikonfirmasi terpisah memang membenarkan kondisi krisis Desa Selat. Ia dengan pemerintah desa saat ini sedang mencari solusi dan jalan keluar masalah kekeringan yang langganan datang setiap tahunnya. “Dulu pemerintah desanya sudah pernah mencoba sumur bor, tetapi setelah dioperasikan hasilnya tak maksimal. Sumber airnya memang minim, bahkan air terjunnya juga kering saat kemarau. Padahal di Selat itu pengelolaan hutannya sangat bagus, kami juga heran dengan kondisi itu,” kata Camat asal Negara itu.‬

‪Kini pemerintah desa disebutnya sedang mencari lokasi lain yang memungkinkan untuk dilakukan penggalian sumur bor dan mengalisis lapisan dan struktur tanah disana. (Nay)

Popular Articles