Atambua, Theeast.co.id – Ribuan anakan jambu Mente akan ditanam di kawasan Desa Takirin, Kecamatan Tasifeto Timur, kabupaten Belu, Perbatasan Negara RI-RDTL dari Dinas Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hal ini diungkapkan Kepala Desa Takirin Yosep Nahak Kepada wartawan media ini, Rabu (20/03/2019).
Diketahui Jambu monyet atau jambu Mente merupakan sejenis tanaman dari suku Anacardiaceae yang berasal dari Negara Brasil dan memiliki buah yang dapat dimakan. Yang biasa terkenal dari jambu imi adalah kacang mede, kacang mete atau kacang mentenya. Biji jambu ini yang biasa dikeringkan dan digoreng untuk dijadikan berbagai macam penganan. Kacang Mente juga dapat diekstrak minyak yang berkualitas tinggi. Kulit biji jambu Mente dapat dimanfaatkan untuk pakan unggas. Sejenis minyak juga dihasilkan dari cangkang buah Mente yang dipakai dalam industri dan juga sebagai bahan untuk mengawetkan kayu atau jala.
Dijelaskan bahwa jumlah anakan jambu Mente yang akan ditanam ada 60 ribu anakan yang akan ditanam di lahan seluas 150 hektar yang berada di lokasi hutan dan juga lahan milik warga di Desa Takirin. “Rencananya penanaman akan dimulai pada bulan April 2019 mendatang,” pungkas Yosep.
Kades Takirin ini menyampaikan tanaman mente itu akan dibantu dengan hidrozat untuk tetap menjaga kelembaban tanah selama enam bulan. Dengan demikian, anakan mente itu akan mampu bertahan di musim kemarau.
Untuk mekanisme penanaman anakan mente itu akan dibiayai oleh negara yang bersumber dari APBN sekitar 800 sampai 900 juta rupiah.
Mente yang ditanam di lahan warga akan menjadi milik warga yang bersangkutan. Sedangkan, mente yang ditanam di lokasi hutan akan dikelola menggunakan Bumdes untuk menambah pendapatan desa.
Anakan Mente yang ditanam baru bisa dipanen 3 sampai 4 tahun ke depan. Hasil penenannya akan diambil dan dinikmati oleh masyarakat dan penambahan pendapatan desa. Dari hasil penekan itu, warga dan pemerintah hanya menyumbang 100 rupiah per kilogram untuk negara.
Selain anakan mente, ditanam juga anakan ampupu dan kelor. Sebelumnya lokasi hutan ini ditanami jati putih. Namun, hasilnya membutuhkan waktu yang lama untuk dinikmati oleh masyarakat. “Di tepi sungai akan kita tanam anakan ampupu sedangkan di tanah bebatuan akan kita tanam kelor,” jelasYosep.
Yosep menganjurkan agar bagi siapapun kepala desa berikutnya, dianjurkan untuk membangun jalan usaha tani menuju ke lokasi hutan mente. “Entah saya atau siapa pun kepala desa pada periode berikut, dianjurkan untuk membangun jalan usaha tani ke lokasi hutan mente,” harapnya. (Ronny)


