Friday, May 29, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Napak Pertiwi, Film Inspiratif tentang Agama, Adat dan Budaya Bali

DENPASAR – Sineas muda Bali, IB Hary Kayana Putra akan menghadirkan satu karya film yang diberi judul Napak Pertiwi, yangberkisah tentang kehidupan seniman. Lebih spesifik, film fiksi ini menceritakan kisah perjuangan seorang anak yang memiliki obsesi untuk menjadi seorang pelukis sejati.

Putra mengatakan, melalui kisah sang tokoh utama, seorang anak laki-laki yang bernama Putu Karang yang tinggal di Nusa Penida, kita akan diajak untuk menyelami pengalaman seseorang yang terpinggirkan, tidak memiliki akses terhadap kehidupan yang layak, jauh dari teknologi, apalagi pendidikan maju. Namun ia pantang menyerah, memberanikan diri keluar dari zona nyaman, menetapkan hati untuk sebuah pilihan yang tidak mudah.

“Film ini berupaya menghadirkan nilai-nilai yang bersifat reflektif (memahami realitas, -red) dan kontemplatif (bersifat mendalam dan penuh perhatian, -red). Film ini tidak memiliki maksud atau tujuan mengajarkan atau menggurui para penonton dengan pesan-pesan moral yang ingin disampaikan. Kami yakin bahwa film ini memiliki sesuatu yang layak ditonton bagi pemirsanya,” jelas Putra, sang sutradara saat ditemui di Sanur, Denpasar, Jumat (2/3).

Lebih lanjut, ia menjelaskan kisah film Napak Pertiwi ini terinspirasi dari percakapannya dengan salah satu seniman kontemporer Bali yang inspiratif. Menurutnya menetapkan pilihan menjadi seniman atau pelukis saat ini bukanlah hal yang mudah, sehingga itu membuatnya tertarik untuk mengetahui lebih dalam motivasi sang seniman.

“Saya menelusuri lebih jauh apa yang menjadi motivasi atau dasar penciptaan kreatif sang seniman, apa yang membuat ia memiliki ketetapan hati, apa yang menjadikan ia merasa harus berkontribusi untuk masyarakat, bangsa, dan negaranya. Tak lama, saya temukan jawabannya adalah ‘ngayah’,” ungkapnya.

Napak Pertiwi sendiri merupakan konsep yang identik dengan agama, adat, dan budaya Bali. Namun, ia juga mengakui ada tantangan dan kesulitan yang ia temui dalam mengambarkan konsep ini agar terlepas dari kesan mistis, sebagaimana anggapan masyarakat Bali pada umumnya.

“Karena kalau orang mendengar Napak Pertiwi itu sendiri, itu sudah berbau tradisi yang mengarah ke rangda, calon arang. Saya ingin mematahkan anggapan yang sudah ada itu, terus terang di situ saya menghadapi kesulitan dan sekaligus ini menjadi tantangan,” terangnya.

Saat ini film Napak Pertiwi masih dalam proses produksi dan ia menargetkan akan selesai sekitar bulan Mei atau Juni 2018 ini. Pemutaran perdananya akan dilakukan di kampus dan rencananya akan mengadakan gala premiere di Denpasar Cineplex.

Popular Articles