ATAMBUA, The East Indonesia – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pagi, menyisakan duka mendalam bagi seluruh masyarakat.
Bencana alam ini berdampak luas pada infrastruktur warga, merusak setidaknya ratusan rumah, fasilitas ibadah, serta menyebabkan puluhan korban jiwa dan ratusan warga mengalami luka-luka.
Secara geologis, wilayah pesisir utara mulai dari Flores Timur Utara, Sikka Utara, Ende Utara, Ngada Utara, sebagian Lembata, hingga Pulau Adonara terdampak akibat aktivitas back-arc thrust (patahan di belakang busur gunung api).
Fenomena alam ini menjadi pengingat pentingnya memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan bersama dalam menghadapi dinamika bumi.
Menyikapi musibah ini, tokoh masyarakat asal Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Yonas Engelbert Talok, S.Pd., M.I.Pol., menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam.
Menurutnya, momentum ini merupakan panggilan nurani bagi seluruh elemen bangsa untuk mewujudkan solidaritas nyata tersebut.
“Setiap ungkapan dukacita adalah wujud empati yang tulus. Ketika saudara-saudara kita di Flores mengalami musibah, duka tersebut adalah duka kita bersama. Sebagai mahluk sosial yang beriman, rasa kemanusiaan kita diuji untuk hadir memberikan dukungan nyata,” ujar Yonas Engelbert dalam pernyataan resmi kepada media ini, Selasa, 18 Agustus 2026.
Dirinya juga menambahkan bahwa semangat ini selaras dengan momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan RI.
Menurutnya, kemerdekaan harus diartikan melalui kerja nyata yang cepat, tepat, dan kolaboratif demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat yang sedang tertimpa musibah.
Guna mempercepat pemulihan di wilayah terdampak, Yonas Engelbert Talok mendorong adanya sinergi yang kuat antara Pemerintah Daerah Kabupaten Belu baik eksekutif maupun legislatif, pemangku kepentingan, organisasi kemasyarakatan (ormas), tokoh masyarakat, serta pelaku usaha.
Koordinasi satu meja dinilai menjadi langkah strategis untuk menyatukan potensi bantuan secara terpadu.
“Kita perlu bergerak bersama secara taktis. Melalui inisiasi posko-posko bantuan yang dikelola secara transparan dan akuntabel, kita dapat memastikan bahwa seluruh uluran tangan dari masyarakat Belu dapat tersalurkan dengan tepat sasaran kepada saudara-saudara kita di Flores,” pungkas pria yang juga adalah seorang Anggota DPRD kabupaten Belu.
Melalui semangat gotong royong yang diharapkan dapat segera terwujud ini, Engel Talok mengajak semua elemen masyarakat untuk meringankan beban para korban gempa. Sebab sejatinya, duka Flores adalah duka Belu, dan luka mereka adalah luka kita semua. (Ronny)
