Surabaya – Setelah Aloysius Bayu kini ada lagi sosok pahlawan yang berani menghadang mobil pembawa bom di Gereja Pantekosta. Daniel Putra Agung Kusuma namanya, bocah kelas 2 SMP inilah pahlawan cilik di Gereja Pantekosta. Sosok Daniel adalah pribadi sederhana bahkan terbilang mandiri. Di usianya yang masih muda (15 tahun) ia tak segan membantu ayahandanya menjadi petugas parkir di Gereja.
Hari itu Daniel dan ayahnya menjadi petugas parkir di Gereja bersama Pak Man, seorang rekan ayahnya. Ketika peristiwa itu terjadi ayah Daniel sedang di belakang dan bergegas ke depan mencari anaknya namun tak ketemu. Belakangan baru diketahui jika Daniel dan Pak Man menjadi korban, Pak Man badannya hancur sedangkan bocah Daniel kepalanya hancur. Dari saksi mata menjelaskan bahwa Pak Man dan Daniel menghalang-halangi mobil Avanza itu masuk walau mobil itu berusaha terus masuk.

Sejak kecil bocah Daniel (2 tahun) dirawat sang nenek karena sang ibunda Daniel sudah meninggal. Kini sosok renta itu tak bisa lagi melihat keceriaan sang cucu.
Kala akan dimakamkan tampak Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mendatangi rumah duka Daniel Putra Agung Kusuma di Dukuh Kupang, Kecamatan Sawahan, Selasa (15/5/2018) untuk berbela sungkawa dan melepas jenasah ke pemakaman.
Wali kota larut dalam duka dan menunjukkan empati kepada keluarga. Begitu tiba langsung menemui keluarga Daniel. Daniel bocah pemberani ini memang sudah tak mempunyai ibu dan sosok nenek inilah penggantinya.
Risma tiba menjelang jenazah akan dimakamkan di TPU Jarak.
“Semua ikut berduka. Semoga mendapat tempat istimewa almarhum,” kata Risma.
Ratusan warga, teman sekolah, dan pihak gereja ikut hadir dalam pelepasan jenazah untuk dimakamkan itu.
Daniel yang masih duduk di bangku SMP Kartika menjadi korban ledakan bom bunuh diri pelaku teroris di Gereja Pante Kosta.
“Daniel ikut bantu ayahnya mengatur parkir kendaraan di gereja. Dia yang menghadang mobil berisi bom yang akhirnya meledak,” kata Camat Sawahan, Muhammad Yunus.
Pahlawan memang tak pernah habis bermunculan di kota Surabaya, seakan darah pahlawan memang sudah mengalir dan melekat di tiap “Arek Suroboyo” (*)
(sumber : Tribunnews)



