BALI – PT. Rekadaya Multi Adiprima (RMA) saat ini tengah berinovasi membuat Produk Pengendali Polusi Suara dengan bahan baku utama berasal dari sisa (scrap) produk tekstil dan serat alam yang cukup melimpah dan banyak tersedia di Indonesia. Product ini diluncurkan dengan branding Green Rekadaya Product. Produk ini juga dapat diaplikasikan untuk menunjang pembangunan infrastruktur berskala nasional dan beorientasi eksport. Dengan strategi menggunakan rujukan Penta-Helix (lima unsur/aktor), meliputi Pemerintahan, Akademisi, Bisnis, Komunitas, dan Media, PT. RMA yakin akan meraih pasar potensial di masa depan. Demikian dikemukakan, Chief Executive Bisnis Development dan Coorporate sekaligus Owner PT.RMA, Farri Aditya di Jakarta baru – baru ini.
Salah satu target pasar produk pengendali polusi suara adalah perhotelan, hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah khususnya Kementerian Pariwisata dalam upaya mendorong pengembangan Green Hotel. Untuk mendapatkan standar tentang sarana perhotelan yang ramah lingkungan, Farri Adiya selaku owner PT. RMA telah melakukan komunikasi dengan Sekolah Tinggi Pariwisata-Bandung, juga dengan Sekolah Tinggi Pariwisata-Bali pada Rabu (22/3/2017) yang diterima langsung oleh Drs. Dewa Gede Ngurah Byomantara, M Ed Directur STP-Bali. Menurut Farri Aditya, yang juga alumnus STP-Bandung dalam pembicaraan itu dirinya memperoleh respon positif bahkan Byomantara merasa bangga sekaligus kagum atas usaha yang ditekuninya. Apalagi dalam memaparkan rencana bisnisnya ini, Farri memperkenalkan motto bisnisnya “Mengurangi Polusi dengan Limbah” yang tentu sangat relevan dengan konteks kekinian kita.
Strategi Farri Aditya dalam pengembangan bisnisnya memang cukup jitu dengan menggunakan rujukan Penta-Helix (lima unsur/aktor), meliputi Pemerintahan, Akademisi, Bisnis, Komunitas, dan Media. Dengan Pemerintah dan Akademisi utamanya untuk pengembangan riset, yang hingga sekarang telah terjalin kerjasama dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Koperasi & UMKM dan tengah dijalin dengan Kementerian lainnya yakni Kementerian PUPR, Kementerian Kesehatan, Kementerian LH dan Kehutanan, Kementerian Ketenagakerjaan. Dengan Akademisi telah terjalin kerjasama dengan Universitas Sebelas Maret-Solo, ITB-Bandung, UNSRI-Palembang, juga dengan STP-Bandung, serta dengan STP-Bali yang saat ini tengah dirintis dan akan dilakukan Mou pada 24 Maret 2017. Pada lingkup Bisnis terutama dengan pihak-pihak yang selama ini telah memberikan kepercayaan kepada usahanya dibidang komponen otomotif seperti Astra Mitra Ventura, Toyota, Daihatsu, Hino, Suzuki, Mitsubishi dan berbagai mitra usaha lainnya. PT. RMA sebagai anggota PIKKO (Perkumpulan Industri Kecil-Menengah Komponen Otomotif) Indonesia, tentunya terkait dengan aspek Komunitas.
Farri Aditya juga menjelaskan bahwa terkait dengan regulasi tingkat kebisingan, telah diatur oleh lima kementerian yaitu Kementerian Perindustrian, Kementerian Pariwisata, Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Ketenagakerjaan. Akan tetapi, belum ada Standar Nasional Indonesia yang mengatur tentang kebisingan itu sendiri. Green Rekadaya Product ini juga sudah dalam proses paten dengan dibantu oleh pemerintah untuk mempercepatnya. “Produk Green Rekadaya Product ini salah satunya telah kami pasang di Sekolah Tinggi Pariwisata-Bandung, tepatnya di aula Dome Malabar. Dari pemasangan peredam ini, efek yang dihasilkan adalah mampu meredam pantulan suara menjadi setengah kali lipat lebih baik”, jelas Farri Aditya.
“Agar lebih nyaman, nanti gedung di lingkungan STP-Bali juga akan dipasang Produk Pengendali Polusi Suara” demikian dinyatakan Byomantara yang sejak 2013 memimpin Sekolah Tinggi Pariwisata-Bali yang bernaung dibawah Kementerian Pariwisata, sekaligus sebagai center of excellence bidang pariwisata yang tertua di Indonesia. Produk yang dihasilkan ini mengacu pada konsep ramah lingkungan dengan basis material dari recycle, sehingga bagi STP-Bali ini bisa menjadi instrumen pembelajaraan mahasiswa tentang wawasan bisnis, terang Byomantara.
Farri Aditya yang telah 9 tahun menggeluti bisnis komponen otomotif, berharap agar dalam kaitan dengan research, branding, dan promotion hendaknya Pemerintah senantiasa hadir dengan memberikan pendampingan kepada UKM sehingga Pelaku usaha skala IKM bisa lebih berkembang ditengah maraknya liberalisasi yang terus berlangsung sehingga pada gilirannya bisa bersaing dalam konteks global dan tidak lagi menjadi penonton yang piawai. (*)


