ATAMBUA, The East Indonesia – Peristiwa tragis menyelimuti warga RT 10/RW 02 Fatubenao B, Kelurahan Fatubenao, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu.
Pada Rabu malam, 11 Maret 2026, si jago merah melalap habis dua unit rumah warga hingga ludes tak bersisa.
Musibah ini menimpa tiga sosok perempuan tangguh yang kehilangan tempat tinggal dalam sekejap.
Mereka adalah Ibu Theodora Ili (89), seorang janda lansia; Ibu Segelinda Lika (50) yang menghidupi seorang anak laki-laki kelas 1 SMA; serta Ibu Linda Habuk (45), seorang penyandang disabilitas.
Ketiganya merupakan petani dan ibu rumah tangga yang selama ini berjuang mandiri tanpa sosok suami.
Tergerak oleh kondisi memprihatinkan tersebut, Ikatan Keluarga Belu yang tergabung dalam komunitas Sobat (Solidaritas Belu Bersatu) langsung turun ke lokasi untuk memberikan dukungan nyata.
Sesuai dengan motto mereka, “Jadilah Raja di Rumahmu Sendiri, Jangan Pernah Mau Disingkirkan, Apalagi Ditindas,” Sobat Belu menunjukkan aksi solidaritas dengan menyalurkan berbagai bantuan darurat.
Bantuan yang diberikan meliputi beras, bahan pokok (sembako), pakaian layak pakai, peralatan dapur, hingga sejumlah uang tunai untuk membantu kebutuhan mendesak para korban.
Kehadiran Sobat Belu diharapkan dapat menjadi pemantik semangat bagi Nenek Theodora, Ibu Segelinda, dan Ibu Linda untuk kembali bangkit menata hidup pasca musibah kebakaran ini.
Ketua Komunitas Sobat, Adventus Paijo Atok dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa Sobat (Solidaritas Belu Bersatu) sangat prihatin atas musibah yang kebakaran yang menghanguskan dua rumah warga di RT 10 RW 02, Fatubenao B, Kelurahan Fatubenao, pada Rabu malam (11/03/2026).
Dalam kunjungannya saat menyerahkan bantuan, Adventus Paijo Atok menyampaikan:
“Kami hadir di sini karena panggilan kemanusiaan. Melihat kondisi Mama bertiga yang kehilangan tempat tinggal dalam sekejap, hati kami tergerak. Mereka adalah pejuang keluarga petani dan ibu rumah tangga yang sedang diuji cobaan berat.”
Ditambahkan, “Sesuai motto kami, ‘Jadilah Raja di Rumahmu Sendiri, Jangan Pernah Mau Disingkirkan, Apalagi Ditindas’, makna ‘menjadi raja’ juga berarti kita harus berdaulat dan saling menopang saat saudara kita terjatuh. Kita tidak boleh membiarkan warga kita merasa sendirian atau tersingkirkan oleh keadaan, apalagi dalam situasi sulit seperti ini.”
Ketua Sobat mengatakan bahwa Bantuan berupa beras, sembako, pakaian, peralatan dapur, dan dana santunan ini mungkin tidak menggantikan seluruh kerugian, namun ini adalah simbol solidaritas dari keluarga besar Sobat untuk memastikan dapur para korban tetap mengepul dan mereka memiliki kekuatan untuk bangkit kembali.
Senada dengan itu, Wakil Ketua Sobat, Adrianus Mau menambahkan bahwa jangan dilihat dari besar kecilnya nilai bantuan ini.
“Ini murni ungkapan hati kami dari Sobat untuk sedikit meringankan beban sesama. Bagi kami, yang terpenting adalah semangat untuk memberi kepada sesama kami yang sedang tertimpa musibah,” pintanya.
Wakil Ketua Sobat juga menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan tahap pertama dan akan ada gelombang kedua kedepannya. Sobat juga menyampaikan kepada keluarga korban untuk mengkomunikasikan kebutuhan apabila akan dilakukan pembangunan kembali rumah yang ludes tersebut, serta menegaskan akan berupaya membantu semampu mereka.
“Ini adalah bantuan tahap pertama dari Solidaritas Belu Bersatu (Sobat). Kedepannya akan ada gelombang kedua. Kami juga sampaikan kepada keluarga korban, jika ada kebutuhan untuk membangun kembali rumah yang ludes ini, silakan komunikasikan kepada kami. Sobat akan berupaya membantu semampu kami.”
Sementara itu, Lurah Fatubenao, Ludovikus A. Laku Loi, A.Md, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian berbagai pihak yang telah membantu warga terdampak musibah kebakaran di RT 10/RW 02 Fatubenao B, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu yang terjadi pada Rabu malam, 11 Maret 2026 tersebut, menghanguskan dua unit rumah hingga ludes tak bersisa.
Dalam penyaluran bantuan tersebut, Ludovikus hadir langsung untuk menunjukkan dukungan pemerintah terhadap warganya. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan adalah kunci utama dalam menangani persoalan sosial seperti ini.
“Kami menerima bantuan ini dengan antusiasme. Saya wajib hadir di sini karena bagaimanapun pemerintah dan organisasi kemasyarakatan harus bahu-membahu menyelesaikan persoalan seperti ini,” ujar Ludovikus.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para relawan dan donatur yang telah bergerak cepat mengingatkan serta membantu warganya. Menurutnya, dukungan ini sangat berarti bagi para korban yang sedang berupaya bangkit dari keterpurukan.
“Terima kasih atas kepedulian Komunitas Sobat semua. Bantuan ini sangat berarti bagi mereka. Kiranya Tuhan selalu memberkati niat baik kita untuk membantu sesama yang mengalami musibah,” pungkasnya.(Rony)

