Monday, May 18, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

78 Siswa Asal Bali dan NTT Lulus Seleksi Pertukaran Pelajar YES Bina Antarbudaya Chapter Denpasar

DENPASAR – Sebanyak 78 siswa pendaftar program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES)/KL-YES Bina Antarbudaya Chapter Denpasar tahun seleksi 2018 akhirnya dinyatakan lolos.

78 siswa ini dinyatakan lulus setelah melalui tahap verifikasi dan seleksi berkas yang ketat

Mereka berasal dari sejumlah SMA dari delapan kota berbeda di lingkungan kerja Bina Antarbudaya Chapter Denpasar yakni Bali dan NTT.

“Peserta yang mendaftar tahun ini sebanyak 366 orang. Setelah berkas diverifikasi , sebanyak 175 orang lolos mengikuti seleksi berkas, tapi pada seleksi tahap 1 (seleksi berkas, red) hanya 78 orang yang lolos ke tahap selanjutnya (tahap wawancara bahasa Inggris dan keperibadian, red),” ungkap Ketua Panitia Seleksi Chapter Denpasar, Ni Luh Yesi Candrika, Kamis (3/5).

Seleksi wawancara bahasa Inggris dan kepribadian akan dilaksanakan pada tanggal 20 Mei 2018 secara serentak di seluruh Indonesia. Adapun sebaran 78 peserta tersebut meliputi 8 orang dari Denpasar, 8 orang dari Amlapura, 2 orang dari Tabanan, 16 orang dari Singaraja, 1 orang dari Badung, 2 orang dari Semarapura, 15 orang dari Maumere, dan 26 orang dari Kupang.

Candrika menjelaskan, proses seleksi penerimaan program YES tahun ini berbeda dengan penerimaan di tahun-tahun sebelumnya.

“Perbedaannya terletak pada adanya seleksi berkas di tahap pertama, ini dilakukan dengan tujuan menyaring siswa yang benar-benar berprestasi yang dapat dilihat melalui syarat pendaftaran, di antaranya nilai rapot mereka (kelas IX semester 1 dan 2 dan kelas X semester 2) harus minimal rata-rata nilainya adalah 8.00,” jelasnya.

Syarat lain yang harus dipenuhi peserta yakni setiap peserta diharapkan memiliki prestasi di bidang akademis maupun non akademis minimal tingkat kota/kabupaten. Selain itu, keaktifan siswa dalam kegiatan organisasi baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah juga dinilai.

“Dari tahap pertama penilain kami secara objektif dan kredibel,  yang dilakukan oleh dewan juri dari latar belakang pekerjaan yang berbeda seperti dosen, guru, pengacara, aktivis bidang kebudayaan, dan lainnya,” tambah Candrika. (*)

Laporan: Remigius Nahal

Popular Articles