Pastika Minta Filosofi Tri Hita Karana Dibahas di Sidang IMF

135

Denpasar, Theeast.co.id — Gubernur Bali Made Mangku Pastika meminta agar kearifan lokal Bali yang dikenal dengan filosofi Tri Hita Karana bisa dibahas dan menjadi agenda sidang IMF dan World Bank yang akan digelar pada Oktober mendatang.

Menurut Pastika, dunia perlu mengetahui konsep Tri Hita Karana yang dihidupi masyarakat Bali karena Bali yang akan menjadi tuan rumah International Monetary Fund (IMF) – World Bank Annual Meeting yang akan digelar pada bulan Oktober 2018 mendatang.

Pertemuan dengan Presiden Bank Dunia oleh para tokoh di Bali sudah dilakukan beberapa waktu lalu. Intinya, Bali meminta agar Tri Hita Karana masuk menjadi agenda sidang.

“Filosofi Tri Hita Karana inilah yang membuat Bali dikenal di mana-mana di dunia ini. Namun apa persisnya, para pengambil kebijakan perlu mengetahuinya, supaya menjadi paham kenapa Bali seperti ini. Filosofit ini sudah mengatur semuanya, dalam hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam sekitarnya dan manusia dengan sesamanya. Itulah tujuan pembangunan manusia sesungguhnya,” ujarnya di Denpasar, Rabu (11/7).

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menegaskan, selaku pribadi dan atas nama pemerintah setempat, dirinya menyambut baik penyelenggaran Sidang IMF dan World Bank di Nusa Dua Bali.

Baca juga :  Air Bah Meluap, Babinsa Banjarparakan Peduli Selamatkan Warga

Gubernur menyampaikan bahwa dengan mengedepankan dan memegang teguh filosofi yang dimiliki oleh masyarakat Bali yaitu TRI HITA KARANA yang merupakan tiga konsep yang menyebabkan kebahagiaan dan keharmonisan, maka Bali siap menyambut  pertemuan kelas dunia yang akan dihadiri oleh 189 negara di dunia.

Pastika mengaku sudah menjelaskan secara gamblang tentang Tri Hita Karana kepada Presiden Bank Dunia saat berkunjungan ke Bali pekan lalu.

Kepada Presiden Bank Dunia, Pastika menyampaikan hakikat ajaran Tri Hita Karana yang menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini.

Ketiga hubungan itu meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan Tuhan yang saling terkait satu sama lain. Setiap hubungan memiliki pedoman hidup menghargai sesama aspek sekelilingnya.

Prinsip pelaksanaannya harus seimbang, selaras antara satu dan lainnya. Apabila keseimbangan tercapai, manusia akan hidup dengan menghindari segala tindakan buruk. Hidup akan seimbang, tenteram, dan damai.

“Dengan konsep inilah, Bali terkenal dengan sebutan the island of God, the island of Paradise and the Island of Love.  Untuk itu saya berharap para delegasi dari berbagai negara nantinya dapat menikmati keindahan dan keharmonisan yang ada di Bali ini”, ujarnya.

Baca juga :  TNI-Polri Siap Membantu Pemkab Tangerang dalam Penerapan New Normal

Keseimbangan dan keharmonisan dengan Tuhan, sesama dan alam sekitarnya sebenarnya juga merupakan tujuan IMF dan World Bank secara tidak langsung.

Secara umum Pastika juga mengatakan bahwa dengan konsep adiluhung yang dimiliki oleh folisofi Tri Hita Karana maka diharapkan dapat dimasukan kedalam agenda pembahasan pada IMF-Annual Meeting 2018.

Menurutnya dengan menerapkan falsafah tersebut diharapkan dapat menggantikan pandangan hidup modern yang lebih mengedepankan individualisme  dan materialisme.

Membudayakan Tri Hita Karana akan dapat memupus pandangan yang mendorong konsumerisme, pertikaiandan gejolak. 

“Saya rasa hal ini sangat bagus diadopsi oleh negara-negara di dunia yang saat ini masih memiliki gejolak maupun pertikaian”, pungkasnya.

Ketika ditanya apa respon Presiden Bank Dunia, Pastika menjawab bahwa, Presiden World Bank Group Jim Young Kim menyampaikan terimakasih atas perkenalan konsep Tri Hita Karana tersebut. Menurutnya konsep ini sangat mengedepankan pentingnya toleransi untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis ditengah Negara yang damai.

Baca juga :  Pembangunan Apron Ngurah Rai Dikebut demi Kepentingan IMF

“Ia mengatakan, jika dirinya melihat Indonesia merupakan Negara yang memiliki toleransi sangat tinggi, dimana berbagai agama dan keyakinan bisa hidup berdampingan di dalamnya. Saya sangat kagum melihat hal ini,”  ujarnya.

Namun, dari seluruh konsep Tri Hita Karana tersebut, Presiden Kim 
melihat bahwa konsep hubungan manusia dengan lingkungan, saat ini menjadi ancaman untuk generasi penerus bangsa Indonesia. Salah satu contohnya adalah kondisi sampah yang belum tertangani dengan maksimal, seperti tempat yang Ia tinjau bersama rombongan adalah Hutan Mangrove yang terletak di daerah Suwung.

Menurutnya, kondisi hutan dengan sampah plastic dimana-mana yang merupakan bawaan dari laut, cukup memprihatinkan. Untuk itu ia berharap agar masyarakat mulai dari pemimpin desa agar bekerjasama dengan pemerintah untuk secara cepat menangani permasalahan sampah tersebut.

Disamping itu, ia menyampaikan bahwa World Bank akan bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia untuk menangani permasalahan sampah ini, terutama terkait permasalahan sampah plastic yang mulai mengancam lingkungan daerah-daerah yang ada di Indonesia termasuk pulau Bali. (Axelle Dhae)

Facebook Comments