DENPASAR, Theeast.co.id – Pemprov Bali sangat serius melakukan antisipasi terhadap wabah Korona. Selain menyiapkan empat rumah sakit rujukan dengan fasilitas lengkap dan dua rumah sakit yang akan diblok bila wabah menyebar massal, Pemprov Bali juga sudah menyiapkan stok masker berstandar yang segera disistribusi bila wabah melanda. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya mengatakan, saat ini Bali sudah memiliki stok masker yang cukup dan siap disebar bila terjadi isidental apa pun. “Saat ini kita siapkan stok sebanyak 300 ribu masker. Ini baru ada di Dinas Kesehatan Bali,” ujarnya di Denpasar, Selasa (3/3). Stok masker tersebut berstandar dan layak dipakai seperti masker bedah.
Namun menurutnya, masyarakat tidak perlu takut berlebihan terhadap Korona sebab bila tertular pun maka segeralah ke dokter atau rumah sakit terdekat. Korona itu 98% bisa disembuhkan. Tindakan memborong masker itu sangat berlebihan. Masker itu hanya digunakan bila berada di tempat umum atau sedang dalam keadaan batuk atau flu. Sebaliknya bila tubuh dalam keadaan sehat maka tidak perlu menggunakan masker. Apalagi sedang berada dalam kantor atau dalam rumah menggunakan masker itu hal yang berlebihan. Ia menjelaskan, bila dalam keadaan normal, masker hanya bisa dipakai paling lambat 6 jam dengan posisi bagian biru berada di luar dan warna putih berada di bagian dalam.
Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace menanggapi soal kelangkaan masker hingga menyebabkannya harganya meroket tinggi di Bali. Ia meminta pihak kepolisian segera mengambil tindakan tegas bila menemukan oknum menimbun masker atau bahkan menjual masker bekas. Masyarakat bila sudah memakai masker hendaknya untuk digunting. Karena, ditakutkan akan digunakan oleh oknum tertentu untuk dijual lagi dengan cara masker bekas itu dibersihkan dan kembali dijual. Sudah ada arahan Menteri Kesehatan RI, bahwa yang prioritas menggunkaan masker itu adalah mereka yang berpotensi bisa tertular atau yang sudah terjangkit virus corona atau Covid-19.
“Tentu yang pertama arahan dari Bapak Menteri kemarin dan hari ini yang menggunakan memang betul-betul mereka yang berpotensi. Baik yang berpotensi bisa tertular atau yang sudah indikasi kena virus ini. Ini yang diprioritaskan,” ujarnya.
Seperti yang diberitakan, Direktur Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Provinsi Bali, I Putu Armaya mengungkap pihaknya banyak mendapatkan pengaduan dari masyarakat dengan meroketnya harga masker dan juga kian langka. “Itu sudah banyak pengaduan konsumen di Bali. Mereka mengeluhkan karena sudah tidak ada lagi yang menyediakan masker. Artinya, di beberapa tempat penjualan masker yang dulu mereka gampang membeli sekarang alasan pedagang sudah habis. Kalau pun ada harganya pasti tinggi itu,” kata Armaya, saat dihubungi, Selasa (3/3).
Ia menerangkan, sebelum adanya virus corona harga masker di Bali berkisar Rp 25.000 per-boks. Kini harga masker mencapai dari Rp 250.000 hingga Rp 300.000. “Kalau kemarin yang menyampaikan harganya dari konsumen katanya sampai Rp250.000 hingga Rp300.000 per-boks,” imbuhnya. Selain masker yang mulai langka anti septik cuci tangan juga mulai langka di toko-toko modern dan warung-warung. “Tapi di beberapa toko tidak ada. Biasanya langganan dia (masyarakat) membeli di minimarket, di apotek itu sudah langkah. Bahkan di toko berjaring itu sudah langkah,” ungkapnya.
Armaya juga mengharapkan, kepada instansi terkait seperti Kementerian Perdagangan dan Dinas Perdagangan untuk melakukan pengecekan agar tidak ada penimbunan masker yang dilakukan oleh pedagang dan pelaku usaha nakal.
“Di Kementerian Perdagangan atau Dinas Perdagangan untuk turun melakukan pengecekan kalau memang harganya sampai melewati batas. Harus berani menegur dan berani menindak sesuai peraturan perundang-undangan,” tegasnya.
Menurut Armaya, bila hal itu tidak ditindak secara tegas akan terus berlanjut dan bisa saja harga masker semakin tinggi. “Bisa saja (berlanjut), artinya isu corona semakin merambat sudah mulai semakin panik katakan begitu. Jelas yang namanya maskernya akan menjadi komoditas yang boleh dibilang dipermainkan oleh oknum-oknum pedagang nakal di sana. Jangan salahkan kalau harganya semakin tinggi dan mencapai jutaan per boksnya itu,” tutup Armaya.(axelle dae).


