DENPASAR, The East Indonesia – Pandemi Covid19 ternyata tidak juga dijadikan alasan bahwa kasus HIV Aids di Bali menurun. Program Kemediaan KPA Bali Yuni Ambara mengatakan, sekalipun ada pandemi Covid19, jumlah penambahan kasus di Bali terus bertambah meski tidak terlalu signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Saat ini laporannya juga berubah karena pandemi Covid19. Sebelumnya misalnya perbulan kemudian mulai persemester. Namun trend peningkatan tetap saja naik sekalipun melambat. Begitu juga dengan unit pelayanan, saat ini memang sudah dibatasi baik jumlah maupun waktunya karena pertimbangan pandemi,” ujarnya di Denpasar, Rabu (23/3/2021).
Ambara menyampaikan, laporan peningkatkan kasus di Bali memang dirilis secara nasional. Data tersebut disampaikan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Namun diketahui, tren kasusnya tetap saja meningkat. Dari data Dinas Kesehatan Provinsi Bali, ternyata jumlah kasus itu secara kumulatif sebanyak 23.993 kasus di seluruh Bali per bulan September 2020. Kebanyakan virus ini menyerang usia produktif berkisar antara 15 sampai 45 tahun. Setengah dari usia produktif tersebut adalah usia remaja dan dewasa.
“Data ini merupakan sebagian kecil dari fakta yang sesungguhnya terjadi di masyarakat. Mengingat HIV sangat sullit dideteksi dan hanya bisa diketahui dengan tes darah, sehingga sering digambarkan dengan fenomena gunung es. Data ini menunjukkan betapa besar resiko yang dihadapi kelompok usia produktif saat ini, sehingga diperlukan kepedulian, keseriusan, dan tindakan yang nyata dari kita semua,” ujarnya.
Pihaknya berharap peran serta jurnalis dan media dapat terus memberikan informasi maupun edukasi yang tepat kepada masyarakat luas dengan tujuan mencegah berkembangnya kasus HIV dan AIDS khususnya di Provinsi Bali.
Sekretaris KJPA Rofiqi Hasan mengatakan, kasus HIV/AIDS di Bali sudah ditemukan di Bali pada tahun 1987. Sejak saat itu berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah dan menghambat penularan HIV karena besarnya ancaman virus ini. Namun demikian, pencegahan penularan belum juga bisa diatasi sepenuhnya dan setiap tahun masih terus terjadi tambahan kasus. Terlebih lagi disadari bahwa data yang tersedia sejatinya hanyalah bagian kecil dari fenomena gunung es.
“Media massa dan jurnalis mendapat tempat yang penting dalam upaya itu dan dari tahun ke tahun, lembaga Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) terus menggandeng pihak media untuk terlibat dalam upaya pencegahan penularan HIV. Media diharapkan dapat menempatkan berbagai isu strategis yang terkait dengan masalah ini, betapapun disadari bahwa media dan jurnalis bekerja dalam situasi yang dinamis sesuai dengan perkembangan berbagai isu sosial dalam masyarakat,” katanya.
Dikatakan, media massa dan jurnalis diharapkan menempatkan masalah secara proporsional dimana HIV dan AIDS sebagai masalah kesehatan sehingga cara pendekatan yang tepat adalah dengan pendekatan kesehatan.
“Sampai saat ini belum ditemukan obat yang dapat membunuh atau mengatasi penularan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh ini. Obat yang sudah ada baru sebatas Antiretroviral (ARV) yang dapat menekan jumlah virus sehingga orang yang hidup dengan HIV dapat beraktivitas secara normal,” ungkapnya.
Lanjut dia, penularan HIV dapat terjadi pada siapa saja, termasuk mereka yang perilakunya tak beresiko seperti ibu rumah tangga dan anak-anak. Karena itu, penanggulangan HIV semestinya dipandang sebagai upaya bersama untuk menyelamatkan masyarakat.***
Editor – Axelle Dhae


