Kominfo Ajak Jurnalis Cerdas Berdemokrasi dalam Pemberitaan

58
WEBINAR. Ajak Jurnalis Cerdas Berdemokrasi dalam Pemberitaan, Kominfo Gelar Webinar Series II di Bali

KUTA, The East Indonesia – Kementerian Komunikasi dan Informasi RI menggelar Webinar Series II dengan tema “Cerdas Berdemokrasi: “Jaga Berita, Jaga Cinta, Jaga Indonesia” di Bali, Kamis sore hingga malam (15/04/2021) di Kuta Bali.

Webinar kedua ini dibuka langsung oleh Dwi Dianingsih, S.Sos., M.Si., Koordinator Informasi dan Komunikasi Politik dan Pemerintah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Fitri Widyaningsih. Hadir dalam Webinar ini selain peserta melalui daring, juga ada sekitar 50-an wartawan dari berbagai media di Bali. Menurut Dwi, seminar seri pertama sudah digelar sekitar dua Minggu lalu di Kota Malang dengam peserta dari Universitas Merdeka Malang. “Untuk seminar kedua kali digelar di Bali.

“Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang demokrasi Pancasila di era pandemik covid-19 dan mendorong perubahan perilaku para awak media agar positif dan penuh cinta kasih dalam pemberitaan media massa untuk kerukunan masyarakat, bangsa, dan Negara,” urainya.

Baca juga :  Kemenparekraf Gelar Product Update Pariwisata untuk Pasar Australia

Webinar di Bali sendiri dipandu oleh Algooth Puranto, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie. Sementara narasumber yang ditampilkan adalah Prita Laura (Tenaga Ahli Madya Kedeputian Informatika dan Komunikasi Publik Kantor Staf Presiden), Mayong Surya Laksono (Anggota Dewan Pengawas LKBN Antara) , Heru Margianto (Redaktur Kompas.com) dan Dwitri Waluyo (Redaktur Pelaksana Portal infopublik.id). Diskusi berlangsung hangat namun seru.

Menurut Prita Laura, Webiner seperti ini sangat penting bagi KSP, karena bisa mendengar langsung isu penting yang ada di masyarakat sehingga bisa dilakukan monitor, evaluasi termasuk analisis data dan informasi strategis dalam rangka mendukung proses pengambilan keputusan.

Ia mengatakan, di era disrupsi digital saat ini membuat arus informasi begitu deras dan sulit terbendung. Alhasil tak sedikit hoax alias kabar bohong banyak beredar di masyarakat lewat berbagai saluran. Hal ini membuat peran media mainstream sangat diperlukan untuk menyampaikan fakta sesungguhnya. Ia menyebut, disrupsi digital telah memberikan ‘efek samping’ dalam beberapa hal, di antaranya muncul hoax dan disinformasi di tengah masyarakat.

Baca juga :  Bupati Badung: Idul Fitri itu Hari Kemenangan Jihad Akbar Melawan Hawa Nafsu

“Itu semua masuk ke rumah kita, pribadi kita, dan mendistorsi pikiran kita,” ujarnya. Maraknya hoax maupun disinformasi ini menjadi tugas media untuk meluruskannya. Prita Laura menegaskan, ketika informasi yang beredar di media sosial sulit dikendalikan, kuncinya ada di produk jurnalistik. Karenanya, jurnalis atau media dituntut tidak hanya sekadar mengejar kecepatan berita, namun juga mampu menyajikan informasi akurat. Hal ini penting sebab sering kali media cenderung mengutamakan kecepatan, namun melupakan akurasi data.

Ia juga meminta agar media mainstream harus mampu membangun optimisme masyarakat lewat pemberitaan yang disajikan. Terkait itu, seorang jurnalis dituntut untuk melakukan refleksi atas produk jurnalistik yang akan dihasilkannya. Media mainstream perlu membangun iklim demokrasi Indonesia yang sehat, cerdas bagi masyarakat.

Baca juga :  Rapid Test di Bali Diprioritaskan bagi ODP dan PMI yang Dikarantina

Sementara itu, Anggota Dewan Pengawas LKBN Antara, Mayong Suryo Laksono menyoroti pentingnya idealisme dalam menyajikan produk jurnalistik. Karenanya, prinsip-prinsip jurnalistik tetap harus dikedepankan, tidak boleh dilanggar. “Harus ada idealisme, ada prinsip-prinsip jurnalistik yang tidak bisa dilanggar. Kedepankan netralitas,” kata dia.

Penulis|Axelle Dae|Editor|Chris

Facebook Comments