Pengolah Limbah di Indonesia Perlu Sertifikasi Kompetensi

16
PELATIHAN. kegiatan ujian kompetensi pengolahan limbah organik menjadi pupuk organik yang dilaksanakan oleh Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Dharma Pertiwi Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung, Kabupatan Klungkung yang digelar selama 2 hari mulai mulai 30 April-1 Mei 2021. Foto : Tim

DENPASAR, The East Indonesia – Para pengolah limbah sampah di Indonesia baik perorangan maupun lembaga perlu memiliki sertifikasi kompetensi. Hal ini sudah menjadi trend dunia saat ini dimana setiap profesi didorong untuk memiliki sertifikat kompetensi. Termasuk salah satunya pengolah limbah organik menjadi pupuk kompos. Seorang pengolah limbah dapat dikatakan memiliki kompetensi jika telah melalui uji kompetensi. Hal tersebut terungkap dalam kegiatan ujian kompetensi pengolahan limbah organik menjadi pupuk organik yang dilaksanakan oleh Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Dharma Pertiwi Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung, Kabupatan Klungkung yang digelar selama 2 hari mulai mulai 30 April-1 Mei 2021.

Ketua Penyelenggara, I Ketut Darmawan, saat ditemui di Denpsar, Senin (3/5/2021) mengatakan, kegiatan pelatihan tersebut melibatkan para pakar dan profesi dalam bidang pengolahan limba menjadi kompos. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam membuat pupuk organik secara benar sesuai dengan standar atau prosedur operasional yang benar. Ujian ini juga sebagai dasar legalitas bagi peserta untuk memberikan transfer pengetahuan kepada pihak lain. “Karena syarat untuk bisa mengembangkan ilmu dan aplikasinya harus memiliki kompetensi dan sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga berwenang yang ditunjuk oleh pemerintah,” ujarnya.

Baca juga :  Bupati Belu Beri Kue Ulang Tahun Pada Peringatan HUT Bhayangkara Ke-74 di Polres Belu

Ia berharap peserta yang telah lulus uji kompetensi nantinya memiliki kemampuan mengembangkan dan menularkan pengetahuannya kepada masyarakat yang ada di lingkungan sekitarnya. Sertifikasi ini berlaku selama 3 tahun dan pemegang sertifikat wajib penyampaian laporan kegiatan pendampingan.

Bila dalam waktu tiga tahun tidak ada pendampingan terkait dengan pengolahan pupuk kompos maka sertifikat tidak bisa diperpanjang lagi. Laporan juga harus bersifat on the spot. Untuk ujian kompetensi kali ini diikuti oleh 20 peserta. Mereka berasal dari kalangan pemuda, mahasiswa bidang pertanian, pelaku pupuk organik dan juga anggota Kelompok Tani Ternak Satwa Winangun Desa Tangkas

Fasilitator kegiatan terdiri dari I Wayan Sulendra, tim asesor terdiri dari 2 orang yaitu Nyoman Oka Tridjaja, selaku Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Pertanian Organik (LPPSO) Badan Nasional Sertifikasi Profesi Jakarta (BNSP) dan Agus Yulianto selaku Wakil Direktur LPPO-BNSP.(Axelle Dhae).

Facebook Comments