Konferensi Blockchain Terbesar di Bali Sukses Menarik Perhatian Para Pemain Besar Kripto dari 15 Negara

28
Para pembicara dan tamu yang hadir dalam acara EVERPOINT. Foto : Ist

DENPASAR, The East Indonesia – The Renaissance Bali Uluwatu menjadi panggung bagi konferensi kripto terbesar di Indonesia yaitu EVERPOINT. Konferensi kripto terbesar di Indonesia yang diadakan sejak era pandemi Covid-19 ini diadakan dalam rangka memperingati 2 tahun lahirnya blockchain Everscale dan komunitasnya serta ambisinya untuk memperluas jaringan pasar di Benua Asia. Para pembicara dan tamu yang hadir dalam acara EVERPOINT tersebut membahas beberapa isu penting bagi industri ini, termasuk masa depan mata uang kripto dan blockchain di Indonesia, masa depan DAOs, dan potensi di balik CBDC dan gelombang baru stablecoins.

Acara ini menandai tahapan yang signifikan bagi Bali dan khususnya Indonesia karena acara ini merupakan acara kripto terbesar tingkat internasional yang diadakan sejak era pandemi Covid-19 berlangsung. Dalam dua tahun terakhir ini, Indonesia membuat kemajuan yang sangat pesat dalam industri kripto, yang ditandai dengan perkembangan infrastruktur serta lingkungan yang memadai serta hadirnya payung hukum yang menjadi solusi bagi projek blockchain di masa depan. Selain itu, Indonesia saat ini telah menjadi lokasi yang menarik bagi para pengembang teknologi dan pengusaha mata uang kripto dari seluruh dunia.

Saat ini, terdapat 18 mata uang asing kripto yang telah masuk dan beroperasi secara resmi di Indonesia dan terdapat beberapa instrument pendanaan kripto yang sedang proses untuk hadir di Indonesia. Eversclale, sebagai sebuah jaringan yang tak terbatas dengan ekosistem dan platform yang memadai, termasuk cross – chain bridge, native DEX (pertukaran yang ter-desentralisasi), wallets, dan lain – lain saat ini menjadi yang terdepan dalam perkembangan industri kripto di Indonesia, dan memilih Bali sebagai tempat perayaan ulang tahunnya sebagai salah satu bentuk perwujudan dalam memasuki pasar Asia.

Konfrensi kripto tersebut dihadiri oleh para pemimpin industri dari seluruh dunia, dan juga dihadiri oleh para pemimpin industri kripto di pasar Asia Tenggara, diantaranya Aditya Uozumi (Pendiri Masamune.io), Andry Suhaili (CEO x0swap.com), Henri Morgan Napitupulu (Pendiri IndoCoin Nusantara trust Ltd), Irvan Tisnabudi (Pendiri Coinstore.com), Fadzli Shah Bin Anuar (Pendiri MX Global), Kevin R Smith (CEO Pi Union Capital), David Pulis (CEO ZBX.com exchange), Sergey Dzhurinsky (Co-founder WARP Capital), Zehan Teoh (Senior Vice President Qatar Insurance Group), Pavle Batuta (CTO Moonstruck), Alexey Antonov (Direktur Algalon Capital), Young Sik Kim (CBDQ Xangle Bo), Vladimir Maslyakov (Pendiri Minergate), Kristina Lucrezia (Kepala Editor Cointelegraph), dan Vasily Smekalov (Everfund.gp).

Baca juga :  Persiapan GPDRR 2022, Tim PBB Lakukan Koordinasi Langsung dengan Pemerintah Indonesia di Bali

Akhir – akhir ini, isu seputar masa depan blockchain dan mata uang kripto menjadi topik popular dalam diskusi perkembangan ekonomi di Indonesia, dan isu tersebut juga tak luput untuk dibahas dalam konfrensi. Salah satu masalah utama terkait mata uang kripto yang terjadi di seluruh dunia adalah regulasi dan payung hukum yang berubah di beberapa negara. Karena alasan tersebut, Indonesia saat ini mulai mengembangkan dirinya menjadi “surga” atau tempat yang aman bagi industri kripto.

Dari perspektif regulasi atau payung hukum, terdapat 2 faktor yang menjadi fokus utama saat ini: yang pertama adalah regulasi seputar pembuatan aset digital, dan yang kedua regulasi pertukaran aset digital. Saat ini, regulasi untuk produsen asset digital relatif belum berkembang dengan baik, sehingga siapapun yang memiliki keinginan dan sumber daya yang mumpuni dapat menciptakan asetnya sendiri. Yang membantu saat ini adalah keinginan yang ditunjukan oleh pemerintah untuk bekerjasama membantu projek seperti ini, yaitu pendaftaran ke Kementrian Perdagangan dan Keuangan, serta pendaftaran lisensi ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Untuk pertukaran kripto yang memfasilitasi perdagangan asset digital, regulasinya saat ini sudah cukup berkembang dengan baik. Supaya dapat beroperasi dalam suatu negara, perdagangan kripto harus memiliki izin dan lisensi dari kementerian atau otoritas setempat.

Perkembangan regulasi yang baik di Indonesia membantu para investor yang ingin menginvestasikan aset digitalnya menjadi lebih mudah dan aman, sehingga hal tersebut membuat Indonesia menjadi lingkungan dan tempat yang menarik untuk memulai projek baru. Itu menjadi alasan yang tepat untuk melihat teknologi blockchain berubah dan berkembang tidak hanya sekedar menjadi instrument finansial dan pendorong dalam industri game, namun juga dapat terintegrasi ke industri real estate dan pengelolaan lahan, agrikultur, transportasi, e-commerce, dan sektor – sektor lainnya.

Baca juga :  Kemendikbud Selenggarakan Kegiatan Organisasi Kepemimpinan Jenjang SMP, Kuatkan Karakter Siswa

Para pembicara dalam konferensi ini juga membahas mengenai isu besar lainnya yang di hadapi oleh industry ini, yaitu komplikasi masalah ekologi yang di hasilkan oleh Bitcoin dan bagaimana teknologi blockchain dapat mengadopsi prinsip ESG (ekologi, social, dan prinsip tata Kelola perusahaan). Terdapat kesepakatan bersama yang di hasilkan oleh para pembicara bahwa perkembangan teknologi baru haruslah memiliki tujuan sebagai pemecah solusi yang cepat dan berkelanjutan, serta menjadi sebuah jembatan di antara blockchain yang nantinya akan tercipta ekosistem yang lebih terintegrasi di bandingkan dengan yang sudah ada sebelumnya.

Diskusi panel spesial ini di peruntukan untuk DAOs – Decentralized Autonomous Organization dengan topik yang diangkat adalah “DAO Funds : The Future of Interoperability”. DAO ini merupakan sebuah konsep yang baru yang dapat diperkenalkan kepada beberapa blockchain, antara lain Ethereum, Solana, Everscale, dan Polygon. DAOs dapat membuat komunitas menjadi transparan dan ter-desentralisasi dalam membuat keputusan.

“Struktur DAO masih dalam tahap pembentukan dan ada banyak tantangan dalam pembentukannya, namun masa depan sangatlah terbuka bagi kita yang mana ekosistem berbasis DAO ini menempatkan komunitas sebagai pusat dari setiap proses organisasi dan kehidupan”. Ucap Kristina Lucrezia Corner, Kepala Editor Cointelegraph.

Menurut Vasily Smekalov dari ever.fund GP. “DAOs telah mengizinkan para partisipan untuk berkolaborasi secara transparan dan mendistribusikan uang untuk tujuan tertentu. Kedepannya, system seperti ini sangat memungkinkan dalam membantu pemerintah untuk memberantas korupsi pada setiap tingkat.”

Perubahan-perubahan krusial telah terjadi pada finansial global dalam dua tahun terakhir, termasuk salah satunya adalah masalah koin digital oleh beberapa Bank Sentral Dunia. Untuk pertama kalinya di Bali, para ahli dari Eropa dan Asia bertemu secara langsung selama konferensi EVERPOINT untuk mendiskusikan permasalahan ini. Ada diskusi panel yang dikhususkan untuk membahas topik ini, dimana para ahli berdiskusi dan membahas mengenai apakah akan ada semakin banyak CDBC, dampaknya pada ekonomi global dan bagaimana mereka bisa berkompetisi dengan stablecoins.

Baca juga :  Menkomar Luhut Harapkan Direct Flight Bali-Banyuwangi Sebelum AM-IMF-WB 2018

Ini adalah beberapa pemikiran yang dibagikan dan dihasilkan pada saat konferensi:
Menurut David Pulis ZBX exchange, saat ini, ada 3 bank sentral yang telah meluncurkan mata uang digital secara resmi: Bahama, Karibia dan Nigeria, – tetapi tahun ini Britania Raya juga mengumumkan bahwa mereka mempertimbangkan untuk menciptakan Britcoin mereka sendiri. Jika hal ini terjadi, ini akan menyebabkan efek domino lebih jauh dan akan memberikan leverage lebih kepada pemerintah dalam mengontrol aliran uang.

Alexey Antonov, Direktur Investasi di Algalon Capital mengatakan bahwa “Sepertinya CBDC ada pada 2 pihak dimana mereka melayani dengan baik pemerintah dalam mencapai tujuannya dan juga orang-orang (masyarakat) dengan meningkatkan akses ke dana. Sistem seperti ini dapat membantu mencegah korupsi, tetapi juga dapat mengurangi peran bank tradisional karena CDBC menyediakan hubungan langsung antara masyarakat dan Bank Sentral.”

Pemimpin industri kripto dari lebih 20 negara datang ke bali untuk mendiskusikan tren industri dan tantangannya serta peluang yang disajikan khususnya oleh peluncuran Everscale blockchain di Asia ini. Untuk Indonesia, peluncuran ini menandakan bahwa negara ini akan secara resmi memiliki ekosistem dimana proyek kripto dapat diluncurkan menggunakan teknologi blockchain yang paling moderen dan yang paling cepat. Untuk membuka konferensi, para tamu disambut dengan program yang padat dan pesta pool party. Beberapa sponsor konferensi termasuk, WARP Capital, Valarus, HyperFlex, Pi Union dan BR Capital.**

Editor|Arnold Dhae

Facebook Comments