Friday, May 22, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Anak Tukang Genting Akhirnya Bisa Bekerja di Korea Berkat Program Kebekerjaan Luar Negeri Lulusan Vokasi

SURABAYA, The East Indonesia – Bekerja di luar negeri menjadi impian bagi banyak generasi muda. Melalui program kebekerjaan luar negeri yang dirintis Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), impian tersebut kian dekat bagi lulusan vokasi. Salah satunya adalah Muhammad Ogya As Syifa. Berkat program ini, anak tukang genteng ini kini bersiap bekerja ke Korea Selatan.

Muhammad Ogya As Syifa atau yang biasa disapa Ogya merupakan alumni SMKN 1 Tulungagung, Jawa Timur. Ia menjadi satu dari 3.000 lulusan SMK lainnya yang akan bekerja ke luar negeri melalui program kebekerjaan luar negeri di sekolahnya.

“Kalau Korea itu gajinya besar. Jadi, saya bisa mempersingkat waktu untuk mengumpulkan uang untuk mengembangkan usaha di kampung, beli tanah, dan membahagiakan orang tua,” kata Ogya yang ditemui saat acara Pelepasan 3.000 Lulusan SMK dan 600 Lulusan LKP Bekerja di Luar Negeri, Rabu (20/5), di Islamic Center Surabaya, Jawa Timur.

Ogya memang tak ingin berlama-lama di Korea. Baginya, ke Korea adalah sekadar mengumpulkan modal untuk mengembangkan usaha genting orang tuanya sudah cukup. Desa Ngranti, Boyolangu, Tulungagung, tempat asal Ogya, memang dikenal sebagai sentra industri genting. Orang tua Ogya adalah salah satunya. Mereka mewarisi usaha ini dari kakek neneknya.

“Dulu sebenarnya usaha bata, tapi ndak nutup, kemudian sekarang ganti usaha genting. Makanya, saya ingin bekerja ke Korea supaya bisa membantu ekonomi keluarga serta mengembangkan usaha itu,” ujar Ogya.

Apalagi, Korea dikenal dengan teknologinya yang maju. Ogya berharap ia bisa mengadaptasi teknologi dan sistem budaya kerja di Korea untuk mengembangkan usaha genting sang ayah nantinya.

“Saya dari keluarga sederhana. Saya ingin usaha genting orang tua saja bisa berkembang maju, menyerap banyak tenaga kerja sehingga bisa membawa manfaat bagi banyak orang di sini,” Ogya menambahkan.

Dari Panti Jompo sampai Cari Jodoh

Jika Ogya ingin mencari modal, hal yang sama juga dirasakan oleh Taufik Hidayat Febrian. Alumnus SMK Muhammadiyah 1 Kota Malang ini juga ingin bekerja demi mengumpulkan modal usaha. Taufik sendiri rencananya akan berangkat ke Jepang pada bulan Juli mendatang dan akan bekerja di sebuah perusahaan otomotif di Kota Kobe.

Secara ekonomi, Taufik memang tergolong dari keluarga kurang mampu. Kedua orang tuanya hanya petani penggarap dengan penghasilan tak seberapa. Bahkan, demi bisa sekolah, Taufik rela merantau sendirian ke Malang dan bersekolah di SMK Muhammadiyah 1 Kota Malang. Sekolah ini memberikan fasilitas asrama gratis bagi Taufik, biaya sekolahnya pun gratis.

“Kalau untuk alasan kenapa Jepang, tentu karena gajinya menjanjikan, aturan hukum tenaga kerjanya sangat baik. Di samping itu, ada semacam keterjaminan keamanan, tertib, dan menurut pengalaman kakak-kakak kelas sebelumnya, sesuai antara apa yang diberikan dengan yang dijanjikan dalam kontrak kerja ,” terang Taufik.

Rencananya Taufik akan bekerja di Jepang selama 10 tahun sebelum nantinya kembali dan merintis usaha dengan hasil jerih payahnya di Jepang.

“Mau buka usaha sendiri. Jadi pengusaha sukses. Dagang pokoknya biar sukses, biar orang tua bangga dan keluarga kami tidak diremehkan,” ujar Taufik.

Jika Taufik ingin membangun usaha dagang, lain halnya dengan Kurniawanto. Alumnus LKP Duta Mandiri, Tulungagung, Jawa Timur ini justru ingin membangun usaha panti jompo nantinya setelah kembali ke Indonesia.

“Jadi, cari modal dan pengalaman dulu di Jepang, kemudian kembali ke Indonesia bangun panti jompo. Itu impian saya karkena kan saya kerja di bidang caregiver,” ujar Kurniawanto.

Lain Taufik dan Kurniawanto yang sama-sama ingin kembali ke tanah air dan membuka usaha, Lovely Junero Berneza Lasut, alumnus SMKN 1 Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur ini justru ingin mencari pendamping hidup dan tinggal di Jepang bersama kedua orang tuanya.

“Inginnya bisa bekerja sambil kuliah di Jepang, kemudian menikah dengan orang Jepang dan bawa kedua orang tua untuk tinggal di Jepang,” kata Junero di acara yang sama.

Sejak masih SMP, Junero yang lulusan program keahlian Perhotelan ini memang sudah bercita-cita bekerja di Jepang. Oleh karena itu, ia gigih belajar bahasa Jepang sejak SMP.

“Saya masuk SMKN 1 Buduran karena sekolah ini memang alumninya banyak yang bekerja ke luar negeri. Kebetulan sekali ada program kebekerjaan luar negeri ini, jadi rasanya seperti mimpi yang terwujud,” Junero menambahkan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus) Tatang Muttaqin, menyampaikan bahwa bekerja di luar negeri bukan hanya sekadar bekerja, melainkan juga belajar untuk hidup mandiri di negeri orang. Oleh karena itu, Dirjen Tatang menekankan pentingnya kedisiplinan, termasuk dalam hal pekerjaan agar bisa survive bekerja di luar negeri.

“Ke mana pun kalian pergi disiplin, tunjukkan kompetensi kalian serta bawa dan jaga nama baik bangsa karena sesungguhnya kalian tidak hanya bekerja, tetapi juga duta bangsa,” kata Dirjen Tatang menyemangati.***

Popular Articles