Saturday, July 11, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Regenerasi Perajin Wastra Menguat, PKW Kemendikdasmen dan Dekranas Lahirkan Ribuan Pelestari Tradisi

MAKASAR, The East Indonesia – Di balik helai demi helai kain tradisional yang ditenun dengan sabar, tersimpan kisah lahirnya generasi baru pelestari wastra Indonesia. Melalui Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) hasil kerja sama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), anak-anak muda kini tidak hanya belajar menenun, tetapi juga membangun masa depan dari warisan budaya.

Potret ini hadir dalam Pameran HUT Ke-46 Dekranas di Makassar, Kamis (9/7), ketika sejumlah alumnus PKW mendemonstrasikan proses menenun wastra tradisional kepada para pengunjung. Mereka memperlihatkan bahwa keterampilan menenun dapat diwariskan lintas generasi sekaligus menjadi sumber penghidupan.

Sejak dimulai pada 2020, PKW Kemendikdasmen dan Dekranas telah melahirkan lebih dari 5.700 pelestari wastra melalui pendampingan Direktorat Kursus dan Pelatihan (Ditsuslat). Program ini menjadi bagian dari upaya memperluas layanan pendidikan nonformal berbasis kecakapan hidup dengan melibatkan jejaring Dekranas dan Dekranasda di berbagai daerah.

Direktur Kursus dan Pelatihan Kemendikdasmen, Yaya Sutarya, mengatakan kehadiran peserta PKW di pameran merupakan bukti nyata praktik baik pendidikan nonformal dalam melestarikan budaya. Harapannya, karya peserta semakin dikenal dan mampu menembus pasar yang lebih luas, termasuk pasar global.

“Hasil karya yang ditampilkan pada Pameran HUT Ke-46 Dekranas merupakan praktik baik dari Program PKW Kemendikdasmen dan Dekranas. Mereka adalah pelestari wastra yang dibekali keterampilan wirausaha,” ujar Yaya.

Salah satu kisah datang dari Wahyuni, alumnus PKW asal Dekranasda Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan. Ia memilih belajar menenun gebeng karena ingin ikut menjaga kain tradisional yang selama ini lebih banyak dikerjakan para penenun senior. Kini, ia mampu menghasilkan sedikitnya dua lembar kain setiap bulan dan menerima pesanan dari pelanggan.

Semangat serupa ditunjukkan Sinta. Berbekal pengalaman menenun songket sejak SMP, ia memperdalam teknik tenun gebeng melalui PKW, termasuk mempelajari pembuatan benang dengan pewarna alami. Hasil karyanya kini dipasarkan melalui marketplace dan platform media sosial membuka peluang usaha yang terus berkembang.

Bagi Wahyuni dan Sinta, PKW bukan hanya menghadirkan keterampilan baru, tetapi juga membuka jalan untuk mandiri secara ekonomi. Penghasilan dari hasil tenun membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus mendukung perekonomian keluarga. Dari tangan-tangan muda seperti mereka, wastra Indonesia terus hidup, berkembang, dan menemukan ruangnya di tengah perubahan zaman.***

Popular Articles