Friday, July 31, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Puluhan Musisi Jazz Internasional dan Indonesia akan Tampil di SUVJF 2026

UBUD, The East Indonesia – STHALA Ubud Village Jazz Festival 2026 yang telah  mendapat pengakuan luas akan kembali hadir pada 7–8 Agustus 2026 di STHALA Ubud  Bali, A Tribute Portfolio Hotel, menghadirkan dua hari pertunjukan jazz kelas dunia di salah  satu destinasi budaya paling inspiratif di Bali.

Didirikan pada tahun 2013, Sthala Ubud Village Jazz Festival merupakan festival jazz internasional  tahunan di Bali yang merayakan keunggulan musikal, keberagaman budaya, dan kolaborasi  artistik.

Melalui pertunjukan, program edukasi, dan keterlibatan komunitas, SUVJF sebagai  festival berbasis komunitas terus membangun hubungan yang bermakna antara komunitas  jazz Indonesia dan internasional.

Memasuki penyelenggaraan ke-13, Sthala Ubud Village Jazz Festival semakin memperkuat  reputasinya sebagai salah satu festival jazz paling bergengsi di Asia Tenggara,  mempertemukan musisi ternama dunia, talenta-talenta baru, serta pecinta musik dari  berbagai negara.

Dengan latar keindahan alam Ubud, festival ini menawarkan suasana yang lebih intim, di mana penonton dapat menikmati musik berkualitas tinggi, pertukaran budaya  yang bermakna, serta kolaborasi artistik yang tak terlupakan.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 menghadirkan jajaran musisi yang mewakili jazz kontemporer, straight-ahead  jazz, tradisi big band, pengaruh world music, hingga kolaborasi lintas budaya yang inovatif.

Foto bersama para narasumber dan panitia SUVJF 2026 usai Prescon di Cafe Terumbu, Sanur Bali (30/7). Foto : Dok – Chris

Para musisi tersebut antara lain, Pong Nakornchai Ensemble mempertemukan empat suara musik yang berbeda dari  Thailand, Indonesia, dan Amerika Serikat dalam sebuah proyek jazz kontemporer yang  berpusat pada komposisi pemain saksofon sopran Joe Rosenberg. Berakar pada improvisasi  kolektif dan interaksi ensambel yang peka, musik mereka berkembang sebagai narasi  berkelanjutan di mana melodi, ritme, tekstur, dan keheningan memiliki peran yang sama  penting. Proyek ini turut melibatkan Indra Gupta (bass) dan Michael Ananda (gitar).

Koko Harsoe, gitaris ternama Indonesia, akan tampil bersama SAN Trio, trio jazz fusion asal  Bali yang terdiri dari Savio (piano), Amos (kontrabas), dan Nara (drum). Dengan latar  belakang musik yang beragam, mereka mengeksplorasi jazz modern melalui improvisasi,  interaksi, dan ekspresi orisinal.

Dipimpin gitaris Belanda Jadi Peperzak, kuartet internasional ini mempertemukan pianis  Indonesia Kasyfi Kalyasyena, bassist Nepal Sulav Maharjan, dan drummer Belanda Rafael  Slors dalam proyek jazz kontemporer yang kaya akan komposisi liris, harmoni yang  mendalam, dan improvisasi kolektif. Proyek ini didukung oleh Erasmus Huis Jakarta.

H ZETTRIO menghadirkan warna unik dalam musik instrumental Jepang kontemporer.  Dikenal melalui ciri khas hidung berwarna mereka—biru untuk H ZETT M (piano), merah untuk  H ZETT NIRE (bass), dan perak untuk H ZETT KOU (drum)—trio ini terkenal dengan dialog  musikal yang enerjik, permainan piano yang memukau, groove yang kuat, serta presisi ritmis  yang tinggi.

Watchdog dari Prancis menampilkan Anne Quillier pada berbagai instrumen keyboard dan  Pierre Horckmans pada klarinet. Musik mereka memadukan komposisi dan improvisasi dengan perhatian besar pada tekstur dan lanskap suara. Penampilan ini didukung oleh AJC  (Association Jazzé Croisé) dan Institut Français Indonésie.

Simone Prattico Java Collective mempertemukan drummer dan komposer Italia Simone  Prattico dengan musisi jazz Indonesia Sri Hanuraga (piano) dan Kevin Yosua (bass). Musik  mereka menggabungkan pengaruh Mediterania, nuansa Jawa, dan improvisasi jazz  kontemporer dalam format trio yang dinamis.

Straight and Stretch Quartet, yang dipimpin oleh Yuri Mahatma (gitar) dan Astrid Sulaiman (piano), menghadirkan interpretasi unik jazz dalam spektrum yang luas. Dikenal melalui  penampilannya di berbagai festival besar di Indonesia, Eropa, dan Australia, kuartet ini  memadukan kecanggihan jazz dengan semangat keterbukaan. Pada kesempatan ini mereka  akan berkolaborasi dengan trombonis Jepang Masahiko Kitahara, vokalis jazz Indonesia  Dian Pratiwi, serta penyanyi dan penulis lagu asal Singapura Glen Wee yang akan  membawakan karya-karya dari album debutnya Sounds in the City yang dirilis oleh Warner  Music Singapore.

Salamander Big Band, salah satu orkestra jazz independen terlama di Indonesia, merayakan  hampir dua dekade perjalanan musiknya melalui formasi sekitar 27 musisi yang membawakan  repertoar swing klasik, karya big band kontemporer, serta aransemen orisinal.

Strings Corner Project menawarkan dialog musikal yang memadukan ekspresi flamenco,  improvisasi jazz, dan ritme Nusantara. Dipimpin oleh gitaris Adien Fazmail dan Icang  Rahimy, kelompok ini menghadirkan pertunjukan yang kaya akan interaksi melodi dan  eksplorasi ritmis.

Dengan suara yang hangat dan ekspresif, Dattie Do memadukan tradisi jazz dengan karya karya personal yang sarat cerita. Bersama gitaris Hoang Tung dari Hanoi, Vietnam, serta  musisi Indonesia Warman Sanjaya dan Sinuksma, mereka menghadirkan kolaborasi lintas  budaya yang dibentuk oleh improvisasi, ritme, dan dialog musikal.

Imelda Rosalin, vokalis, pianis, dan penulis lagu jazz Indonesia asal Jawa Barat yang dikenal  melalui musikalitasnya yang matang serta akar yang kuat dalam musik klasik dan jazz, akan  tampil bersama kuintetnya.

Legenda jazz Bali Dodot akan membawakan karya-karya orisinalnya bersama Wisnu  Priambodo (drum) dan Helmy Agustrian (bass).

Festival ini juga menghadirkan talenta-talenta baru dalam skena jazz Bali seperti LaDju dan  Michael Ananda Trio.

Sebagai bagian dari komitmen UVJF dalam mendukung regenerasi musisi jazz Indonesia  melalui semangat preservation of Jazzistry, tahun ini festival juga menampilkan Rason Trio serta JZ.KA Trio, yang menampilkan para musisi muda berbakat Indonesia.

Lebih dari Sekadar Festival Musik

Selain pertunjukan musik, Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 terus berkomitmen mendukung pertukaran artistik,  dialog budaya, dan perkembangan jazz di Indonesia maupun kawasan regional. Festival ini  menjadi ruang pertemuan bagi musisi dan penonton untuk terhubung melalui apresiasi  bersama terhadap kreativitas, keberagaman, dan bahasa universal musik.(red/rls)

Popular Articles