Sunday, August 2, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Hadapi Kemarau 2026, BPBD Belu Buka Layanan Call Center Darurat 24 Jam

ATAMBUA, The East Indonesia – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Belu meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hal ini seiring dengan wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk Kabupaten Belu, yang kini telah sepenuhnya memasuki musim kemarau.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Belu, drg. Maria Ansilla F. Eka Mutty, Sabtu, 1 Agustus 2026 mengungkapkan bahwa intensitas kejadian kebakaran mulai meningkat.

Salah satunya adalah peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Emaus Nenuk pada 27 Juli lalu.

Selain karhutla, beberapa kasus kebakaran rumah juga dilaporkan terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

“Penyebab kebakaran ini mayoritas dipicu oleh kelalaian manusia. Mulai dari lupa mematikan kompor, korsleting listrik, kurangnya pengawasan terhadap anak-anak yang bermain api, hingga aktivitas pembakaran sampah dan lahan. Kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan yang merembet ke lahan kering sekitar juga menjadi pemicu utama,” ujar Maria Ansilla.

Berdasarkan data BMKG dari Buletin Prakiraan Musim Kemarau 2026 di NTT, awal kemarau di 28 Zona Musim (ZOM) diprediksi telah dimulai sejak April 2026 dengan sifat hujan berada di Bawah Normal (BN).

Adapun puncak musim kemarau tahun ini diperkirakan baru akan terjadi pada bulan September 2026.

Jika dibandingkan dengan rata-rata 30 tahun terakhir (1991-2020), awal kemarau kali ini dinilai sama hingga mundur dari biasanya.

Kondisi kering yang ekstrem ini berpotensi membawa dampak buruk bagi masyarakat.

Dampak kekeringan yang mulai mengancam meliputi krisis air bersih, risiko gagal panen, kerusakan ekosistem, hingga gangguan kesehatan seperti dehidrasi dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan dapat memperparah polusi udara, merusak lingkungan, serta membahayakan jiwa maupun harta benda.

Menyikapi ancaman tersebut, BPBD Kabupaten Belu mengeluarkan lima poin himbauan penting bagi seluruh warga:

* Warga diminta menghemat penggunaan air bersih dan mematikan keran saat tidak digunakan. Masyarakat juga disarankan memanfaatkan kembali air limbah domestik yang masih bersih, seperti air sisa cucian untuk menyiram tanaman atau halaman.

* Melarang penebangan pohon di sekitar tempat tinggal hanya karena alasan malas membersihkan guguran daun. Warga diajak merawat pohon agar tidak membahayakan dan mulai menanam pohon baru sebagai pelindung dari angin, debu, sekaligus menjaga kesejukan udara.

* Memanfaatkan sinar matahari sebagai penerangan alami di siang hari agar menghemat listrik. Jika memungkinkan, warga didorong menggunakan perangkat energi surya penangkap sinar matahari untuk cadangan listrik malam hari.

* Menggunakan api dengan sangat hati-hati dan penuh pengawasan. Warga dilarang keras membuang puntung rokok atau benda mudah terbakar secara sembarangan, baik di dalam rumah maupun di area lahan terbuka.

* Jika melihat atau mengalami kejadian kebakaran, warga diminta segera menghubungi call center BPBD Belu di nomor 082266106808 yang siap siaga melayani selama 24 jam.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Belu, drg. Maria Ansilla F. Eka Mutty mengharapkan agar masyaraka dapat bekerja sama secara aktif dalam menerapkan langkah-langkah pencegahan ini guna meminimalisir dampak kerugian material maupun korban jiwa selama puncak musim kemarau berlangsung. (Ronny)

Popular Articles